Makna Spiritual Selama tahun 1680 – 1745, Keraton Kartasura Hadiningrat menjadi pusat Kerajaan Mataram Islam di Jawa Tengah. Tapi karena keraton hancur, sejak tanggal 17 Februari 1745, Susuhunan Pakubuwono II dan keluarganya pindah ke keraton baru yang berlokasi di sebuah desa di tepi Sungai Bengawan bernama desa Solo. Keraton itu diberi nama Keraton Surakarta Hadiningrat, yang dibangun antara tahun 1743 – 1746. Secara harafiah “suro” berarti gagah berani, “karto” – makmur, “hadi” – besar, dan “rat” berarti negara. Jadi Surakarta Hadiningrat dapat diartikan sebagai “negara besar yang gagah berani dan makmur”. 

 

Keraton, seperti halnya Keraton Surakarta Hadiningrat, adalah sebuah tempat yang mempunyai makna spiritual yang tinggi. Menurut kepercayaan tradisonal Jawa, angka 7 merupakan angka yang sempurna. Itulah kenapa Candi Borobudur misalnya, mempunyai 7 tangga dan 7 gerbang. Begitu juga dengan Keraton Surakarta Hadiningrat yang mempunyai 7 pelataran dan 7 gerbang.

Tujuh pelataran yang ada di Keraton Surakarta Hadiningrat adalah:
1. Pamuraan Njawi
2. Pamuraan Nglebet
3. Alun-alun Lor
4. Siti Hinggil
5. Kemandungan
6. Sri Manganti
7. Plataran

Dan tujuh gerbangnya adalah:
1. Gladag
2. Gapuro Pamuraan
3. Kori Wijil
4. Kori Brojonolo
5. Kori Kamandungan
6. Kori Mangun
7. Kori Mangarti

Tata Ruang, Arsitektur, dan Maknanya

Kalau kita perhatikan, ada banyak kesamaan antara Keraton Surakarta Hadiningrat dengan Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Keduanya memiliki tembok tebal yang mengelilingi jalan kecil dan halaman di dalam keraton. Mereka juga mempunyai dua buah lapangan besar, sebuah mesjid, dan komplek kediaman keraton sebagai pusatnya. Perbedaan yang paling mendasar dari keduanya adalah bahwa Surakarta tidak mempunyai jalan besar (utara dan selatan) yang biasa dilalui oleh arak-arakan.

Apabila kita memasuki komplek Keraton Surakarta dari bagian depan keraton, kita akan sampai di Alun-alun Utara. Di tengah Alun-alun, ada dua pohon beringin yang melambangkan perlindungan dan keadilan.

Di situ kita juga bisa menemukan Bangsal Sasono Semowo atau Pagelaran yang letaknya menghadap ke Alun-alun. Di masa lalu bangsal ini digunakan sebagai tempat Susuhunan atau raja mengirim dan menerima pesan dari para pemegang pemerintahannya, yang dibacakan oleh Patih (Perdana Menteri). 

Terus ke arah selatan, kita akan sampai di Siti Hinggil (tanah tinggi), tempat dimulainya upacara Garebeg. Garabeg adalah sebuah upacara besar yang dilangsungkan 3 kali setahun pada hari-hari raya Islam, yaitu Maulud pada tanggal 12 Rabiulawal, Puasa, tanggal 1 Syawal, dan Besar, tanggal 10 Zulhijah. 

Melewati gerbang utama yang bernama Kori Brojonolo, kita akan sampai di pelataran Baluwerti. Kori Brojonolo didirikan pada zaman Susuhunan Pakubuwono III, bersamaan dengan dibangunnya tembok Baluwerti, yang awalnya hanya terbuat dari bambu. Secara harafiah, “brojo” berarti senjata tajam, dan “nolo” berarti hati. Maksudnya adalah ketika memasuki Baluwerti (Cepuri Keraton), hendaknya kita menggunakan ketajaman hati, atau “landeping rasa” dalam bahasa Jawa.

Sebelum kita melangkah melewati pintu gerbang, di sebelah kiri dan kanan kita akan melihat dua buah bangsal kecil yang bernama Bangsal Brojonolo (semacam pos jaga yang terletak di kiri dan kanan gerbang. Satu untuk golongan Keparak Kiwo, dan satu lagi untuk golongan Keparak Tengen). 

Di sebelah dalam Kori Brojonolo, juga ada dua bangsal kecil bernama Bangsal Wisomarto, yang juga berfungsi sebagai pos jaga bagi golongan keparak Kiwo dan Keparak Tengen. Secara harafiah “wiso” berarti bisa/racun, dan “marto” berarti penawar. Maksudnya adalah, segala niat buruk hendaknya kita tinggalkan atau menjadi luluh ketika kita menuju Keraton. 

Terus ke arah selatan, kita akan sampai di pintu gerbang Kori Kamandungan. Di situ ada sebuah cermin besar. Di situ pula lah hendaknya kita “bercermin”, apakah wujud beserta pakaian kita telah cukup rapi, sehingga kita memang pantas untuk masuk ke dalam Keraton. Ketika itu jugalah kita diharapkan menginstrospeksi diri, apa sebenarnya kekurangan kita selama ini. 

Setelah kita “bercermin”, dan kemudian melanjutkan perjalanan kita, maka kita akan sampai di Pelataran Baluwerti atau Pelataran Kemandungan. Di sini kita akan menemukan bangunan-bangunan Jawa berbentuk limasan yang dulu digunakan antara lain sebagai tempat para bupati menghadap raja, dan tempat pelantikan para perwira atau opsir. 

