Kota yang dikenal sebagai Arts and Music city ini kenyataannya memang mencerminkan sebutannya itu. Belum lagi singgah di kota seni yang terletak di jantung eropa barat ini, penulis sudah bertemu dengan seorang Austrian saat bertolak dari Kuala Lumpur menuju Vienna. Di sinilah pertama kali penulis tahu bagaimana cara menyebut Vienna yang dalam bahasa Jerman (yang juga menjadi bahasa nasionalnya Austria) ditulis dengan Wien. Vienna atau Wien ini disebut dengan Vhi-e-na, akan lebih fasih kalau diucapkan dengan aksen Jerman yang kental.
Perjalanan 12 jam lebih KL ¡¦Vienna diawali dengan perkenalan seorang Austrian, tetangga duduk di pesawat. Seorang bapak tua sekitar 60 an yang mengaku not good in english ini setelah lama berbincang ternyata seorang meditationist alias tukang meditasi yang mengaku bisa mengetahui alam gaib. Mungkin tidak jauh dengan dukun kalau di Indonesia. Dengan gaya peramalnya ternyata tingkah si Bapak ini tidak henti hentinya mempromosikan ilmu perdukunan yang katanya relatif cukup banyak menjangkiti masyarakat Austria. Akhirnya sang Bapak berhenti juga setelah penulis tertidur. Setelah selesai dari imigrasi dan seperti biasa mendapat perlakukan khusus sebagai bagian dari negara yang disebut oleh Barat sebagai sarang teroris, akhirnya iklim Vienna yang dingin bisa dinikmati. Kota peninggalan kerajaan Harsbury ini agaknya memang bukan type ibukota negara besar dan maju. Tingkat kebersihannya jelas kalah dibandingkan Tokyo, apalagi kalau dibandingkan dengan jumlah kepadatan penduduk yg rendah mestinya kota ini bisa lebih bersih atau minimal sama dengan Tokyo. Toh kenyataannya kota ini biasa saja. Sistem tiket kereta, tram atau bus nya juga masih mengandalkan kesadaran ketimbang adanya sistem yg baik semodel Tokyo. Meskipun begitu tentu masih jauh lebh baik dari ibukota tercinta Jakarta.
Vienna dan kota Austrian lainnya memiliki kebiasaan yang unik. Austria yang sangat mengandalkan pariwisata sebagai sumber pendapatannya setelah bisnismoney laundry ternyata seluruh tokonya harus tutup untuk hari sabtu dan ahad serta hari libur. Seorang Indonesia yg lama di Vienna menceritakan kelompok sosialis pro buruh sangat kuat di sini yang menyebabkan undang undang utk menutup toko bisa diberlakukan di hari hari tersebut. Aneh memang di saat seabreg turis berkeliling kota, justru toko-toko harus tutup. Mungkin bisnis money laundry yang konon kedua terbesar setelah Swiss sudah mampu mencukupi kebutuhan negeri ini.
Di Conference IEEE Sensors 2004
Setelah selang sehari tiba di Vienna, pembukaan conference IEEE Sensors 2004 yang diselenggarkan di Technical University of Vienna itupun saya hadiri dengan seperti biasa, mencari-cari rekanan yang bisa diajak berbincang. Profesor saya ternyata menjadi orang pertama yang saja ajak bicara karena hampir semua peserta sibuk dengan koleganya masing masing. Yang mengejtukan, saya bertemu dengan senior saya sesama almuni Lab Bahan di Teknik Fisika ITB dulu yg juga sedang mengambil PhD di Delft. Kita yang dulu pernah sama sama ngobrol tentang rencana membangun sensor center di ITB akhirnya banyak bicara tentang perkembangan ITB. Dari mulai sang Rektor yang jadi Menristek sampai kegiatan di lab yang tak kunjung ada kemajuannya. Saat welcome party di Gusshausestrasse di gedung utama universitas yang melahirkan imluwan Doppler ini, saya coba searching beberapa professor yang biasanya berkiprah di sensor kimia, bidang yang saya tekuni saat ini. Saya hanya dapati Prof. Sbevegliery dari Brescia, Italia. Tetapi kali ini tidak relatif hanya dengan 2-3 orang tim risetnya, tidak seperti biasanya yang banyak membanwa Italiano sensori (para pegiat sensor), dia relatif hanya sendiri. Kemudian saya juga sempat melihat professor dari US yg saya sudah lupa namanya yg dulu sempat bertemu di Tsukuba. Lainnya relatif belum saya pernah lihat. Bahkan Prof Shimizdu dan tiim nya dari Nagasaki University yang sedang naik daun karena kepiawainannya membuat nano porous metal oksida untuk bahan sensor juga tidak tampak. Terlihat memang komunitas IEEE Sensor agak berbeda dengan komunitas sensor kimia, tempat yang biasanya saya terlibat.
