H. Suwarna AF, Gubernur Kalimantan Timur, mengatakan, salah satu penyebab tumbuhnya berbagai permasalahan dalam menghadapi otonomi daerah, karena belum tumbuhnya institusi penelitian dan pengembangan yang memanfaatkan SDA. 

Hal itu diungkapkannya dalam seminar NRA di Jakarta. Dari data yang ada, pada tahun 1997 sekitar 66,63 persen ekonomi daerah ditentukan oleh perkembangan eksploitasi dan ekspor sumber daya alam. 

Untuk Kalimantan Timur saja, pada tahun 1999 tercatat telah menghasilkan devisa sebesar 55,3 trilyun yang berarti mencapai 13,8 persen dari hasil pemanfaatan sumber daya alam secara nasional yang mencapai 400,036 trilyun pada tahun yang sama. 

Diketahui, Kalimantan Timur sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar. Baik di sektor pertambangan, penggalian migas dan non migas, pariwisata dan kelautan yang membentang di pantai timur propinsi ini. 

Untuk potensi tambang migas sebagian besar terdapat di lepas pantai, yaitu sebanyak 62 persen, Sedang daratan sebanyak 38 persen. Untuk konsentrasi potensi gas bumi di laut sebanyak 70,63 persen, sisanya di daratan sebanyak 29,37 persen. Sedang cadangan batubara sebanyak 4.567 juta ton dan cadangan emas sebanyak 43,1 juta ton. 

Disamping minyak, gas, batubara, dan emas, di Kalimantan timur juga ditemui potensi nikel, antimonit, besi, pasir besi, rutil dan berbagai sumberdaya mineral non logam dan non migas lainnya. 

Untuk potensi hutan pada kawasan hutan tetap, di Kalimantan Timur terdapat luas hutan sebesar 14.806 Km2 atau lebih kurang sebanyak 70,3 persen dari luas total kalimantan Timur. Sedang sisanya seluas 6.338 Km2 atau sebanyak 29,97 persen kawasan hutan non tetap. Diantaranya meliputi 6,97 persen merupakan kawasan hutan produksi yang dapat konversi dan 23 persen kawasan non hutan yang dapat dipergunakan untuk pembangunan sektoral. 

Dari sebagian besar cadangan atau potensi tersebut baru sebagian yang dieksploitasi dan di ekspor. Diantaranya batubara sampai dengan tahun 1998 telah diproduksi sebanyak 30,29 juta ton. Untuk emas, diproduksi sebanyak 14,8 ribu ton dan perak diproduksi sebanyak 13,6 ribu ton. Sektor kehutanan dari 10 juta Ha hutan produksi tetap dan terbatas yang ada sekitar 764 ribu Ha luas tebangan yang telah dieksploitasi. Sedangkan potensi lainnya belum dapat digarap dan bahkan sebagian masih dalam proses eksplorasi. 

Untuk perairan laut di Kalimantan Timur terbentang sepanjang selat Makassar dengan luas 12 juta Ha, rawa, sungai, danau seluas 2,7 juta Ha, perairan ZEE di utara Kalimantan Timur seluas 276 ribu Ha. Sedang untuk produksi ikan mencapai 140 ribu ton perairan laut, sedang untuk perairan darat sebanyak 79 ribu ton dan tambak 122 ribu ton. 

Dan sayangnya, dengan potensi yang demikian besar, lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan belum tumbuh di sana. Padahal, menurut H. Suwarna, dengan adanya otonomi daerah permasalahan yang dihadapi semakin luas dan kompleks. Masalah-masalah yang ada saja dan belum teratasi, menurutnya, antara lain : eksploitasi tambang minyak dan gas yang tidak terbatas yang akan mempercepat habisnya SDA tersebut, pemanfaatan sumber daya yang masih boros, banjir di saat musim hujan dan kekeringan di saat musim kemarau akibat pembukaan/penebangan hutan secara besar-besaran, degradasi keaneka ragaman hayati akibat bencana alam kebakaran hutan. Dan ini semua tentunya perlu lembaga penelitian dan pengembangan yang betul-betul dapat menangani dalam pemeliharaan dan mengembangkan potensi SDA di kalimantan Timur

Pencarian artikel ini: