Sektor pertanian masih menjadi tumpuan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Kegiatan pertanian pada daerah yang relatif masih kurang berkembang pada umumnya masih bersifat tradisional dan tidak berorientasi komersial. Kondisi ini merupakan cerminan dari rendahnya tingkat pendidikan dan jiwa kewira-swastaan petani. Upaya penerapan inovasi baru untuk memperbaiki kondisi petani sering pula terhambat oleh sikap mereka yang cenderung menghindari resiko (risk aversion). Hal ini lebih terasa pada daerah-daerah yang kondisi alamnya kurang menguntungkan seperti daerah lahan kering di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Mengingat hal tersebut di atas, maka penerapan teknologi bukan merupakan satu-satunya jawaban ampuh untuk memperbaiki kondisi petani. Karena penerapan teknologi mengandung beban dan resiko yang harus ditanggung petani, seperti beban penyediaan biaya investasi teknologi atau resiko kesulitan memasarkan produk yang meningkat. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka upaya penerapan teknologi haruslah disertai dengan upaya “rekayasa sosial”  dan ”rekayasa ekonomi” secara intensif.

Pilot Proyek Pengkajian Sistem Peternakan Terpadu pada Lahan Kering di Lombok Barat merupakan wahana untuk memadukan antara upaya penerapan teknologi pertanian dan rekayasa sosial ekonomi pada masyarakat setempat. Kegiatan ini dilaksanakan oleh BPPT bersama-sama Universitas Mataram dan Pemda Tingkat II Lombok Barat. Lokasi proyek di Amor-amor, Lombok Barat atau sekitar 57 Km dari Mataram kearah Timur Laut.

TUJUAN

Kegiatan ini bertujuan untuk merumuskan konsep penerapan teknologi peternakan secara terpadu dengan upaya perekayasaan sosial ekonomi masyarakat sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan sekaligus pelestarian lingkungan.

RUANG LINGKUP

Ada dua Kegiatan Pengkajian, yaitu :

  1. Pilot Proyek Percontohan, untuk mengkaji berbagai komoditi potensi untuk dicontoh dan dikembangkan oleh petani setempat
  2. Pembinaan kepada Petani Lahan Kering di kawasan Sekitar Pilot Proyek

Kedua kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan. Kegiatan pertama ditujukan untuk menemukan jenis-jenis komoditi potensial dan teknik budidaya yang dapat diterapkan kepada petani binaan. Kegiatan kedua ditujukan untuk merumuskan model perekayasaan sosial ekonomi yang dapat diterima petani dan mampu meningkatkan pendapatan petani dan sekaligus pelestarian lingkungan.

 

Gambar1. Kondisi lahan sebelum adanya Pilot Proyek Percontohan (1993).

 

 

Gambar 2. Petak-petak percontohan sebagai tempat uji coba berbagai jenis tanaman di Pilot Proyek.

PELAKSANAAN KEGIATAN

1. Pilot Proyek Percontohan Pertanian Terpadu

Luas lahan untuk pilot proyek sekitar 25 ha dengan kegiatan difokuskan untuk mengidentifikasi jenis komoditi potensi dan sistem budidaya yang efisien pada kondisi lahan kering. Selain itu pilot proyek berfungsi pula sebagai percontohan bagi petani yang ingin mengembangkan usahanya di lahan yang mereka miliki. Fungsi lain dari pilot proyek adalah untuk membina kegiatan usaha yang dikembangkan oleh petani di lahan kering seperti penyaluran permodalan dan pemasaran produk yang dihasilkan petani. Pada pilot proyek telah dikaji berbagai paket usaha tani lahan kering antara lain :

  • Penggemukan sapi potong sistem kandang; pemeliharaan kambing, ayam ras pedaging, dan ayam kampung.
  • Budidaya tanaman tahunan seperti mangga, nangka, kelapa, jeruk, pisang, dll;
  • Budidaya tanaman semusim seperti jagung, kedelai, cabe, terong, tomat, semangka, padi, kacang hijau/panjang, dll.

Di samping itu dilakukan pula pengkajian terhadap efisiensi penggunaan air untuk irigasi dengan menggunakan berbagai sistem, seperti: sprinkler, drip irrigation, sistem goyor, dll. dengan memanfaatkan sumur bor P2AT yang ada di lokasi sejak tahun 1995. Pilot proyek ini berfungsi pula untuk menampung kegiatan mahasiswa UNRAM dalam melakukan kegiatan penelitian tugas akhirnya.

