Itulah hasil penelitian yang diperoleh dari peneliti-peneliti di Inggris dengan sponsor perusahaan raksasa bioteknologi Syngenta. Beras tersebut diberi nama Golden Rice (Beras keemasan), karena warnanya yang berwarna kuning keemasan dan sangat berbeda dengan beras pada umumnya yang berwarna putih.
Hasil penelitian ini berhasil masuk di dalam jurnal Nature Biotechnology (Nature Publishing Group) edisi April 2005 baru-baru ini. Hasil penelitian ini juga, sebelumnya telah diberitakan secara luas melalui website BBC News Inggris (28/3/2005), dan membangkitkan kontroversi yang luas di Inggris sendiri.
Beras tersebut merupakan hasil rekayasa genetika, melalui penyisipan gen psy atau gen penyandi phytoene synthase, digabungkan dengan gen crtl atau gen penyandi carotene desaturase. Kedua gen ini berfungsi untuk memproduksi beta karoten (pro-vitamin A), sebagaimana yang banyak terkandung pada wortel. Gabungan sisipan kedua gen tersebut berhasil meningkatkan kandungan beta karoten hingga 23 kali kandungan beta karoten pada beras keemasan generasi pertama yang ditemukan 5 tahun yang lalu di Swiss. Bahkan dibandingkan dengan tomat dan cabe yang juga mengandung beta karoten, beras keemasan ini masih memiliki kandungan beta karoten yang lebih tinggi.
Meskipun diberitakan bahwa beras ini tidak akan dikomersialisasikan, akan tetapi secara eksplisit disebutkan dalam pengantar artikel ini di jurnal tersebut, bahwa salah satu alasan upaya penemuan beras ini, adalah untuk mengatasi permasalahan defisiensi vitamin A yang banyak terjadi di negara-negara berkembang terutama di Asia. Sehingga sangat terkesan ada upaya untuk melirik pasar Asia, yang kebetulan memang sebagian besar penduduk Asia tergantung kepada beras sebagai bahan makanan pokoknya.
Kita lihat saja nanti, apakah beras ini dapat diterima oleh konsumen di Asia atau tidak. Yang terpenting di dalam bidang genetika dan bioteknologi tanaman, peneliti-peneliti di bidang ini dituntut untuk menemukan manfaat berbagai jenis gen di dalam tanaman termasuk kedua gen tersebut untuk keperluan pemuliaan tanaman. Untuk tujuan lain misalnya komersialisasi memang perlu dikaji lebih jauh lagi secara komprehensif.
Artikel terkait :
- Paten Beras Beraroma Thailand Pada akhir bulan Oktober 2005 yang lalu Thailand mengklaim bahwa tim peneliti mereka berhasil menemukan dan mempatenkan sekuens gen pada...
- Pengembangan Padi Hibrida untuk Meningkatkan Produksi Beras Sampai saat ini, nasi masih merupakan pangan utama bagi penduduk Indonesia. Konsumsi beras penduduk Indonesia masih mencapai 559 gram (setara...
- Nyamuk transgenik, strategi baru pengontrol Malaria Negara-negara tropis dan subtropis, termasuk Indonesia, masih direpotkan oleh penyakit malaria. Penyakit ini merupakan penyakit yang sudah lama dikenal, namun...
- Pakar Transgenik Inggris : Tidak Perlu Dikhawatirkan Penelitian terbaru yang dilakukan para pakar bioteknologi di Inggris dan didukung pemerintah Inngris, baru-baru ini menyimpulkan – bahwa tanaman hasil...
- Senyawa DNJ, Calon Obat Diabetes dari Tanaman Murbei Tanaman murbei dikenal sebagai pakan ulat sutera dalam aktivitas persuteraan alam. Di lain pihak, daun murbei juga telah diketahui merupakan...