Acara pembukaan diawali dengan presentasi dari Prof Lina Sarro dari DIMES Delft. DIMES di Delt ini merupakan pusat sensor yang kesohor karena cukup mumpuni membuat sensor dari laboratprium scale menjadi industrial scale. Beliau menguuraikan kondisi meeting kali ini yang katanya cukup banyak diminati oleh pegiat sensor. Total paper yang masuk berjumlah 830 dari 50 negara sedangkan yang diterima hanya 445 atau sekitar 55% nya. Amerika tetap menjadi negara terbesar disusul oleh Eropa dan kemudian Asia. Yang sempat membuat menarik adalah adanya Malaysia yang memasukkan 5 buah papernya diantara negara asia lainnya yang memang sudah terkenal seperti Jepang, Korea, China, dan Singapore. Malaysia sekali lagi telah membuktikan lebih maju dari Indonesia.
Setelah mengeksplore paper paper yang dipresentasikan saya baru tahu bahwa IEEE sensor merupakan society sensor yang sangat luas cakupannya, meliputi physical sensor maupun chemical sensor. Mulai dari sensor untuk mengidentifikadsi sifat sifat mekanik bahan seperti kekerasan bahan, daya tegang dan regang, mengidentifikasi kerusakan baja, hingga sensor bahan kimia. Bidang ini sebenarnya sangat berbeda satu dengan lainnya, tidak heran Jurnal ternama di bidang sensor yaitu Sensors and Actuators yang sepertinya merupakan jurnal tertua dibidang sensor terbagi menjadi 2 jenis, yaitu A untuk Physical dan B untuk Chemical. Biasanya masing masing pegiat sensor hanya konsern pada salah satu diantara dua jurnal tersebut karena memang senagt berbeda satu dengan lainnya. Karenanya tidak heran jika pertemuan IEEE Sensors ini cukup membuat peserta sepertinya terbagi dua, mereka yang membidangi kimia konsern pada bidang sensor kimia, sedang yang membidangi fisika juga hanya konsern ke physical sensor. Kebetulan pula senior saya yang di Delft saat ini membidangi physical sensor tepatnya strain sensor sehingga saya mendapat berbagai ulasan seputar physiscal sensor dari beliau saat sore hari ketika berbuka puasa dengan menu favorit kebab Turkey.
Bidang chemical sensor ternyata juga tidak setajam saat presentasi presentasi di pertemuan sensor kimia, mungkin karena memang masih terlalu luas keragaman yang disatukan pada pertemuan ini. Jika pada Intl Meeting on Chemical Sensors (IMCS), yang menjadi ajang berkumpulnya para pegiat sensor kimia, paper paper dibagi pada beberapa bagian, pada pertemuan IEEE Sensors ini praktis disatukan. Karena memang jumlahnya akan terlalu sedikit jika dibagi-bagi lagi. Penekanan juga tampak lebih kepada signal processing dari sensor yang bukan bidang yg sedang saya tekuni. Mungkin memang karena IEEE pun sebenarnya kepanjangan dari ¡¦ Wajar juga kalau konsernnya lebih pada bagian signal processing, electronic modification dan sekitarnya. Meskipun begitu dari paper paper yang dipresentasikan tampak bahwa modifikasi sensor devices ternyata mengarah kepada wireless, portable, low power consumption, in situ measurement, dan long term stability. Jadi sensor yang dibuat untuk mendeteksi apapun baik gas berbahaya (poisinous and inflammable), kekerasan, daya regang, daya tegang, fluida dsb saat ini sudah menuju pada bentuk alat yang tidak berkabel, mudah dibawa kemana-mana alias bentuknya handy, hasilnya langsung bisa terlhiat (in situ) mengkonsumsi energi yang rendah dan sensor ini bisa digunakan dalam rentang waktu yang lama. Dari pengamatan sekilas tampak bahwa negara-nergara di Eropa lebih unggul disini dibandingkan negara negara asia baik Jepang , Korea, maupun China. Keunggulan Eropa yang didominasi Jerman dan Belanda terletak pada kemampuan membuat hasil temuan dari skala laboratoirum menjadi sebuah protoipe yang siap dijual ke industri. Saat mempresentasikannya pun mereka langsung membawa prototipe sensor, satu model presentasi yang biasanya tidak ditemukan dari negara-negara Asia. Jepang, Korea dan China biasanaya unggul dalam penetilitian dasar. Sedangkan Amerika yang memang negara besar ternyata unggul di keduanya. Meskipun begitu, faktor ini sangat mungkin juga terjadi karena di negara negara Asia seperti Jepang misalnya para pegiat sensor di laboratoirum tidak terlalu peduli dengan model penelitian yang siap dilempar ke pasaran, penelitian skala industri biasanya terletak pada industri itu sendiri.
Untuk bidang sensor kimia, pertemuan IEEE Sensor menggambarkan bahwa yang sedang menjadi trend saat ini adalah penggunakan nano material untuk meningkatkan performansi sensor. Nano teknologi memang sedang merambah ke mana mana. Tingkat sensitifitas sensor terhadap sesuatu yang ingin dideteksi diharapkan menjadi jauh lebih meningkat karena dengan ukuran nano pada struktur kristal maka luas permukaan sentuh dengan bahan yang ingin dideteksi tentu akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan struktur biasa. Begitu antusianya teknologi nano pada sensor ini sampai pada pertemuan IEEE Sensor 2004 ini nano material mendapat porsi special session yang khusus yang membahas masalah aplikasi nano teknologi pada sensor. Saat plenary lecture pun Prof. Miexner yang mengomandani divisi sensor devices di Siemens sempat ditanya mengenai masa depan teknologi nano pada sensor. Prof. yang sukses mengantarkan Siemens sebagai salah satu perusahaan berpengaruh di bidang sensor ini menjawab bayangannya memang begitu menakjubkan tetapi dia belum bisa memastikan apakah secara teknologi bisa dikonkritkan dakam waktu dekat ini.
Kisah menarik lainnya terjadi saat sessie bagi saya untuk mempresentasikan paper. Seperti biasa, 30 menit sebelum sessie dimulai setiap pembicara diminta melaporkan kehadirannya pada chair meeting dan memasukkan data di note book yang ada di depan. Sayapun melaporkan kehadiran saya kepada Prof. Wlodarski yang menjadi chair meeting bagi sessie saya. Tanpa disangka dia menatap saya dan mengatakan “are you from Indonesia ?”. Kaget juga. Jarang jarang orang menyebut nama Indoensia di belantika sensor. Saya jawab “Ya, how can you know I m from Indonesia?”. Dia bilang “I go to indonesia many times, please ask me any things about Indonesia, I can answer,” sahutnya dengan percaya diri. Ternyata profesosor kesohor dari RMIT Australia ini merupakan salah satu pecinta Indonesia. Bersama istrinya dia bilang dia sudah melanglang buana ke berbagai tempat di indonesia dan tidak cuma ke Bali, tempat yg biasanya didatangi turis asing. Bahkan saat saya mengatakan saya dari Bandung, Prof yang berusia 50 tahuan ini mengatakan, “Ohh I know, it is a beautiful city with credible technology university.” Akhirnya pembicaraan banyak melebar tentang Indonesia sambil tentunya saya manfaatkan kesempatan yg sangat baik ini. Terakhir saya sampaikan if you go to Bandung again, please inform me and you can stay in my house. Sambil berharap semoga beliau bisa datang ke ITB untuk memberikan lecturenya. Pertemuan pun ditutup karena sessie akan segera dimulai setelah dia meminta kartu nama saya sambil memberikan kartu namanya.
Demikianlah sekilas pertemuan IEEE Sensors 2004 di Vienna, Autira. Lepas dari segala dinamika dalam perkembangan dunia sensor, kota Vienna menyajikan bentuk yang tidak kalah menariknya. Kota yang melahirkan musisi besar Wolfgang Amadeus Mozart ini memang benar benar menghargai sang musisi yang satu ini. Gambar pemusik klasik terpampang di mana mana. Bahkan satu buah CD berisi berbagai musik klasik pun diberikan kepada setiap peserta pertemuan IEEE Sensor 2004 ini. Sebuah pertunjukan musik klasik disuguhkan oleh panitia sebanyak 3 kali selama 4 hari pertemuan ini.