2. Pembinaan kepada Petani Lahan Kering.

Kegiatan Penerapan Pertanian Terpadu kepada petani dilakukan dengan menyediakan fasilitas berupa kandang kolektif, saluran air dan bak-bak penampung air di sekitar pemukiman petani. Selain itu juga dilakukan penyuluhan dan pembinaan terhadap petani dengan membentuk kelompok tani. Dalam kegiatan ini telah dikembangkan paket pembinaan petani berupa :

  • Penyaluran paket kredit bergulir yang terdiri dari ternak sapi, bibit rumput raja, bibit tanaman keras (mangga, nangka) dan tanaman semusim beserta kebutuhan biaya hidup selama masa pemeliharaan;
  • Penyaluran paket pinjaman ternak sapi dengan sistem “kadasan”.

Kesediaan petani mengembangkan usaha di daerah terutama berkat dukungan pengembangan paket permodalan yang menggunakan sapi sebagai agunan. Pengembalian pinjaman diperhitungkan sebesar 50% dari selisih harga jual sapi yang telah digemukkan (sekitar 5 bulan) dengan harga beli sapi. Dengan pola ini petani merasa tidak diberatkan dan dalam waktu 6 periode pemeliharaan, petani telah memiliki sapi dan tanaman tahunan (mangga) yang dapat diandalkan sebagai penghasilan tetap mereka.

 

Gambar 3. Perbandingan kondisi tahun 1993 dan 1996 setelah melaksanakan Penerapan Pertanian Terpadu.

 

Pelaku

Kegiatan

Saprodi

Budidaya

Pemasaran

Instansi/Bank/

Swasta

- Bakalan Sapi- Ayam dara

- Bibit tanaman/ pakan ternak.

- Teknologi

 

Pembinaan/penyuluhan

Lombok

Luar Lombok

Petani-KUD

Pemakai

Penggemukan sapi

Penetasan/pembesaran

Perkebunan

Penampung

Langsung Pasar

Gambar 4. Model Pemanfaatan Lahan Kering oleh Petani, di Kecamatan Bayan, NTB.

 

 

                                                 model pemanfaatan lahan kering oleh petani.

Hasil dari pola binaan ini menunjukkan bahwa petani yang semula hanya mengandalkan sistem pertanian tadah hujan telah mulai mendiversifikasikan kegiatan usaha taninya ke sistem peternakan terpadu dengan komoditi andalan penggemukan sapi. Melalui kegiatan ini petani diperkenalkan pada teknik-teknik pengelolaan usaha yang tidak hanya mengandalkan satu jenis komoditi, tetapi bersama-sama dengan tanaman semusim (jagung, cabe, kedele,) atau tanaman tahunan (mangga, nangka).

Adanya pilot percontohan dan sekaligus binaan kepada petani ini, telah mendorong pihak Bank Pembangunan Daerah (BPD) setempat memberikan kredit kepada petani dengan bunga 14 % per tahun. Besarnya modal yang diberikan kepada setiap petani Rp. 5.000.000,-, dengan perincian Rp. 4.000.000,- untuk pembelian bakalan sapi, Rp. 500.000,- biaya hidup petani (supaya sapi tidak di jual kepada tengkulak sebelum waktunya) dan sisanya Rp. 500.000,- untuk keperluan lain-lain (pembuatan kandang, pakan ternak, pembelian bibit tanaman). Sejak 1996 pihak BPD telah memberikan kreditnya kepada 520 petani di NTB senilai 2,6 milyar.

Teknik pelaksanaannya, yaitu pihak Bank memberikan modal kepada petani untuk membeli bakalan sapi, membuat kandang, bibit rumput, bibit mangga, bibit nangka, dll., yang selanjutnya dikelola sesuai dengan Pilot Percontohan. Besarnya modal adalah Rp. 5.000.000,-/KK, dengan bunga 14 % per tahun dan jangka pengembalian 10 kali panen sapi (5 tahun). Hasilnya sebagian untuk mencicil kredit (secara annuited) dan sisanya dibelikan bakalan sapi lagi. Pola ini diselenggarakan dalam bentuk kerjasama dimana pihak Bank (Inti) dan Pembina menjamin sarana produksi (Saprotan) dan pemasaran, sedang petani sebagai pihak pengelola (lihat gambar 4).

Pencarian artikel ini: