Menurut Deputi Kebijakan Riptek, Menristek, Dr. Agus hartanto, ini mengatakan, kondisi kemacetan lalu-lintas di Jakarta merupakan salah satu hal yang menyebabkan pemborosan ataupun tidak efisiensinya penggunaan BBM yang dibuang secara percuma.
Menurutnya, bila kondisi pemakaian BBM masih seperti ini (meningkat terus seiringnya banyaknya mobil), maka di tahun 2010, Indonesia tidak lagi bisa ekspor, dalam pengertian tidak lagi mendapat kelebihan harga dari selisih ekspor dan impor. Sementara gas diperkirakan akan habis pada tahun 2040.
Agus Hartanto menjelaskan, salah satu langkah yang jelas bisa dilakukan adalah efisiensi dalam pemakaian BBM. Ia mencontohkan Amerika yang telah mengadakan riset dan penelitian tentang efisiensi, baik di kalangan rumah tangga atau industri. Di Amerika, saving energi dengan efisiensi ini bisa mencapai lebih dari 25%. Jadi, hasilnya adalah signifikan sekali bila efisiensi energi dilakukan.
Selain itu juga sebetulnya sudah saatnya layak ada subway untuik mengurangi kondisi traffic jam di, terutama di Jakarta. Karena hal ini berdampak pada efisiensi terkurasnya BBM pada kondisi kemacetan lalu-lintas.
Selain itu juga ia melihat belum adanya hubungan yang bagus antara Pemda dengan mahasiswa. Ia mencontohkan Jepang yang perhatian dan mengadakan riset serta analisis tentang masalah efisiensi ini dengan melibatkan mahasiswa yang mengadakan kerjasama dengan Pemda setempat untuk menghitung kepadatan lalu-lintas di sana. Menurutnya, hal itu juga bisa dilakukan di Indonesia, bahkan untuk analisisnya. Sehingga terlihat keseriusan dalam memperbaiki kondisi ibukota negara, yang wajahnya semakin tak keruan ini. Demikian Dr. Agus Hartanto.
Sebenarnya masalah subaway ini, di zaman Orba dulu – Jepang telah tertarik untuk invest di bidang ini tanpa Indonesia mengeluarkan uang sepeserpun. Sayangnya, pejabat pada saat itu menolak jangka waktu 40 tahun yang diberikan Jepang untuk mengembalikan uangnya. Dengan kata lain setealh 40 tahun, menjadi milik bangsa Indonesia. Mereka meminta setidaknya sekitar 25 tahun. Akhirnya, karena pihak klita keberatan, rencana itu tertunda sampai sekarang. Dan dalam kondisi Indonesia yang seperti ini, pengembalian dengan jangka waktu 70 tahun pun, investor belum ada yang mau. Jadi, nampaknya efisiensi memang yang harus diutamakan dulu karena nampaknya rencana subway masih kelihatan mimpi saat ini.



