Menurut Garin Nugroho, sutradara dan aktivis KTVPI, banyak penemu-penemu dari Indonesia yang kurang bahkan mungkin tidak dikenal oleh orang Indonesia sendiri.
Hal ini menurutnya karena dari kita kurang memberikan wawasan untuk mengetahui perjalanan diri kita (bangsa Indonesia) sendiri. Sehingga barangkali sampai saat ini pun banyak diantara anak-anak kita tidak ada yang mengenal siapa saja penemu-penemu dari Indonesia.
Menurut Garin, penemuan-penemuan lokal itu terinspirasi karena kesadaran mereka terhadap budaya lokal sudah tumbuh.
Saat ini menurut Garin, progarm-program iptek yang ada di televisi menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum merupakan masyarakat teknologi. Indikasinya ada tiga hal, pertama, acara-acara atau pun program-program yang disajikan bersifat personal, ke dua tidak profesional, ke tiga tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat. Sebaliknya, teknologi apa pun yang ditampilkan, maka yang lebih ditonjolkan adalah keajaibannya yang dikagumi. Hal ini bila kita sadari, karena sebagian besar masyarakat kita adalah baru dalam taraf mengkonsumsi teknologi.
Sebaliknya masyarakat teknologi, yang umumnya berada di negara-negara maju, film sekali pun ada dasar-dasar pengetahuannya. Demikian pun untuk dasar-dasar imajinasinya, ada unsur teknologinya.Seperti : cerita lewat e-mail atau talk show.
Untuk negara Asia, Korea misalnya, Direktur TV Publik itu di sana merupakan orang nomor dua setelah Presiden, karena demikian besar pengaruhnya. Di Indonesia, TV Publik memang belum ada. Dan saat ini saja bila TV Publik ada, maka seharusnya bebas dari intervensi Pemerintah. Karena biasanya sikap kritis yang dimunculkan harus melewati berbagai tindak-tindak kompromistis.
Menurut Garin saat ini yang diperlukan adalah bagaimana memadukan antara ilmu pengetahuan dan teknologi dengan program hiburan. Dan nampaknya sampai saat ini kita belum berhasil untuk program eduteinment ini (edukasi-enterteinment).
Hal ini karena masih terbentuk cara berpikir bahwa iptek sulit diterjemahkan dalam program yang gampang diterima (acceptable) dan mudah diaplikasikan. Padahal dengan berpikir kreatif dan kerja keras, iptek menjadi bahasan baru bagi anak-anak yang menarik.
Menurut Garin, sampai kurikulum 1994 pun, iptek belum dikategorikan sebagai bagian penting dari dunia pendidikan. Padahal teknologi tepat guna misalnya, yang simpel dan efisien, dapat diperkenalkan pada siswa lewat bahasan kurikulum.
Ia memberi contoh di Jepang. Misalnya saja teknologi pengolahan sampah. Deprtemen Pendidikan dan Kebudayaan Jepang memulai program tersebut dengan cara mengajarkan siswa yang membiasakan diri memisahkan sampah bungkus makan siang mereka dalam tiga tempat, yakni plastik, kertas, dan aluminium foil. Setelah itu mereka akan diterangkan bahwa ke tiga unsur tersebut mempunyai fungsi yang berbeda, sehingga kalau dipisahkan akan lebih mudah untuk melakukan pengolahan ulang.
Jadi, sudah seharusnya kita mengenalkan sejak dini bahwa iptek itu bukanlah sesuatu yang sulit dan tidak menarik.
Menurut Garin,sedapat mungkin kita memaknai iptek sebagai suatu bentuk pemikiran yang praktis dan realistis dan sederhana serta mampu menguaraikan berbagai persoalan kehidupan. Dan seharusnya kita pun mengemasnya menjadi suatu hal yang menarik, penuh tantangan dan mengundang rasa ingin tahu sehingga anak-anak pun mempunyai persepsi yang sesuai tentang iptek itu sendiri sesuai dengan tingkat pemahamannya.



