Menristek Dr.A.S. Hikam menyatakan kepuasannya atas kegiatan riset yang dihasilkan PPAU Mikroelektronika ITB dalam kunjungannya di Bandung 08 Mei y.l. Ketika Menristek sekaligus menyatakan dukungan menjadikannya sebagai salah satu prioritas utama dalam Riset Unggulan Nasional 2000, maka bagi para Pakar Teknologi Industri dan Teknik Elektro ITB dukungan itu secara tidak langsung sangat berarti guna mengekspose kembali inisiatif Bandung High-Tech Valley (BHTV) ditengah kondisi bisnis berbasis teknologi yang kini marak diseluruh dunia dan akan berpuncak pada 3-4 tahun mendatang.
Bergesernya dunia bisnis global menjadi era ekonomi digital sekarang ini dengan meluasnya e-commerce, Internet, telekomunikasi selular, dll hanya dapat terlaksana dan dinikmati keuntungannya apabila suatu negara mampu menguasai dasar teknologi dan industri piranti elektronika khususnya mikroelektronika.
Bandung High Tech Valley dimaksudkan guna menumbuhkan kawasan industri berbasis teknologi menjadi faktor utama pendorong kegiatan ekonomi dan industri yang berpusat di wilayah Bandung dengan ITB sebagai motor pendorong lahirnya inovasi dan embrio kegiatan bisnis. Industri yang akan dikembangkan di BHTV adalah industri jenis semi-konduktor, piranti soft-ware, perangkat hard-ware telekomunikasi, teknologi informasi dan Internet dalam spektrum yang luas.
Dalam tataran konsepsi inisiatif BHTV sesungguhnya mengedepankan suatu pembangunan “science based city” atau “techno-park” dengan pusat inti keunggulan “knowledge based society” pada komponen utama manusia yang berkarya pada sektor industri berbasis teknologi di Bandung.
Dalam tahap paling dini gagasan BHTV telah muncul dari pemikiran pakar ilmuwan senior Dr.Semaun Samadikun dan Dr. Iskandar Alisjahbana – mantan rektor ITB – sejak tahun 1970-an atau setelah terjadinya boom industri IC yang menghasilkan pertumbuhan kemakmuran luar biasa di Silicon Valley,CA.
Secara formal gagasan ini lalu dikemukakan oleh Deperindag bersama pakar ITB tahun 1996 setelah menelaah secara seksama peluang dan potensi nyata implementasi BHTV. Bahkan berdasar acuan hasil ekspor rata-rata produk elektronika nasional senilai $ 2-3 milyar per tahun, lalu diproyeksikan bahwa Indonesia berpeluang menggaet ekspor sampai senilai $ 30 milyar tahun 2010 (Angka ini hasil revisi dari $ 40 milyar untuk target tahun 2006 berhubung terjadinya krisis moneter 1998).
Secara fisik BHTV meliputi poros Bandung – Padalarang – Purwakarta – Cikampek – Jakarta – dan Cilegon, yakni meliputi jaringan transportasi dan zoning kawasan industri. Itulah sebabnya dalam penetapan kebijakannya pada level Pemerintahan Pusat membutuhan semacam “political will” guna merealisasikan konsep BHTV dengan mantap, untuk selanjutnya ditindaklanjuti dengan koordinasi yang sinkron pada level Pemerintahan Daerah maupun inter-departemental.
Pada tahun 1995-an contoh keberhasilan pembangunan semacam “Silicon Valley ala Negara Dunia Ketiga” telah ditunjukkan dengan baik di Bangalore-India, Malaysia Multimedia Super Corridor-Kuala Lumpur ataupun Manila Gateway Park-Filipina. Untuk itu perlulah para pembuat keputusan di Pemerintahan maupun wakil rakyat yang duduk di Legislatif dapat mengkaji secara obyektif mengenai potensi dan urgensi BHTV dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jangan sampai Indonesia terlambat melewatkan momentum peluang yang sesungguhnya sangat berarti bagi peningkatan ekonomi khususnya di kawasan Bandung Raya dan sekitarnya.
Nilai Lebih dan Bukti Potensi BHTV , yaitu :
-
Potensi nyata atau REAL untuk Industri berbasis teknologi dalam bidang Elektronika dan IT berupa pasar global senilai $ 3 triliun s/d tahun 2003 dengan tingkat pertumbuhan per tahun 12%-15%. Negara produsen baru seperti India, Filipina, Malaysia, dan Indonesia – belum terlambat jika segera masuk – masih memiliki kesempatan untuk bersaing untuk merebut pasar cukup sampai 1 %- 2,5 % atau setara 30 M – 70 M US$.
Sebagai bukti : Produk sektor elektronik Nasional selama 5 tahun ini selalu masuk dalam 3 besar ekspor nasional selain kayu olahan dan tekstil, bahkan juga sewaktu dalam masa krisis moneter 1998/1999. -
Adanya sumber daya manusia Indonesia yang berpotensi tinggi. Buktinya walau belum bersifat migrasi massal ternyata secara perorangan telah cukup banyak tenaga profesional ahli IT & Elektronika Indonesia yang mampu menembus pasar kerja kelas dunia raksasa industri IT langsung di pusat lokasi Silicon Valley macam Microsoft, Compaq, Sun Microsystem, dll. Beberapa riset mutakhir Lab PPAU Mikroelektronik ITB Bandung , dengan dorongan kemajuan dunia Internet, juga telah mampu membuktikan kemampuan rancangan perangkat hardware kelas dunia. Sementara sekelompok profesional IT nasional di Bali Camp juga telah mampu menghasilkan perangkat software yang terpakai oleh industri kelas dunia.
-
ITB di Bandung sebagai Perguruan Tinggi unggulan bidang teknologi – ranking 15 terbaik di Asia untuk 1999 versi Asia Week- menjadi suatu bukti.
Sayangnya -diakui ataupun tidak- telah lama potensi keunggulan SDM ITB sering diabaikan terutama oleh Pemda setempat. Rencana BHTV tidak boleh lagi membiarkan kondisi seperti itu, karena jika mengambil konsepsi pengembangan semacam Silicon Valley maka fungsi Universitas sebagai motor penggerak “science based city” dan “centre of excellence” dalam bidang teknologi dan kewiraswastaan (business entrepreneurships)- menjadi faktor terdepan. Dalam hal ini ITB berperan bagai Stanford University bagi Silicon Valley. ITB tentu tidak berjalan sendiri melainkan ditunjang pula oleh Perguruan Tinggi lainnya di Bandung dan Jakarta, disamping peranan aktif R&D Industri yang telah ada di Bandung. -
Bisnis industri berbasis teknologi dan IT ternyata memiliki karakteristik tertentu yang memungkinkan negara dunia ketiga seperti Indonesia masih dapat mengambil kesempatan dalam porsi yang memadai. Karakteristik bisnis industri berbasis Teknologi dan IT yang disebut bisnis “new economy“, yakni bahwa seluk beluk bisnis dan keuntungan investasi yang akan terjadi sebenarnya masih belum dapat tepat diproyeksikan berdasar teori bisnis yang dikenal selama ini. Bisnis dunia digital ini juga memiliki paradigma baru tersendiri mengenai dimensi waktu dalam tahapan perencanaan usaha sampai produksi. Sebagai contoh apabila pada dunia bisnis yang konvesional pebisnis menghitung perencanaan bisnis jangka panjang (long term) dalam hitungan kurun waktu 10 – 15 tahun, maka pada bisnis dunia digital jangka waktu untuk hal yang sama tersebut hitungannya hanya valid dalam jangka waktu cukup singkat 3 tahunan saja.
Gambaran menarik dipaparkan sumber “Business Week” edisi Juli 1999 yang mengamati Market Value berbagai perusahaan kelas dunia menunjukkan bahwa industri yang berbasis Teknologi bermunculan dalam posisi teratas, misalnya Microsoft yang berada di urutan puncak. IBM berada di posisi 3, sementara AT&T, Intel, Cisco System juga berada di posisi 10 besar! Perusahaan berbasis teknologi tersebut dalam usia yang terhitung singkat mampu menggeser perusahaan mapan seperti WalMart, Exxon, Shell, dll yang kebanyakan telah beroperasi lebih dari satu generasi! -
Fenomena menarik lainnya dari karakteristik usaha berbasis teknologi IT bahwa pada awal model pengembangan di Silicon Valley, California yakni sifat utama bisnis adalah basis “knowledge” sebagai modal utama dan sama sekali bukan modal uang yang utama!
