Ikan mas (Cyprinus carpio), merupakan jenis ikan konsumsi yang sangat populer. Lebih dari 10 strain ikan mas dapat ditemukan di Indonesia diantaranya adalah 1) punten, 2) majalaya, 3) domas, 4) kaca, 5) kancra domas, 6) sinyonya, 7) merah, 8) kumpai, 9) lokal, 10) rajadanu, 11) jogya, 12) kuningan, dsb. Permintaan yang tinggi terhadap jenis ikan ini serta antusiasnya usaha budidaya telah menyebabkan terjadinya pengembangbiakan antar strain yang tidak terkontrol. Kejadian ini telah berlangsung ber tahun-tahun dan akibatnya kualitas benih yang dihasilkan menurun, ikan mudah terserang penyakit, dalam satu stok ukurannya beragam, pertumbuhan lambat, kurang adaptif terhadap lingkungan dan hal-hal lain yang sering dikeluhkan petani budidaya ikan. Dengan kata lain, pada ikan mas telah terjadi penurunan genetik.

Teknik Triploidisasi dan Ginogenesis

Pemeliharaan ikan yang lebih cepat tumbuh ataupun lebih efisien dalam laju konversi pakan menjadi daging akan lebih menguntungkan secara usaha budidaya. Disamping itu penampilan ikan pada masa perkembangan gonad pada umumnya menurun sehingga mempengaruhi nilai jual.

Triploidisasi merupakan salah satu teknik untuk menghambat berkembangnya organ reproduksi, sehingga pertumbuhan ikan tidak terhambat karena energi metabolisme yang digunakan untuk perkembangan gonad dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pertum-buhan sel-sel somatik. Di negara maju teknik triploidisasi telah diterapkan pada beberapa jenis ikan terutama golongan salmonid dan flatfish.

Selain itu, untuk memperoleh hibrida-hibrida yang memiliki sifat unggul, diperlukan ikan-ikan yang bergalur murni sebagai bahan baku utama. Ikan-ikan bergalur murni dapat diperoleh dengan dua cara yaitu 1) seleksi dengan teknik sib-mating (perkawinan sekerabat) dan 2) teknik ginogenesis buatan. Pada teknik pertama, diperlukan waktu lebih lama untuk menghasilkan ikan bergalur murni yaitu lebih dari 10 generasi. Sedangkan pada teknik ginogenesis ikan bergalur murni dapat dihasilkan dalam waktu yang lebih singkat yaitu dua atau tiga generasi. Ginogenesis yang dimaksud adalah bentuk khusus dari parthenogenesis, dimana nukleus sperma yang masuk ke dalam telur dalam keadaan tidak aktif, sehingga perkembangan telur hanya dikendalikan oleh sifat genetik dari individu betina, atau dengan kata lain terbentuknya zigot tanpa peran material genetik gamet jantan.

Pengkajian teknik ginogenesis telah diterapkan oleh BPPT terhadap jenis ikan mas (Cyprinus carpio) pada strain majalaya, sinyonya dan punten. Sedangkan teknik triploidisasi pada ikan mas pada skala laboratorium ataupun skala terbatas telah dilakukan di Indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas individu ikan. Kedua teknik tersebut akan dipaparkan secara praktis dalam tulisan ini.

 

 

 

 Tahapan Kerja Teknik Triploidisasi

1. Rangsangan Pemijahan

Induk betina ikan mas strain tertentu yang siap bertelur dan beberapa ekor ikan mas jantan yang berbobot total sama dengan betinanya, dimasukkan ke dalam kolam pada sore hari. Sebelumnya, kakaban (dari ijuk) diletakkan di permukaan untuk merangsang induk melakukan pemijahan yang terjadi pada malam hari. Ikan betina dan jantan segera dipisahkan setelah ikan betina mulai mengeluarkan telur.

2. Proses Triploidisasi

Ikan mas betina ditempatkan pada bak plastik untuk mengeluarkan telur dengan cara mengurut perutnya. Sebanyak 20 g telur ditampung. Ikan mas jantan diambil spermanya (sebanyak 5 cc) dengan suntikan dan ditempatkan dalam tabung kaca. Kemudian diencerkan dengan larutan fisiologis (7,98 g Na Cl + 0,02 g NaHCO3 dlm 1 l aquadest). Sperma tersebut dicampurkan dengan telur. Larutan pembuahan (3 g urea + 4 g Na Cl dlm 1 l aquadest) ditambahkan dan diaduk menggunakan bulu ayam. Telur tersebut ditebar merata diatas lempengan kaca berukuran 10 x 20 cm sebanyak 5 lempeng. Tiga menit kemudian dimasukkan kedalam kotak styrofoam berisi air panas (40° C) selama 2 menit. Telur dipindahkan ke dalam akuarium yang berisi air yang telah diaerasi dan diberi beberapa tetes malakit untuk mencegah timbulnya jamur pada telur. Sehari kemudian telur yang mati (warna putih) dipisahkan dari yang hidup (transparan).

3. Perawatan Larva

Pada hari ketiga, telur akan menetas (suhu air 25-27° C). Larva hidup di bagian dasar akuarium. Secara teratur 1/3 bagian air diganti setiap hari. Larva dapat diberi naupli artemia setelah 2 – 3 hari. Seminggu kemudian pakan larva diganti dengan daphnia atau cacing yang dicacah halus. Larva dipelihara sampai berumur satu bulan sebelum dipindahkan ke kolam pembesaran. Ikan yang hidup adalah ikan mas bergalur murni.

Tahapan Kerja Teknik Ginogenesis

 

1. Rangsangan Pemijahan

Sama seperti pada teknik Triploidisasi, kecuali ikan mas jantan diganti dengan ikan tawes jantan.

2. Proses Ginogenesis

Ikan mas betina ditempatkan pada bak plastik untuk mengeluarkan telur dengan cara mengurut perutnya. Sebanyak 20 g telur ditampung. Ikan tawes jantan diambil spermanya (sebanyak 5 cc) dengan suntikan dan ditempatkan dalam tabung kaca. Setelah diencerkan dengan larutan fisiologis (7,98 g Na Cl + 0,02 g NaHCO3 dlm 1 l aquadest), dilakukan proses radiasi selama 2 menit (untuk membuat material genetik sperma tidak aktif) di dalam kotak yang di dalamnya terdapat 2 buah lampu ultraviolet 15 watt yang menempel di atasnya. Sperma tersebut dicampurkan dengan telur. Larutan pembuahan (3 g urea + 4 g Na Cl dlm 1 l aquadest) ditambahkan dan diaduk menggunakan bulu ayam. Telur tersebut ditebar merata diatas lempengan kaca berukuran 10 x 20 cm sebanyak 5 lempeng. Tiga menit kemudian dimasukkan kedalam kotak styrofoam berisi air panas (40° C) selama 1,5 menit. Telur dipindahkan ke dalam akuarium yang berisi air yang telah diaerasi dan diberi beberapa tetes malakit untuk mencegah timbulnya jamur pada telur. Sehari kemudian telur yang mati (warna putih) dipisahkan dari yang hidup (transparan).

3. Perawatan Larva

Sama seperti pada teknik Triploidisasi.

Pencarian artikel ini: