“Makanlah obat sesuai petunjuk dokter”. Saran ini cukup baik untuk kita ikuti selama dalam perawatan karena sakit dan mengkonsumsi obat. Hal ini bertujuan untuk menghindari over dosis konsumsi obat atau bahkan pada kasus-kasus tertentu obat tersebut dapat mengakibatkan mikroorganisme penyebab penyakit menjadi resisten terhadap obat-obatan.
Ilmuwan-ilmuwan gabungan dari Inggris dan Vietnam, di dalam The New England Journal of Medicine, tanggal 22 Desember 2005, mempublikasikan penemuan terbarunya tentang kasus resistensi virus flu burung terhadap oseltamivir, satu-satunya bahan aktif obat yang dianggap cukup ampuh mengatasi flu burung saat ini. Virus yang resisten ini ditemukan pada isolat virus dari contoh darah seorang anak gadis yang teserang flu burung dan menjalani terapi dengan oseltamivir. Sementara pada contoh darah ibunya, yang meninggal akibat penyakit tersebut dalam keadaan belum sempat diobati intensif, tidak ditemukan resistensi virus tersebut (1).
Menurut hasil penelitian tersebut, resistensi virus ditandai dengan adanya substitusi asam amino pada neuroaminidase. Neuroaminidase diketahui merupakan sebuah enzim antigen yang terdapat di permukaan virus flu burung. Substitusi asam amino ini menyebabkan virus lebih tahan terhadap oseltamivir.
Neuroaminidase Inhibitor
Oseltamivir bekerja dengan mekanisme ‘neuroaminidase inhibitor’ sebagaimana yang pernah disinggung di dalam beritaiptek.com 29/9/2005 (Pertanyaan Seputar “Flu Burung” Bagian Ketiga, Red.). Neuroaminidase inhibitor bekerja dengan menginterfensi mekanisme pelepasan virus-virus baru dari sel-sel yang terinfeksi (menghambat replikasi perbanyakan virus) (2).
Pada awalnya, obat dengan mekanisme neuroaminidase inhibitor ini diperuntukkan mengatasi varian-varian dari virus flu pada umumnya yang menyerang manusia (3,4,5). Akan tetapi kemudian ditemukan cukup mampu menghambat pertumbuhan virus flu burung yang letal sejenis H5N1 dan H9N2 yang menyerang tikus (6). Akhirnya obat ini dapat dipergunakan pula untuk terapi penderita flu burung.
Selain oseltamivir, juga dikenal bahan aktif obat yaitu zanamivir yang bekerja dengan mekanisme sama sebagai ‘neuroaminidase inhibitor’ untuk mengatasi penyakit flu. Akan tetapi obat ini tidak sepopuler oseltamivir dalam mengatasi kasus penyakit flu burung, karena diproduksi dan dipasarkan dalam bentuk inhaler. Selain itu pula dikenal obat dengan mekanisme ‘M2 inhibitor’ untuk mengatasi penyakit flu biasa, misalnya bahan aktif obat amantadine dan rimantadine.
Bukan Kasus Resistensi yang Pertama
Resistensi virus flu berbahan aktif obat dengan mekanisme ‘neuroaminidase inhibitor’ dan ‘M2 inhibitor’ ini bukanlah kasus yang pertama ditemukan. Sebelumnya pernah terdeteksi pada 4% pasien flu biasa yang mengkonsumsi neuroaminidase inhibitor oseltamivir, adanya mutasi virus flu tersebut menjadi lebih resisten (7). Demikian pula pada 80% anak-anak pasien flu biasa yang mengkonsumsi M2 inhibitor amantadine ditemukan kasus resistensi virus yang serupa (8).
Jadi meskipun merebaknya kasus flu burung di tanah air sempat menimbulkan kepanikan, sebaiknya kita tetap waspada untuk tidak sembarangan meminum obat yang seharusnya dikonsumsi berdasarkan petunjuk dokter. Tentu saja hal ini demi menjaga seandainya terserang penyakit, tidak menjadi lebih parah akibat resistensi virus atau penyebab penyakit lainnya.
Referensi:
(1) de Jong, MD., dkk. 2005. Oseltamivir resistance during treatment of influenza A (H5N1) infection. N. Eng. J. Med., 353(25):2667-2672.
(2) Musconna, A. 2005. Review: Drug therapy; Neuraminidase Inhibitors for Influenza. N. Eng. J. Med., 353(13):1363-1373.
(3) Hayden, FG., dkk. 1999. Use of the oral neuraminidase inhibitor oseltamivir in experimental human influenza: randomized controlled trials for prevention and treatment. JAMA, 282(13):1240-1246.
(4) Treanor, JJ., dkk. 2000. Efficacy and safety of the oral neuraminidase inhibitor oseltamivir in treating acute influenza: a randomized controlled trial. JAMA, 283(8):1057-1059.
(5) Whitley, RJ., dkk. 2001. Oral oseltamivir treatment of influenza in children. Pediatr. Infect. Dis. J, 20(2):127-133.
(6) Govorkova, EA., dkk. 2001. Comparison of efficacies of RWJ-270201, zanamivir, and oseltamivir against H5N1, H9N2, and other avian influenza viruses. Antimicrob. Agents & Chemother., 45(10) 2723-2732.
(7) Gubareva, LV., dkk. 2001. Selection of influenza virus mutants in experimentally infected volunteers treated with oseltamivir. J. Infect. Dis., 183:523-631.
(8) Shiraishi, K., dkk. 2003. High frequency of resistant viruses harboring different mutations in amantadine-treated children with influenza. J. Infect. Dis., 188:57-61.



