Pendahuluan dan Manfaat
Dengan memanfaatkan sampah menjadi kompos, bukan hanya permasalahan lingkungan saja yang dapat ditanggulangi, akan tetapi produk kompos yang dihasilkan dapat pula membantu menjawab kelangkaan dan mahalnya pupuk anorganik di pasaran. Pengkomposan merupakan suatu proses biologis oleh mikroorganisme yang mengubah sampah padat menjadi bahan yang stabil menyerupai humus yang kegunaan utamanya adalah sebagai penggembur tanah karena pupuk kompos dapat memperbaiki sifat tanah dan kemampuannya dalam menyediakan unsur mikronutrien untuk tanaman, yang tidak dimiliki oleh pupuk mineral.

Peralatan dan Bahan

Sampah, Ruang Pengkomposan, Garu (alat dari bambu untuk memasukkan sampah), air, termometer kompos, air, kantung plastik kedap air atau karung.

Cara Pembuatan
Tahapan kegiatan yang dikerjakan dalam pembuatan pupuk organik dari sampah kota, khususnya pada plant pengkomposan Mranggen, proses produksi pupuk organik (kompos) mencakup tahapan-tahapan :

1. Pengangkutan sampah ke lokasi plant
Sampah kota dikumpulkan berkisar antara (5-7) m3 per hari. Terhadap sampah-sampah ini dilakukan kegiatan pelapakan dan sortasi bahan-bahan organik untuk dijadikan sebagai bahan baku proses pengkomposan. Residu yang merupakan sisa hasil pelapakan dan sortasi dikumpulkan dalam gerobak-gerobak sampah untuk dinaikkan ke truk melalui depo transfer. Dengan pengumpulan residu hasil sortasi pada gerobak-gerobak sampah, di sekitar depo transfer tidak terdapat timbunan sampah terbuka, dan mudah dalam proses pengangkutan dan mudah diangkut ke atas truk. Keberadaan depo transfer sampah pada lokasi yang menyatu dengan plant pengkomposan Mranggen sangat mempersingkat proses pembuangan residu dan memberikan jaminan terangkatnya seluruh residu hasil sortasi.

2. Sortasi Sampah
Tujuan sortasi sampah adalah untuk memisahkan sampah anorganik dari bahan-bahan lain yang tidak dapat dikomposkan. Sampah organik yang masih berbentuk memanjang seperti ranting dan batang pohon, terlebih dahulu dipotong-potong secara manual hingga mencapai ukuran ± 5 cm sehingga mudah dikomposkan. Sampah pertanian seperti cabang pohon dan ranting dipisahkan dari daun-daunnya.

 

3 Pembuatan Tumpukan

Sistem Open Windrow
Sampah organik yang telah disortir kemudian ditumpuk di ruang pengkomposan. Berdasarkan hasil rancangan disain plant pengkomposan, ukuran tumpukan memiliki lebar 2,5 m, dan tinggi 1,5 meter dan panjang sesuai dengan jumlah sampah organik yang tersedia. Pembuatan tumpukan dilakukan dengan menggunakan garu atau alat yang terbuat dari anyaman bambu. Sampah organik dari pelataran sortasi setiap kali dibawa dengan alat tersebut kemudian ditumpahkan di tempat pengkomposan dengan cara membalikannya. Tumpukan yang telah dibuat tidak boleh dipadatkan. Tumpukan berbentuk piramida terpancung dengan lebar atas sekitar 1 m. Sesuai dengan jadwal pembalikan kompos maka pembuatan tumpukan diselesaikan dalam waktu 7 hari. 

Sistem Bak Aerasi
Sampah organik yang telah siap dikomposkan dimasukkan ke dalam bak pertama. Untuk memasukkan sampah dapat digunakan garu atau alat dari bambu. Pada setiap pengisian, sampah diratakan dengan tanpa pemadatan. Pengisian bak dilakukan sesuai jadwal pembalikan, yaitu selama 7 hari.

4 Perlakuan
Yang dimaksudkan dengan perlakuan pada proses pengkomposan sampah organik adalah kegiatan-kegiatan : pembalikan, penyiraman dan pemantauan suhu.