Investasi untuk bisnis umumnya didukung oleh modal ventura, yaitu pemodal yang memasok dana investasi yang nantinya lalu dikonversikan menjadi kepemilikan saham perusahaan. Atau cara lainnya dengan mengajukan penawaran saham publik di Pasar Modal. Start-up usaha bisnis juga umumnya selalu dimulai oleh sekelompok kecil profesional muda yang bermodal kemampuan otak disertai bekal wiraswasta yang tinggi. Hal demikian secara tidak langsung telah menunjukkan kesesuaian dengan sifat dunia model industri Usaha Kecil Menengah yang kini sedang digalakkan pengembangannya. -
Industri berbasis teknologi IT ini memiliki keunggulan yakni relatif bebas polusi hingga tidak merugikan berupa adanya dampak cemaran industri tekstil yang menjadi andalan Bandung selama ini.
Nilai Kurang untuk Kondisi Indonesia :
-
Krisis ekonomi yang mengakibatkan minimnya dana Pemerintah dalam mendanai pembangunan infrastruktur. Terlebih lagi bidang industri berbasis Teknologi yang sering disalahtafsirkan seakan seluruhnya ; kurang bermanfaat bagi rakyat banyak, boros / padat modal dan kurang menyerap tenaga kerja lokal. Disamping itu rendahnya alokasi dana riset dan pengembangan serta anggaran pendidikan nasional juga akan membawa efek negatif baik secara langsung ataupun tak langsung.
-
Munculnya muka-muka baru baik dalam birokrasi pemerintahan maupun dalam legislatif yang ditengarai agak kurang berkemampuan-khususnya dalam pemahaman akan Iptek- hingga kurang dapat mengikuti jalan pemikiran atas urgensi serta potensi besar BHTV.
-
Masih perlu dibangkitkannya perhatian nyata pemerintah / “political will” dalam menetapkan regulasi yang menunjang kepentingan BHTV dalam berbagai sektor . Sektor-sektor prioritas terpenting : Perindustrian soal regulasi yang menunjang bidang industri berbasis teknologi IT. Keuangan : sektor investasi agar menggalakkan pemodalan ventura dan bursa saham yang khusus melayani perusahaan berbasis teknologi. Kementerian Ristek yang mengatur prioritas riset unggulan nasional – Pendidikan Nasional soal peran Perguruan Tinggi, kurikulum muatan lokal yang mengacu pada kebutuhan BHTV, dll.
-
Dibanding negara yang telah cukup sukses melaksanakan “Silicon Valley ala Dunia Ketiga” seperti Bangalore di India ataupun Filipina dengan “Gateway Business Park” di Selatan Manila, maka untuk Indonesia penguasaan Bahasa Inggris -yang menjadi modal wajib dalam dunia teknologi IT- terbilang agak tertinggal. Untuk itu Departemen Pendidikan Nasional perlu menetapkan arahan yang jelas mendorong pengajaran kemampuan Bahasa Asing dan dalam menetapkan arah pengembangan perguruan tinggi bidang teknologi khususnya bagi universitas di sekitar Bandung.
Industri berbasis Teknologi di negara berkembang sering dikritik karena hanya menumbuhkan sedikit porsi kandungan produk lokal. Kondisi demikian memang boleh dikata merupakan hal yang umum terjadi khususnya pada tahap awal pengembangan industri. Namun dengan strategi kebijakan dan regulasi pemerintah yang terarah maka Filipina mampu mencetak angka kandungan lokal menjadi 30% tahun 1997 dari semula hanya 5% pada 10 tahun sebelumnya. Hingga World Bank sejak tahun 1997 menggolongkan Filipina sebagai negara di Asia dengan struktur pemasukan ekspor berbasis industri teknologi tinggi yang amat mantap dan maju. BHTV memang masih membutuhkan pemikiran dan kerja keras baik dalam pematangan konsepsi maupun implementasinya. Untuk itu pakar ITB serta pihak Pemerintah perlu bekerjasama intensif untuk dapat menghasilkan keputusan yang tepat dan segera dalam menanggapi terobosan gagasan BHTV
Pencarian artikel ini:
- Bandung High Tech Valley
- bandung high tech valley (bhtv)
- bhtv sebagai inisiatif untuk menumbuhkan bisnis dan industri it dan internet
- bandung digital valley
- inisiatif bhtv
- inisiatif bhtv untuk menumbuhkan bisnis dan industri it dan internet
- itb bhtv
- kegiatan yang mendorong lahirnya ilmu ekonomi
- konsep yang ada pada ala bhtv
- model zoning negara indonesia



