Banyak dikalangan kita yang tak menyadari bahwa rusaknya hutan magrove tak sekedar pengikisan pantai dan pembibitan ikan. Namun, rusaknya hutan mangrove ini berarti melepas CO2 yang telah berabad-abad tersimpan di lumpur mangrove selama ini. 

Menurut Prof. Jin Eong Ong, ilmuwana dari Universitas Sains Malaysia (USM) dalam acara International Media Roundtable di Nusa Dua Bali, Bali (4/6) belum lama ini, mengatakan, kerusakan mangrove ini akibat pengalihan fungsi lahan menjadi tambak udang. Tak kurang karbondioksida yang dilepas akibat rusaknya hutan mengrove di kawasan Asia Tenggara ini setara dengan emisi yang dikeluarkan 1,5 juta mobil. Sayangnya, angka yang luarbiasa dan mengejutkan ini tidak disadari oleh banyak orang. Padahal, dampak dari pencemaran karbondioksida ini demikian hebatnya. 

Mangrove, menurut Prof. Ong, tak hanya memberikan hasil berupa kayu dan ikan-ikan. Namun keberadaannya amat penting bagi fungsi ekologi dan fungsi lainnya. Seperti : menyerap karbondioksida, menyediakan saluran air yang bisa dilayari dan mencegah abrasi. 

Sayang, fungsi mangrove sebagai penyerap karbondoksida kurang dikenal masyarakat, sehingga mereka tak menyadari bahwa pembabatan mangrove- untuk tambak atau kerusakannya berarti mengurai karbondioksida yang telah terkubur dalam lumpur selama berabad-abad. Ia terlepas bebas ke udara. Jadi, perlu pengarahan agar para pengelola tak lagi membuat tambak udang dengan cara mengubah lahan mangrove menjadi lahan tambak udang. Tak mudah, tapi itulah resiko yang harus ditempuh bila tak ingin kerusakan mangrove akan seperti terumbu karang.

Pencarian artikel ini: