Pendahuluan dan Manfaat

Dewasa ini, listrik telah menjadi salah satu kebutuhan penting bagi masyarakat, sejalan dengan semakin meningkatnya laju pertumbuhan penduduk dan kegiatan pembangunan di segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang semakin pesat tersebut, maka pemerintah bertekad terus meningkatkan program pembangunan prasarana dan sarana tenaga listrik untuk menjangkau wilayah yang lebih luas. Akan tetapi, dengan kondisi geografis wilayah Indonesia yang sangat luas dan terdiri dari beribu-ribu pulau dengan penyebaran penduduknya yang tidak merata; merupakan kendala utama untuk menambah jaringan distribusi pembangkit listrik PLN ke setiap pelosok tanah air. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila masih banyak dijumpai masyarakat di pedesaan, khususnya yang tinggal di daerah terpencil belum dapat menikmati listrik.

Menyadari permasalahan di atas, BPP Teknologi melalui UPT-LSDE telah mengembangkan dan menerapkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di berbagai wilayah pedesaan di Indonesia. Ada dua jenis Listrik Tenaga Surya yang dikembangkan oleh BPP Teknologi di berbagai daerah, yakni sistem sentralisasi (terpusat) dan desentralisasi (individual). Model sentralisasi digunakan untuk pembangkit listrik berskala menengah yang berfungsi untuk : menjalankan pompa air (di Picon), menjernihkan air payau/asin menjadi air minum, rambu-rambu laut (di Cituis), kulkas untuk menyimpan obat-obatan dan TV repeater. Sedangkan untuk skala kecil dikembangkan model desentralisasi yang untuk sementara ini baru dikembangkan untuk penerangan rumah tangga, radio dan TV (desa Sukatani, Banpres, 50MW).

 Dari hasil penelitian Sosial Ekonomi terhadap 3 desa kasus, diperoleh data :

Keberadaan PLTS diterima dengan baik oleh masyarakat setempat karena pengoperasiannya dianggap sangat mudah, tidak berisik dan yang utama menghemat pemakaian minyak tanah sebagai bahan bakar lampu tempel dan petromak serta penggunaan aki yang biasa mereka gunakan untuk menghidupkan televisi. Nilai manfaat (penghematan) yang diperolehnya rata-rata Rp. 4.295,- per bulannya yang berarti sekitar 4,7 dari total pengeluaran rumah tangga mereka setiap bulannya.

Kehadiran PLTS memberikan peluang bagi masyarakat setempat untuk meningkatkan nilai tambah, yakni berkembangnya industri rumah tangga (home industri) seperti : kerajinan bola dan warung. Walaupun baru terlihat pada pemanfaatan waktu dan kemudahan-kemudahan dengan adanya penerangan rumah tangga dan lampu jalan dari PLTS.

Dari segi sosial, budaya dengan adanya PLTS telah menyebabkan terjadinya perubahan perilaku masyarakat yang mengarah kepada pemantapan kehidupan keagamaan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah peserta maupun penambahan waktu kegiatan pengajian di madrasah dan mesjid. Di bidang pendidikan, PLTS memberikan manfaat bagi anak-anak usia sekolah untuk belajar dengan lampu penerangan yang lebih terang dan lebih baik.

Di sisi lain perubahan perilaku juga muncul terhadap penggunaan barang-barang elektronika, seperti meningkatnya pemilikan TV, radio dan tape recorder.

Secara ekonomis, perangkat Listrik Tenaga Surya saat ini memang masih mahal, karena komponennya (modul surya) sebagian besar masih diimpor. Namun demikian, keuntungan yang diperoleh apabila manggunakan listrik tenaga surya ini antara lain :

  1. Sumber dayanya murah dan mudah diperoleh karena potensi radiasi matahari di Indonesia cukup tinggi dan merata.
  2. Pengoperasiannya mudah dan tidak menggunakan minyak bumi, sehingga dapat menghemat pemakaian BBM serta tidak merusak lingkungan (bebas dari polusi udara dan suara). Tidak kalah pentingnya, apabila ada kerusakan pada salah satu PLTS ini, unit-unit lainnya tidak akan mengalami pemadaman total.

Penggunaan dan Pemilikan

Penggunaan Listrik Tenaga Surya ini sangat mudah seperti halnya kalau kita berlangganan listrik PLN. Perbedaannya terletak pada jaringan distribusinya. Kalau listrik PLN distribusinya secara sentral atau terpusat sedangkan Listrik Tenaga Surya ini bersifat desentralisasi atau individual. Sebagai contoh pada masing-masing rumah tangga dapat dipasang satu unit PLTS yang setiap unitnya mampu menyalakan lampu penerangan sebanyak dua titik lampu neon (10 watt dan 6) watt serta dapat menghidupkan Televisi (14 inch) dan Radio Kaset (12 volt).

Untuk memilikinya, masyarakat bisa membelinya secara tunai dengan harga sekitar Rp. 1.100.000,- (harga sebelum krisis moneter) atau secara kredit melalui koordinasi dari lembaga pengelola yang ditunjuk seperti KUD, LKMD atau Karang Taruna. Kemudian BPP Teknologi yang akan menentukan Perusahaan pemasoknya dan Bank yang akan menjadi penyandang dananya.

Pencarian artikel ini: