Belum lagi harga BBM naik, masyarakat kita sudah dihebohkan dengan naiknya harga beras di sejumlah pasar tradisional yang membuat resah para pedagang dan ibu rumah tangga. Namun, ada ide menarik dari para peneliti kita, agar kita menengok makanan pokok lainnya sebagai alternatif, selain beras.
Hal ini dikemukakan Dr. Santoso, dosen Fisika UI lulusan Perancis yang juga Ketua Yayasan Al-Biruni. Dikatakannya produksi kentang dalam jumlah yang sebanding dengan beras memerlukan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan menanam padi. Dari bibit, hingga kebutuhan pupuk dan masa panennya, menanam padi lebih memerlukan biaya dan energi. Selain itu juga kandungan karbohidrat yang ada didalam kentang tak jauh beda dengan beras, yang kini menjadi makanan pokok hampir sebagian besar wilayah Indonesia.
Nampaknya memang bukan hal yang mudah merubah pola makan kita, beralih dari beras ke kentang. Namun, sebenarnya bisa dicoba. Saat ini saja mie instant telah menjadi salah satu alternatif ke dua setelah nasi, bila ingin cepat saji. Padahal, banyak yang tak menyadarinya kalau bahan dasarnya adalah gandum yang terpaksa kita impor tiap tahun dalam skala yang besar. Di sini tanpa sadar kita telah terjebak dalam jebakan pangan, di mana kita adalah pengkonsumsi gandum, yang notabene bukan tanaman asli Indonesia. Padahal sebenarnya banyak peluang makanan-makanan alternatif karbohidrat lainnya, yang sayangnya tak populer karena tak ada yang mengangkatnya kepermukaan.
Namun, kentang adalah contoh alternatif menarik. Apalagi nampaknya kentang goreng cukup diminati, khususnya di restoran-restoran bergaya Amerika . Namun, yang menjadi tantangan, siapa yang mau mempopulerkannya menjadi makanan alternatif, misalnya selain mie instant?. Barangkali, ini bisa membuka peluang untuk tidak hanya menengok beras, agar rakyat yang tak mampu tetap mendapat konsumsi yang sehat ditengah krisis.