Salah satu yang menarik adalah sebuah panggung bersisi delapan yang bernama Panggung Songgobuwono, Sebagian orang percaya bahwa tempat ini digunakan oleh Sri Susuhunan melanjutkan tradisi para pendahulunya untuk bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul (Ratu Pantai Selatan). Hal ini paling tidak dilakukan pada saat perayaan hari penobatan/ pengangkatan beliau sebagai raja.

Kalau kita terus berjalan ke arah selatan, kita akan sampai di pintu gerbang Kori Sri Manganti. Atap Kori Sri Manganti berbentuk “Semar Tinandu”, dan di atas pintu terdapat lukisan lambang kerajaan Jawa, Sri Makuta Raja, sedangkan di sebelah kanan-kiri pintu terdapat lukisan Kapas Pari yang melambangkan kemakmuran. Sebelum memasuki Kori Sri Manganti, kita juga akan melihat sebuah cermin besar, dan sekali lagi kita dimohon agar mau mengoreksi lahir maupun batin kita. Setelah “bercermin”, baru kita masuk ke Kedaton. Hal ini juga dilakukan bagi mereka yang ingin menghadap Sri Susuhunan. 

Di luar maupun di dalam pintu terdapat bangsal bernama Bangsal Sri Manganti. Secara harafiah “sri” berarti raja, dan “manganti” berarti menanti/menunggu. Di sinilah tempat orang menunggu sebelum diperkenankan masuk ke Keraton, atau ketika ingin menghadap Sri Susuhunan. Sri Susuhunan juga menggunakan tempat ini untuk menunggu bila ada tamu atau raja lain yang ingin bertemu beliau. 

Akhirnya, sampailah kita di Pelataran Kedaton, bagian utama Keraton. Dari timur ke barat, kita akan melihat beberapa bangunan Jawa (“Kedaton Jawa”). Salah satunya adalah Maligi, sebuah bangunan Jawa berbentuk limasan jubang, tidak berserambi, bertiang delapan, yang didirikan di tahun 1882. Tempat ini digunakan untuk mengitankan putera Sri Susuhunan. Berdasarkan falsafah Jawa, seorang ibu yang hendak melahirkan anaknya, harus berbaring dengan kepala di barat (bahasa Jawa: “mujur ngulon”), sehingga sang anak akan lahir menghadap timur dimana matahari terbit. Itulah kenapa upacara khitanan dilakukan pagi hari, saat matahari terbit, dan yang dikhitan pun duduk menghadap timur. 

Di tengah-tengah Pelataran Kedaton, terdapat sebuah pendopo besar berbentuk joglo pengrawit dengan serambi, yang disebut Sasono Sewoko. Secara harafiah “sasono” berarti tempat, dan “sewoko” berarti menghadap ke satu arah, Tuhan Yang Maha Esa. 

Pendopo Agung Sasono Sewoko dipakai Sri Susuhunan untuk bersemedi (meditasi), mengheningkan cipta, memohon kesejahteraan bagi seisi Keraton. Tempat ini juga digunakan untuk Sri Susuhunan bertemu atau bertatap muka dengan keluarganya, abdi dalem, bahkan rakyatnya. 

Bangunan lain yang berada di komplek Kedaton ini adalah Sasono Handorowino, tempat Sri Susuhunan menerima para tamu, dan makan bersama (bahasa Jawa: “kembul bujono”). Awalnya orang menyebut tempat ini Pendopo Ijo, karena dahulu bercat hijau.

Satu bangunan yang juga menarik untuk dikunjungi adalah apa yang disebut dengan Pringgitan, sebuah pendopo kecil yang dipakai untuk pertunjukan wayang kulit.

Sekarang kita tinggalkan Kedaton, dan terus melangkah ke selatan. Kita akan sampai di Magangan, sebuah halaman yang biasa dilewati oleh para petinggi Keraton menuju tempat suci (tempat bermeditasi). Di sana ada sebuah paviliun yang digunakan oleh putri bermeditasi. 

Dari sini, kita melangkah terus selatan. Sampailah kita di gerbang Kori Brojonolo, pintu masuk ke Siti Hinggil Selatan. Keluar dari Siti Hinggil Selatan, kita sampai di Alun-alun Selatan. Alun-alun bisa dibilang sebagai suatu tempat atau ajang pertempuran, dimana setiap musuh yang datang diserang dari sini. Jalan yang mengelilingi Alun-alun disebut Supit Urang (“supit” berarti penjepit; dan “urang” berarti udang), yang melambangkan taktik untuk mengalahkan para pengacau atau penyelundup.

Beberapa pasukan prajurit disiapkan di Pagelaran dan di depannya (“gelar” berarti formasi pasukan). Di sinilah taktik pertempuran diputuskan. Sementara itu pasukan cadangan disiapkan di Pelataran Kemandungan, dan untuk tempat beristirahat, mereka menggunakan Pelataran Sri Manganti. 

Sumber:
1. “Surakarta”, Insight Guides Indonesia, APA City Guide Publishing Company Ltd., 1993, hal. 80-81
2. Penjelasan Singkat Mengenai Bangunan-Bangunan Karaton Surakarta, Surakarta: Karaton Surakarta, 1982
3. “Sekilas Surakarta – Solo Lama”, www.solonet.co.id
4. Suryo S. Negoro, “Karaton Surakarta Hadiningrat”, www.joglosemar.co.id 
5. “Ziarah ke ‘Kuburan’ Keraton Kartasura”, Kompas, 5 Februari 1996

Pencarian artikel ini: