Strategi lompatan katak dalam pengembangan iptek dan industri bukan barang asing bagi bangsa kita. BJ. Habibie, mantan Presiden RI, memformulasikan strategi transformasi teknologi dalam empat tahap: (1) Lisensi, (2) Integrasi teknologi, (3) Pengembangan teknologi, dan (4) Penelitian dasar. Istilah lompatan katak secara khusus digunakan untuk menunjukkan betapa cepatnya dua negara, yakni Jerman dan Jepang, dalam mengejar ketertinggalan teknologi dan industri, hingga saat ini berhasil mendudukkan dirinya dalam deretan negara maju (Murphy, 2001). Di bidang teknologi energi, lompatan katak teknologi umumnya dipahami sebagai sebuah strategi negara berkembang untuk menguasai, menggunakan, dan mengembangkan teknologi hemat energi dan ramah lingkungan tanpa harus melalui tahapan-tahapan yang dilewati negara maju.
Konsumsi energi terbesar umumnya terjadi pada sektor transportasi, industri, dan rumah tangga. Leapfrogging teknologi energi perlu memperhatikan aplikasi pada ke-3 sektor tersebut. Pada sektor transportasi, cutting edge teknologi energi saat ini diantaranya adalah teknologi kendaraan hibrida (hybrid vehicle - HV), fuel cell vehicle - FCV, bahan bakar hayati (biofuel), dan sistem transportasi massal untuk penghematan energi.
Sedangkan sektor industri dan rumah tangga pada umumnya bergantung pada penyediaan energi oleh pemerintah, baik dalam bentuk listrik ataupun BBM. Penggunaan energi solar (photovoltaic ataupun termal), geothermal, biogas, dan angin adalah beberapa pilihan sumber energi ramah lingkungan yang bisa digunakan untuk menghasilkan listrik guna mendampingi penggunaan BBM. Biofuel, seperti minyak jarak, juga memiliki potensi besar untuk secara gradual mensubstitusi penggunaan solar di industri.
Beberapa contoh cutting edge teknologi energi
Kendaraan hibrida yang menggunakan kombinasi mesin bensin/solar/gas (internal combustion engine) dan motor elektrik saat ini semakin menjadi pilihan di berbagai negara maju. Penghematan energi pada kendaraan ini umumnya disebabkan oleh tiga hal berikut: (1) Regenerative braking yakni konversi energi pengereman menjadi listrik yang disimpan di dalam baterei,(2)Tambahan daya dari motor elektrik pada saat kendaraan berakselerasi dan melakukan manuver-sehingga ukuran mesin bisa ditekan, dan (3) Automatic start/shutoff yakni mesin akan mati secara otomatis pada kondisi idle (misalnya lampu merah) dan akan hidup secara otomatis pada saat diperlukan. Selain pada saat pengereman, secara umum motor elektrik mendapatkan pasokan daya dari mesin pada saat kendaraan beroperasi.
FCV banyak dipandang sebagai kendaraan masa depan; terutama bila sumber energi untuk keperluan produksi hidrogennya diperoleh dari energi terbarukan (seperti energi surya, angin, biomassa, dan sebagainya). Hidrogen bisa digunakan secara langsung di dalam mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) ataupun sebagai pembawa energi (energy carrier) untuk menggerakkan motor elektrik.
FCV adalah kendaraan yang berbasiskan motor elektrik yang menggunakan hidrogen sebagai pembawa energi. Dengan menggunakan teknologi seperti PEM (Proton Exchange Membrane), hidrogen hanya akan menghasilkan putaran motor elektrik dan air (H2O). Jacobson (2005), memperkirakan akan terjadi penurunan angka kematian lebih dari 6,000 orang per-tahun di USA bila seluruh kendaraan di negara tersebut beralih ke FCV. Namun pada saat ini FCV belum digunakan dalam skala luas dikarenakan masih mahalnya biaya produksi hidrogen, terutama dari sumber energi terbarukan. Berbagai riset terkait dengan hal ini masih terus berlangsung.
Penggunaan biofuel untuk mesin pembakaran dalam, baik mesin bensin ataupun mesin solar, adalah teknologi energi ramah lingkungan yang bisa segera diimplementasikan di Indonesia. Pada tahun 2005, jurnal Naturemelaporkan bahwa tingkat penggunaan bahan bakar ethanol di Brazil telah mencapai angka 40% secara nasional. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penggunaan bioethanol di Brazil berhasil menekan polusi gas CO2sebesar 12-18% per tahun (Rodriguez dkk, 1997; Gallagher, 2006).
Brazil memiliki kondisi alam yang sesuai untuk produksi bioethanol dari tebu, yakni ketersediaan lahan dan air yang cukup. Penggunaan ethanol yang berasal dari tanaman tidak menciptakan gas CO2 netto ke lingkungan, dikarenakan gas yang sama akan digunakan dalam budidaya bahan baku bioethanol. Salah satu strategi yang baik untuk beralih ke bahan bakar biofuel adalah dengan penggunaan FFV (Flexible Fuel Vehicle) kendaraan dengan keleluasaan penggunaan bahan bakar fossil fuel (bensin atau solar) dan biofuel.
Dukungan dan kesiapan pemerintah dan masyarakat
Pada saat menyoroti rencana implementasi leapfrogging teknologi energi untuk daerah pedesaan di Afrika Timur, Murphy (2001) menekankan bahwa upaya penggunaan sebuah teknologi energi mutakhir terbarukan (renewable) tidaklah bisa berdiri sendiri, namun harus memperhatikan aspek non teknis, seperti kondisi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat setempat.
Lompatan teknologi, dalam bidang apa pun, membutuhkan tingkat pengetahuan masyarakat dalam batas minimal tertentu. Tanpa adanya kemampuan masyarakat untuk menerima teknologi baru tersebut, maka apresiasi yang berkorelasi dengan adaptasi dan absorpsi terhadap teknologi baru ini akan sulit diharapkan muncul di kalangan masyarakat dan penyelenggara negara. Oleh karena itu, leapfrogging teknologi energi harus dibarengi dengan lompatan katak di bidang pendidikan dan kebudayaan.
Gallagher (2006) menyimpulkan terdapat 3 penyebab utama tidak maksimalnya leapfrogging teknologi energi yang dilakukan di China, yakni (1) Kebijakan pemerintah yang tidak strategis dan konsisten, (2) Kurangnya kemampuan teknologi domestik, dan (3) Kurangnya kemauan kuat dari perusahaan multinasional dalam transfer teknologi ke China. Faktor kemauan kuat pemerintah juga nampak jelas pada keberhasilan Brazil menggunakan bioethanol sebagai pengganti bensin. Mulyanto (2002) juga menyebut faktor kebijakan pemerintah Korea sebagai salah satu pendukung utama keberhasilan transformasi teknologi di Korea.
Oleh karena itu, dukungan penyelenggara negara (eksekutif dan legislatif), terutama dalam hal kebijakan (policy) strategis, sangat diperlukan dalam keberhasilan leapfrogging teknologi energi di tanah air. Bangsa kita pernah mencoba melakukan lompatan katak dalam pengembangan iptek dan industri di masa lalu-dengan segala keberhasilan dan kekurangannya; oleh karena itu, semoga kali ini sudah ada bekal wisdom bagi leapfroggingteknologi energi di tanah air.
Pencarian artikel ini:
- teknologi energi
- contoh teknologi ramah lingkungan dalam bidang energi
- iptek terhadap energi
- karya ilmiah teknologi hemat energi dan ramah lingkungan
- teknologi ramah lingkungan bidang energi
- keberhasilan teknologi energi
- keberhasilan iptek di bidang listrik
- kebijakan hemat bahan bakar biofuel
- lisensi dan lompatan energi
- lompatan katak energi



