Mendengar nama angkak, sepertinya bukan nama asing lagi ditelinga kita, apalagi wabah demam berdarah yang beberapa waktu lalu sering dikaitkan dengan obat tradisional yang konon dapat meningkat trombosit darah. Hal ini menjadi perdebatan yang menarik karena sampai saat ini belum ada data penelitian yang dapat membuktikan hal tersebut.

Hiperkolesterolemia dan hipertrigliserida adalah kondisi dimana jumlah kolesterol dan trigliserida darah yang berlebihan sehingga berpotensi penyebab penyakit kardiovaskuler, seperti aterosklerosis (penumpukan lemak), jantung koroner, dan hipertensi. Data terakhir menyebutkan hingga tahun 2010, penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit peringkat teratas penyebab kematian. Indonesia sebagai negara berkembang juga menunjukkan angka prevalensi penyakit ini terus meningkat dan merupakan penyebab kematian pertama, menggantikan penyakit akibat infeksi.

Pada tulisan ini akan di kemukakan kegunaan lain angkak yang ternyata memiki potensi digunakan untuk menurunkan lemak darah dan tekanan darah (hipertensi) pada penderita hiperlipidemia dan hipertensi.

Apa itu angkak ?

Angkak atau beras merah adalah produk fermentasi menggunakan kapangManascus sp. berasal dari negara China. Pembuatan pertama dilakukan oleh Dinasti Ming yang berkuasa pada abad ke-14 sampai abad ke-17. Dalam teks tradisional The Ancient Chinese Pharmacopoeia disebutkan bahwa angkak digunakan sebagai obat untuk melancarkan pencernaan dan sirkulasi darah. Beberapa spesies kapang telah digunakan untuk memproduksi angkak, diantaranya adalah Monascus purpureusM. pilosus, dan M. anka. Negara-negara Taiwan, Jepang, Korea, dan Hongkong memproduksi angkak untuk keperluan sebagai pewarna alami makanan.

Di Indonesia, beberapa peneliti mencoba melakukan penelitian tentang angkak. Diantara peneliti tersebut adalah Srikandi Fardiaz dari IPB dan Kris Herawan Timotius dari UKSW Salatiga. Kedua peneliti ini melakukan penelitian dalam usaha mencari pewarna alami untuk menggantikan pewarna sintetis makanan. Fardiaz, menggunakan limbah cair tapioka untuk Monascus purpureus, dan limbah padat tapioka untuk Neurospora sitophila. Hasil uji toksisitas menunjukkan pigmen angkak cukup aman digunakan dalam pangan/makanan, mengurangi penggunaan nitrit dalam memperbaiki warna merah daging olahan seperti sosis dan ham daging sapi, serta menghambat pertumbuhan bakteri patogen dan perusak berspora seperti Bacillus cereus dan Bacillus stearothermophilus. Sedangkan Timotius, menggunakan beras dan jagung sebagai subtrat padat untuk menghasilkan pigmen Monascus. Disebutkan juga oleh Timotius bahwa ada beberapa warung makan di Kota Salatiga telah menggunakan pigmen Monascus sebagai zat pewarna pada makanannya.

Khasiat Angkak

Wang, et al., (2000), berhasil membuktikan bahwa angkak dapat menurunkan jumlah lemak darah tikus Sprague Dawley (SD), percobaan ini dilakukan selama 6 bulan. Tepung angkak dengan jumlah 2 persen ditambahkan pada pakan kontrol dengan kandungan fruktosa tinggi, dapat menurunkan kandungan trigliserida, kolesterol, very low density lipoprotein(VLDL), dan low density lipoprotein cholesterol (LDL-C).

Hsieh dan Tai (2003), berhasil membuktikan bahwa penambahan seduhan angkak dapat menurunkan tekanan darah pada tikus SD yang diinjeksi dengan fruktosa. Tsuji, et al., (1992) juga menyebutkan bahwa, salah satu produk fermentasi beni-koji yang menggunakan kapang Monascus pilosusdiketahui dapat menurunkan tekanan darah pada tikus spontaneously hypertensive rat (SHR) dan manusia (sebagai volunteer) yang mengalami hipertensi.

Mevinolin dan lovastatin adalah dua komponen bioaktif yang diketahui terdapat di dalam angkak sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Senyawa-senyawa ini diketahui sangat efektif dalam terapi hiperkolesterolemia, karena kemampuannya untuk menghambat kerja enzim 3-hydroxy-3-methylglutaryl CoA reductase (HMG-CoA reductase); enzim yang bertanggung jawab dalam proses sintesis (pembentukan) kolesterol. Dengan terhambatnya kerja enzim ini maka dapat dipastikan dapat mengontrol pembentukan lemak yang berlebihan di dalam tubuh. Senyawa gamma-aminobutyric acid (GABA) dan acetylcholine chlorideadalah dua komponen aktif yang terkandung di dalam angkak diketahui dapat sebagai hypotensive agent sehingga menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah.

Angkak Sebagai Makanan Suplemen

Meskipun penelitian-penelitian diatas diperoleh dari percobaan menggunakan hewan, namun data yang diperoleh dapat diekstrapolasikan ke manusia. Data yang didapatkan sebagai informasi awal untuk dijadikan kajian lebih lanjut pemanfaatan angkak sebagai bahan untuk menurunkan jumlah lemak pada penderita hiperlidemia dan hipertensi.

Penyajian angkak dengan diseduh menggunakan air panas dapat dijadikan saran yang paling sederhana cara penyajian/konsumsinya. Selain itu komponen-komponen bioaktif yang terkandung di dalam angkak dapat diformulasikan sebagai makanan suplemen dalam bentuk kapsul atau tablet yang dengan mudah setiap saat bisa dikonsumsi.

Pencarian artikel ini: