Mendengarkan acara semalam di Metro TV berbincang sejenak bersama Menristek Ir. Hatta Radjasa, rasanya cukup menarik untuk dicermati. Mengingat banyak diungkapkan apa saja harapannya seputar peran dan kebijakan iptek di tanah air. Namun, tak lupa perlu juga untuk dicermati dan kritisi.
Dalam wawancaranya serta dialog interaktif dengan Metro TV semalam (18/10), Hatta mengungkapkan tentang pentingnya kesamaan persepsi yang perlu dibangun antara setiap LPND untuk membangun sebuah kebijakan teknologi, termasuk didalamnya teknologi strategis. Ia juga mengaitkan iptek yang saat ini dikehendaki adalah yang sejalan dengan langkah normalisasi kehidupan di Indonesia sehingga hasilnya ataupun out put dari riset dan penelitian dapat dikomersialkan di kalangan industri ataupun dapat dinikmati untuk IKM dan masyarakat umumnya.
Ibaratnya, Hatta mengajak kita bersama-sama untuk memikirkan kemana kita akan melangkah untuk menentukan kebijakan strategis nasional di bidang iptek yang disesuaikan dengan kondisi di tanah air.
Bila kita tengok kebelakang di zaman Habibie, kita melihat bahwa Habibie telah memiliki kebijakan strategi nasional yang jelas yang berbeda dengan negara lain. Meski pada akhirnya, obsesi habibie sempat mandeg karena kurangnya dana setelah kita melalui krisis yang berkepanjangan, namun di situ kita melihat satu arahan yang jelas yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh sehingga kita waktu itu mampu membangun dan memproduksi pesawat terbang, bahkan mengekspornya meski pernah hanya dibayar dengan beras ketan. Namun di sini kita melihat ada satu hasil dari kajian teknologi yang mampu menjadikan kita mempunyai ciri yang beda dengan negara lain. Kita akui, prestasi habibie membuat Indonesia dikenal di mata dunia dengan prestasi high technologinya.
Namun, saat kita membaca Jasktra Nasional (kebijakan strategi nasional) yang dibuat untuk masa sampai dengan tahun 2000, kita melihat begitu banyaknya bidang-bidang yang dibuat oleh KMNRT. dari pertanian ,energi, bioteknologi, manufakturing, ksehatan, kelautan, hingga masalah-masalah sosial yang bukan bagiannya pun ikut diurus untuk juga mendapat jatah penelitian yang sudah sedemikian kecil dana riset itu sendiri.
Sehingga dapat dibayangkan, bahwa semuanya menjadi fokus. Yang menjadi pertanyaan, mampukah kita melakukan semuanya dalam waktu yang demikian singkat ini, mengingat begitu banyaknya bidang-bidang yang menjadi kebijakan strategi nasional.
Ada saran dari salah seorang peneliti kita, agar kita memfokuskan hanya pada satu-dua hal, sehingga ada strategi iptek yang nantinya benar-benar dapat dirasakan masyarakat, pun kita punya sesuatu yang kita jual di era globalisasi dunia ini.
Sebagai contoh, masalah pangan, misalnya. Sampai saat inipun dibanding Thailand saja kita jauh tertinggal. Padahal ada departemen pertanian, BPPT, LIPI – juga ada kajian tentang hal ini. Namun, nyatanya sampai detik ini kita masih impor beras setiap tahun dan belum ada padi unggulan atau pun produksi yang meningkat agar dapat mencukupi kebutuhan pangan sendiri. Ironinya , sampai saat ini para petani masih mengeluh dengan mahalnya harga pupuk. Padahal, ini pekerjaan besar yang memerlukan koordinasi semua pihak dilingkungan LPND bila ingin serius memajukan pertanian kita. Keseriusan yang optimal, sehingga semua penelitian yang berhubungan dengan pertanian diarahkan serius untuk mengatasi masalah ini dan juga pihak yang terkait.
Ada lagi yang menyatakan, mengapa fokus kita hanya untuk memajukan teknologi IKM saja akhir-akhir ini?. Padahal, tak dibantu dengan teknologipun mereka tetap dapat hidup dan memperoleh keuntungan yang memadai?. Mengapa BPPT hanya memfokuskan mengkaji hal-hal seperti itu yang layaknya tak memerlukan high tecnologi?. Benarkah IKM-IKM itu pantas untuk menjadi kebijakan strategis nasional?. Demikian pertanyaan dari salah seorang peneliti kita.
Ia juga mengungkapkan, sampai detik ini migas tetap menjadi primadona dalam menyokong keuangan negara sejak repelita I. Bahkan pada waktu itu, pendapatan RAPBN dari migas mencapai 60%.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, mengapa samapi saat ini, urusan migas dari hulu sampai ke hilir tidak ada satupun yang mampu kita tangani?. Pertamina hanya sekedar tukang jahit. Semua teknologi yang kita perlukan di impor, bahkan sampai investornya. Pertamina cukup gembira dengan mendapat komisi yang besar. Kita dalam masalah migas., terlihat sekali ketergantungan yang besar pada investor luar, entah Amerika atau lainnya.
Untuk eksplorasi saja, alatnya pun kita tak mampu membuat. Padahal alat tersebut dari baja. Apakah produksi baja krakatau steel belum mampu untuk membuatnya?. sampai kapankah hal ini terus berlangsung?. Padahal, Pertamina juga mempunyai lembaga R&D. kemanakah R&D Pertamina?.
Ada yang mengusulkan bagaiamana kalau kita memfokuskan kebijakan strategis nasional kita pada pengembangan teknologi migas sehingga mengurangi ketergantungan kita yang besar pada negara-negara maju. Namun, siapa yang akan memulainya?.
Demikianlah sebagian komentar seputar dari apa yang disampaikan oleh Menristek. Menarik memang. Namun, Hatta juga mengatakan, kendala yang masih dirasakan saat ini adalah adanya jurang antara industri dan penelitian. nampaknya para industriawan masih enggan dan belum percaya dengan out-put hasil peneliti-peneliti kita.
Dan nampaknya, memang banyak sekali yang harus dibenahi. Meski begitu kita sebaiknya tetap optimis menatap masa depan.



