Dalam kamus, versus atau vs. diartikan dengan in contrast to or as the alternative of, yang menunjukkan sepasang sesuatu yang berlawanan. Seperti collective versus individual, atau Objectivity versus subjectivity, atauStakeholder versus stockholder, dan masih banyak lagi. Saya sengaja tampilkan judul di atas, “Teknologi Versus Teknologi”, karena ada kandungan isi kata “teknologi” yang ingin disampaikan. Teknologi atau technology menurut Britanica, adalah the application of scientific knowledge to the practical aims of human life or, as it is sometimes phrased, to the change and manipulation of the human environment. Jadi lebih dari sekedar kata. 

Masyarakat “super” dalam penguasaan ilmu pengetahuan (sains), biasanya “super” juga dalam penguasaan teknologi. Atau sebaliknya, masyarakat yang tidak menguasa ilmu pengetuahuan, tentu tidak akan menguasai teknologi. Tanpa ilmu pengetahuan, teknologi tidak akan terlahir. Sama halnya, ilmu pengetahuan yang mandeg, tidak akan melahirkan inovasi teknologi. 

Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang bisa dirasakan tetapi tidak bisa diraba. Sementara teknologi bukan hanya sekedar rasa, tetapi lebih kepada kerja nyata, aplikasi yang membawa dampak kesejahteraan manusia. Dia bukan hanya teori dan hitungan angka. Usaha tidak boleh berhenti di tahapan penguasaan sains, tetapi harus dilanjutkan ke penguasaan teknologi sebagai aplikasi dari sains. 

Saya ingat, sebuah tantangan dari Sang Maha Pencipta: “Wahai sekalian jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan” [QS 55:33]. Jadi, pada manusia ada anugerah ilmu dan pengetahuan. (Tidak bermaksud menafikkan jin punya kekuatan serupa di dunia mereka.) Tetapi tantangannya adalah bagaimana anugerah tersebut dirasakan manfaatnya oleh manusia lain. Caranya, menelorkannya ke teknologi. Wacana saja tidak cukup, di situ perlu kekuatan.

Di Olimpiade Sains Junior Internasional (IJSO) ke-2 di Jogjakarta beberapa waktu lalu, pesain muda Indonesia telah meraih 6 medali emas dari total raihan 12 medali. Ini merupakan sebuah kebanggaan bangsa. Sama bangganya tatkala kontingen Indonesia hadir di pertemuan Nobel Laureates di Lindau, dan menghadirkan para ‘nobeler’ ke Jakarta beberapa waktu lalu.

Tetapi sekali lagi, penguasaan sains saja belum cukup. Harus ditambahi dengan tools, yaitu teknologi agar eksistensi sains dan kemanfaatan nyata untuk kesejahteraan umat bisa dirasakan. Teknologi yang menjembatani sains dengan kehidupan manusia.

Jadi ingat, ketika masih kanak-kanak menjadi penyerang di tim bola kampung, paling senang saya mengecoh penjaga gawang. Itu mungkin teknologi saya. Karena semua bisa bermain bola, dan bola sama bundar. Tetapi nasib saya jauh beda dengan Ronaldo atau Ronaldinho, pebola Brazil yang sukses bersepatu emas di klub Eropa. Semua klub punya strategi bermain, memiliki sains bermain, menguasai filosofi permainan. Tetapi strategi hanya menjadi strategi manakala tidak diimbangi dengan penguasaan teknik drible, takcle, shoot, dll. Pemilik teknologi tercanggih bermain di padang rumput lah pemenangnya.

Contoh lain adalah kecanggihan negara tetangga Thailand. Paling tidak, dalam satu bulan terakhir ini memenangkan pertandingan 2 kali di arena yang sama. Pertama, menang 1-0 dari Rusia. Kedua, menang 1-0 atas Indonesia. Semua di “lapangan rumput” jual beli pesawat dengan hasil pertanian. Pesawat tempur dengan buah-buahan. Pesawat angkut dengan beras dan kedelei.

Menurut saya, ini adalah sebuah kemenangan teknologi versus teknologi. Keduanya berbeda kontennya, antara teknologi pertanian dan teknologi dirgantara. Usaha yang dikeluarkan untuk menguasai teknologi pertanian mungkin berbeda besarannya dengan usaha untuk menguasa teknologi pesawat. Meskipun, dalam jual beli kedua teknologi tersebut, lebih tepatnya barter, nilai nominal antar keduanya sama. 

Contoh kasus jual beli pesawat di atas, Thailand untung dapat pesawat canggih dan sukses ekpor pertaniannya. Sementara Indonesia dengan terpaksa kalah dengan menerima beras dan kedelai, yang nota bene sama dengan impor (mematikan peluang ekspor) yang justru merugikan petani kita? (Beras hasil barter dengan pesawat dijual ke negara-negara Afrika.)

Saya dan anda pasti ingin Indonesia memiliki teknologi spesifik yang dibutuhkan pasar dunia. Teknologi spesifik itu tidak harus tercanggih melebihi kecanggihan Jepang atau Jerman. Tetapi teknologi spesifik yang dibutuhkan manusia, dibutuhkan pasar dunia, memiliki nilai ekonomi yang membawa kesejahteraan bangsa.

Sekiranya sekarang adalah kebangkitan Indonesia dalam penguasaan ilmu pengetahuan, maka para peneliti, teknolog dan industriawan harus sigap melahirkan teknologi-teknologi spesifik itu untuk menyambut pertarungan nyata teknologi versus teknologi berikutnya.