Agribisnis Buah-buahan Tropis 

Satu sektor yang harus dikembangkan adalah agribisnis buah-buahan tropis. Apa sebab ?. Ada beberapa alasan, pertama, Indonesia memiliki keunggulan komparatif (kesesuaian agroklimat, ketersediaan lahan dan keanekaragaman sumberdaya genetika). 

Alasan kedua, kebutuhan buah-buahan domestik. Diramalkan pada tahun 2010 kebutuhan buah di dalam negeri sebesar 14 juta ton dan terus meningkat menjadi 20 juta ton pada 2015. Perlu diketahui, selama ini pasokan buah-buahan untuk dalam negeri baru sebesar 97,5% dan sisanya, sebesar 2,5%, dipenuhi oleh buah-buahan impor. Namun jika dilihat laju perkembangan total nilai impor buah, yaitu 12% pertahun pada periode 1996-2000, maka trend pasokan buah impor akan menjadi masalah bagi perkembangan buah nasional. 

Maka, untuk menjawab permasalahan dan tantangan tersebut, Tien mengungkap 4 fokus pengembangan bagi buah-buahan tropika : 

(1) pemuliaan tanaman buah-buahan : untuk memenuhi dua tujuan, yakni bagi konsumsi segar dan konsumsi olahan; 

(2) teknologi pembibitan : dengan mengatasi variasi somaklonal yang sering terjadi pada kultur jaringan dan mengidentifikasi dengan cepat dalam menjamin kebenaran varietas; 

(3) teknologi produksi dan pasca panen : tujuannya yakni meningkatkan produktivitas, kualitas dan kontinuitas produksi, meningkatkan keseragaman bentuk, ukuran dan waktu panen, menekan serangan hama dan penyakit tanaman serta meningkatkan daya adaptasi terhadap stress lingkungan; 

(4) pembentukan dan pengembangan agro-technological cluster. 

Bioteknologi Sebagai Solusi 

Bioteknologi, sebagai satu cabang ilmu biologi, diharapkan mampu menjawab masalah diatas melalui perannya dalam perbaikan genetik seperti pemuliaan tanaman, penyediaan bibit tanaman, pengendalian pertumbuhan dan pembuahan tanaman hingga masalah pasca panen. Melalui rekayasa genetika pula, kini sudah dihasilkan tanaman transgenik yang tahan hama dan penyakit hingga peningkatan kualitas hasil. 

Bagaimana tingkat keberhasilannya ?. Tien menjelaskan hingga tahun 2000, luas areal tanaman transgenik sudah meningkat pesat, misal di USA seluas 30,3 juta ha (68% dari luas global), Kanada 7 juta ha dan Australia 200 000 ha. Di negara berkembang, Argentina, Cina, Meksiko dan Uruguay dari 4,4 juta ha (1998) menjadi 10,7 juta ha (2000). 

Kecaman Publik 

Meski demikian, ada saja kritik pedas. Satu isu yang beredar adalah berupa kekhawatiran bahwa tanaman transgenik akan mengganggu, merugikan dan membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Menurut Tien, ini diawali pada persepsi masyarakat atas produk bioteknologi. Sikap yang perlu dikembangkan adalah sebagaimana teknologi lain, teknologi rekayasa genetika dan tanaman transgeniknya juga membawa manfaat dan resiko. 

Lalu, bagaimana ?. Tien sependapat dengan salah seorang peserta seminar bahwa ada beberapa prinsip yang mesti menjadi koridor bagi aplikasi bioteknologi untuk pangan. 

Pertama, mempersiapkan aspek legal. Indonesia sudah memiliki beberapa diantaranya, seperti SKB 4 Menteri (29 September 1999) tentang KKHKP (Komisi Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan), UU RI No 7 Tahun 1996 tentang Pangan. 

Kedua, kebijakan di bidang riset bioteknologi. Tentunya ini bekerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian dan perguruan tinggi. 

Ketiga, pemahaman pengkajian keamanan pangan hasil rekayasa genetika dengan konsep “kesepadanan substansial, substantial equivalence”, yaitu suatu kajian apakah bahan pangan baru (pangan hasil rekayasa genetika) sama amannya dengan bahan pangan pembanding yang telah terbukti aman untuk dikonsumsi. Termasuk uji toksisitas protein, uji toksisitas akut dan kronis. Jangan dilupakan konsep pendekatan kehati-hatian (precautionary approach). 

Keempat, sosialisasi aktif tentang keamanan dan prospektif produk bioteknologi. Termasuk kerangka bioteknologi sebagai alat untuk menuju kemandirian bangsa dan kemandirian pangan bagi ketersediaan tanaman pangan.

Pencarian artikel ini: