Saya tidak sedang membicarakan teori evolusi Darwin dalam The Origin of Species tentang seleksi alam. Saya juga tidak sedang bicara tentang “survivor” (korban yang selamat) pada bencana banjir bandang dan tanah longsor di Jember dan Banjarnegara. Tetapi memang keduanya ada kaitannya. Tulisan ini berasal dari kegeraman hati saya ketika melihat iklan layanan “sabar” yang dipampang di jalanan utama menuju tempat bencana banjir bandang di Jember yang saya lewati akhir pekan lalu. “Sabar adalah sebagian dari iman,” kata iklan layanan itu, menghimbau agar para korban bersabar terhadap bencana yang menimpa mereka. Iklan layanan serupa pernah ditayangkan di televisi ketika rakyat tertimpa “bencana” kenaikan harga BBM hingga 100% lebih hanya dalam semalam. Dikatakan bahwa bencana-bencana seperti itu adalah cobaan Tuhan, sehingga masyarakat dihimbau agar bersabar.

Bencana banjir bandang Jember atau tanah longsor di Banjarnegara bisa saja dianggap murni merupakan “ulah” alam yang manusia tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan identifikasi awal dan merencanakan langkah evakuasi. Karena ulah alam, maka tak perlu menyalahkan siapa-siapa. Iklan layananan itu seolah-olah mengatakan tak perlu menuduhkan sesuatu yang tak terbukti seperti illegal logging, penggundulan hutan, dsbnya sambil berusaha mati-matian untuk menjelaskan foto daerah yang longsor penyebab banjir bandang yang bagian atasnya adalah perbukitan yang hanya ditumbuhi oleh ilalang. Jadi sabar adalah langkah yang tepat untuk menghadapi bencana yang tidak bisa diprediksi ini. 

Jangankan tanah longsor atau banjir bandang yang dengan mudah bisa dilemparkan tanggung-jawab itu ke alam pembawa bencana, “bencana” kenaikan harga BBM beberapa bulan yang lalu sekalipun yang gelombangnya masih terus menggilas kehidupan rakyat hingga sekarang dianggap berasal dari faktor eksternal atau cobaan dari Tuhan yang harus dihadapi dengan sabar. 

Dan yang lebih anehnya masyarakat pun menerima kondisi seperti ini dengan “sabar” pula. Mungkin memang bangsa ini teramat religius, sehingga mereka menganggap apa yang menimpa mereka semata-mata datang dari Tuhan mereka, dan mereka tinggal menadahkan tangannya ke langit atau kepada siapa saja yang merasa iba terhadap kondisi mereka. 

Atau mungkinkah ini merupakan fenomena sosial sebuah masyarakat yang sakit yang sudah apatis dan kehilangan harapan untuk hidup? Gelombang liberalisasi dunia telah “menghempaskan dan mengandaskan” mereka secara ekonomi dan sosial. Sementara para elite politik terus-menerus berusaha menyangkal tanggung jawab untuk memberikan jaminan hidup bagi mereka. Tingkah laku para elite kekuasaan seperti ini mungkin telah membuat sebagian besar masyarakat telah kehilangan tanggung-jawab sosial mereka, sehingga menjerumuskan mereka ke dalam kancah persaingan bebas yang tidak mempedulikan nasib sesamanya. 

Bisa dibayangkan apabila sebuah masyarakat telah terjerumus pada gelombang peraduan kekuatan untuk saling “membunuh” lawan agar bisa “survive”. Manakala tanggung jawab sosial yang merupakan aspek yang sangat esensial yang menjadi perekat eksistensi sebuah masyarakat terus-menerus tergerus, maka tinggal tunggu saatnya saja masyarakat itu akan kolaps. 

Tidak perlu heran pada saat Anda mengendarai mobil di jalanan Jakarta tiba-tiba ada mobil merebut jalur Anda atau berhenti tepat di depan mobil Anda yang sedang melaju, atau melihat deretan mobil angkot yang parkir hingga lima sampai enam baris dan menyisakan tinggal satu lajur saja dari jalan yang tadinya lebarnya lebih dari 10 meter. Dan tidak perlu heran pula dengan isu formalin dan bakso daging tikus, atau praktek-praktek penipuan dengan segala macam bentuknya yang meraja-lela di masyarakat. Atau apa yang aneh dengan amblesnya sebuah jalan tol yang baru beberapa bulan diresmikan. Dan apa yang aneh pula dengan segala kontradiksi seperti isu para wakil rakyatnya yang pergi “pelesiran” ke luar negri pada saat sebagian rakyatnya mati kelaparan. 

Ini bukanlah masalah keterbelakangkan teknologi atau isu kemiskinan dunia ketiga, tetapi sebuah fenomena masyarakat yang moralnya telah korup. Saling khianat-mengkhianati dan peras-memeras sepertinya sudah menjadi hal yang biasa berlaku di masyarakat. 

Penguasa memeras birokrat, birokrat memeras pengusaha, pengusaha memeras konsumen dan rakyat. Konsumen yang mempunyai akses terhadap kekuasaan akan merasakan kenikmatan dengan kondisi ini, sedangkan rakyat yang lemah akan terus tergilas oleh roda “kejamnya dunia”. Sementara itu para penguasa seperti merasa puas dengan program jejaring sosial seperti bantuan tunai langsung untuk menjaring mereka yang terhempas dari laju roda persaingan. 

Ketika membaca berita, untuk beberapa hari terakhir saja, seperti seorang ibu membakar dua orang anaknya karena depresi berat akibat tekanan hidup, atau seorang anak menelantarkan ayahnya di kolong jembatan hingga mati, atau seorang ayah yang tega menyeterika anaknya karena alasan yang sama, sepertinya kita membayangkan bahwa itu semua terjadi di domain lain di dunia lain dan zaman lain. Tetapi senyatanya itu terjadi di bumi ini, di tanah air ini dan saat ini.

Poorly-adapting companies will be forced out by better-adapting ones: “killed” by the competition. Fenomena yang dijelaskan oleh Herbert Spencer dalam bukunya The Man Versus The State (1884) ini sepertinya sedang melanda bangsa ini dan terus menariknya menuju pusat pusaran yang siap menelan mereka. Inikah yang dicapai setelah reformasi mencapai umur hampir 10 tahun sejak krisis melanda bangsa ini?

Energi yang luar-biasa besarnya sepertinya diperlukan untuk mengangkat bangsa ini dari kondisi yang sakit ini. Energi yang besar ini hanya datang dari pemimpin yang mempunyai integritas moral yang tidak korup. Akan tetapi mengharapkan hal itu dari para pemimpin negeri ini sepertinya hanya akan menyesakkan dada orang-orang yang berharap. 

Jalan ke depan tidaklah semuanya suram. Kalau melihat para pemuda dan mahasiswa relawan yang tulus bersemangat menggali lobang atau mengangkut batu dan pasir untuk membuat instalasi air bersih untuk korban bencana banjir bandang di Jember, sepertinya harapan itu masih bisa bersemi. Di pundak merekalah harapan itu tertumpu.

Pencarian artikel ini: