Pengolah batubara termodern Kaiserstuhl di Dortmund, Jerman, dibangun pada tahun 1992. Memakan waktu selama lima tahun dari perencanaan hingga pembangunannya dan menelan biaya sebesar 1,2 milyar DM (Deutsche Mark) dengan menggunakan teknik mutakhir.Sekarang sedang dibongkar, dimuat dan dikirim dengan kapal laut, untuk kemudian dibangun kembali di kota Jining propinsi Shandong di sebelah selatan China. Apa yang terjadi ?
Pengolah batubara termodern Kaiserstuhl di Dortmund, Jerman dibongkar, dimuat dan dikirim dengan kapal laut, untuk kemudian dibangun kembali di kota Jining propinsi Shandong di sebelah selatan China.
Hampir tiga tahun berlalu ketika batubara terakhir diolah di Kaiserstuhl. Sejak itu kedua kompor/(oven), yang masing-masing memiliki 60 bilik pembakaran, dimatikan dan pendingin kering untuk batubara yang membara, yang sangat terkenal sebagai paling ramah lingkungan, tak terpakai lagi. Meskipun demikian masih tercium bau menyengat dari ter dan benzol di udara yang mengelilingi kontainer-kontainer berwarna kuning. Disanalah tinggal kurang lebih 300 pekerja dari Cina, yang akan membongkar pengolah batubara tersebut.
Kaiserstuhl dahulu merupakan salah satu bangunan penting di daerah pengolah batubara Dortmund. Kaiserstuhl menyalurkan ampas batubara (coke) dan gas untuk pabrik baja Hoesch AG, yang akhirnya diambil alih oleh Friederich Krupp GmbH. Pada kedua daerah pengolah baja di Dortmund, “Westfallenhte”dan “Phonix” yang kepada keduanya disalurkan coke dari pengolah batubara Kaiserstuhl, bijih besi dilebur dan selanjutnya dibuat baja berbentuk lembaran atau bentuk lainnya. Meskipun melalui berbagai usaha untuk mengoptimasi, Kaiserstuhl tidak dapat berkompetisi dengan pengolah batubara yang berada di Duisburg, yang merupakan tetangga dari Dortmund. Akhirnya setelah dijual oleh Deutsche Steinkohle AG kepada Yankuang, pengolah batubara itu akan melanjutkan kehidupan keduanya di Cina.
Sampai akhir tahun depan Kaiserstuhl harus selesai dibongkar. Sebuah sejarah industri terbaru akan dibuat rata dengan tanah. Pengolah batubara ini dibangun pada tahun 1992 yang memakan waktu selama lima tahun dari perencanaan hingga pembangunannya dan menelan biaya sebesar 1,2 milyar DM (Deutsche Mark) dengan menggunakan teknik mutakhir.
Yang membanggakan pendirinya ¡¦Still/Thyssen dan C. Otto ¡¦pada waktu itu adalah “pendingin kering” untuk mendinginkan ampas batubara yang panas. Ketika batubara ditekan dalam oven, kemudian didinginkan dengan nitrogen cair sebagai pengganti air. Hal ini akan mengurangi debu dan hujan asam dalam jumlah besar, yang mana akan banyak diproduksi ketika menggunakan air sebagai pendingin. Tetapi “pendingin kering” ini membuat harga produk Kaiserstuhl menjadi mahal, sehingga ada istilah diantara orang-orang teknik “memotong mentega dengan sinar laser”
Sekarang pengolah batubara Kaiserstuhl itu akan didirikan kembali di Cina, untuk itu satu persatu sekitar 20.000 hingga 30.000 ton bagian-bagian pabrik dipindahkan ke Cina. Mereka (pekerja), dengan semangat dan ketekunan orang Cina, bekerja selama enam hari perpekan dan sepuluh jam perhari dengan upah tiga kali dari yang mereka dapatkan di negaranya. Pagi hari mereka keluar dari kontainer tempat tinggal menuju tempat pembongkaran, siang hari mereka kembali ketempat mereka untuk menikmati hidangan sesuai dengan resep masakan asal negeri mereka. Setelah itu mereka bekerja kembali hingga malam hari dan kembali ke kontainer masing-masing, yang berisi tiga buah tempat tidur dua lemari dan satu lemari pendingin. Untuk mandi dan WC berada di kontainer lain, begitu juga dengan ruang makan berada di kontainer yang lainnya. Mereka tinggal jauh dari keramaian kota. Didalam statistik kependudukan Dortmund mereka terhitung sebagai penduduk, akan tetapi mereka tidak pernah terlihat keberadaannya didalam kota Dortmund.
Bila pembangunan kembali di Cina berhasil tanpa hambatan yang berarti sebagaimana pembongkarannya di Dortmund, maka Perusahaan Tambang Yankuang mendapatkan sebuah teknologi yang elegan: 2 juta ton coke dapat dihasilkan setahunnya, begitu juga satu milyar kubik meter gas, 65.000 ton ter, 20.000 ton benzol dan 5.500 ton belerang cair. Semua itu memerlukan tenaga dari 500 pekerja, yang bekerja 3 shif dalam sehari.
Bagi penduduk Dortmund kegiatan pembongkaran ini tidak banyak diketahui. Hanya kadang-kadang jalan di blokir pada malam hari, ketika mobil angkut besar berjalan menuju dermaga. Dari pengolah batubara itu sendiri akan tetap berdiri dua buah cerobong asap besar sebagai lambang (landmark), yang pada malam hari menyala lampu-lampu merah, seolah-olah batubara masih diolah ditempat itu.