Pembalikan
SISTEM OPEN WINDROW
Pembalikan tumpukan dilakukan dengan cara memindahkan tumpukan ke tempat berikutnya. Pemindahan tersebut dapat dilakukan dengan garu dan alat dari bambu seperti pada saat pembentukan tumpukan yang pertama kali. Pemindahan yang berfungsi sebagai pembalikan tersebut dilakukan 1 minggu sekali. Tempat kosong yang telah ditinggalkannya diisi dengan tumpukan sebelumnya. Proses pemindahan dilakukan sampai pemindahan yang ketujuh atau sampai pada tumpukan yang ke delapan. Pada setiap pembalikan/pemindahan tumpukan dapat dirasakan terjadinya penurunan volume sampah sebagai akibat dari berlangsungnya proses degradasi. Penurunan ini berlangsung secara cepat pada minggu pertama sampai minggu ketiga atau empat dan berangsur-angsur menurun hingga tercapai kondisi stabil pada minggu ke tujuh. Sampah yang dipindahkan pada tumpukan yang kedelapan sudah dapat dipanen sebagai kompos matang.

Sistem Bak Aerasi
Sama seperti yang dilakukan pada sistem open windrow, pembalikan sampah dilakukan dengan cara memindahkan tumpukan ke tempat berikutnya, dalam hal ini bak pengkomposan yang kedua. Pemindahan dilakukan seminggu sekali dengan cara yang sama seperti pada pengisian bak pengkomposan sebelumnya. Bak yang telah kosong diisi kembali dengan materi sampah yang baru. Pemindahan dilanjutkan ke bak berikutnya diikuti dengan pengisian kembali bak yang ditinggalkannya. Pemindahan dilakukan sampai bak yang kedelapan. Sampah yang dimasukkan pada bak yang kedelapan sudah dapat dipanen sebagai kompos matang. 

Penyiraman. 
Penyiraman dilakukan apabila sampah yang dikomposkan terlalu kering. Kadar air yang ideal dari tumpukan sampah selama proses pengkomposan adalah antara 50-60 % dengan nilai optimal sekitar 55 %. Penyiraman akan sering diperlukan apabila sampah yang dikomposkan kurang memiliki kemampuan untuk menahan air. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor atau selang air, dan dikerjakan sebelum pemindahan atau pembalikan tumpukan. Diusahakan penyiraman dilakukan merata ke seluruh bagian sampah yang dikomposkan. 

Pemantauan Suhu. 
Pengukuran suhu dapat dilakukan dengan termometer kompos yang memiliki tangkai sensor yang terbuat dari logam. Pertama-tama termometer ditancapkan ke dalam tumpukan sampah atau bak sampai sedalam 70-90 cm dan dibiarkan sekitar 15 menit sampai jarum penunjuk suhu posisinya tidak berubah-ubah lagi. Pada beberapa hari pertama pengkomposan, baik pada sistem open windrow maupun bak aerasi temperatur sampah bisa mencapai 60-70 °C. Suhu ini sedapat mungkin dipertahankan selama beberapa hari untuk membunuh bakteri-bakteri patogen dan bibit gulma. Jika tidak terjadi panas, kemungkinan proses pengkomposan tidak berjalan dengan baik. Hal itu bisa karena sampahnya terlalu basah atau terlalu kering atau rasio C/N -nya terlalu tinggi. Pada proses pengkomposan minggu ke tujuh (tumpukan kedelapan) materi dan temperatur kompos telah menjadi stabil pada suhu dibawah 50°C yang menandai selesainya proses pengkomposan.

5. Pengayakan
Maksud utama pengayakan adalah untuk memperoleh ukuran partikel kompos yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan. Pengayakan juga berfungsi sekaligus untuk memisahkan bahan-bahan yang belum terkomposkan secara sempurna dan memisahkan bahan-bahan yang tidak dapat dikomposkan yang lolos dari proses sortasi. Bahan yang belum terkomposkan secara sempurna dikembalikan lagi ke dalam tumpukan yang baru dan bahan yang lolos dari proses sortasi dibuang sebagai residu. Kompos dapat disaring dengan berbagai jenis ayakan seperti ayakan pasir, ayakan goyang, ayakan drum berputar dan ayakan getar. Besarnya lubang ayakan dapat bervariasi tergantung dari ukuran kompos yang diinginkan.

6.Pengemasan
Kompos yang telah diayak dikemas ke dalam kantung plastik kedap air atau karung.

Pencarian artikel ini: