Bagi sebagian orang di Indonesia, kita dapat merasakan sebuah gairah yang sukar dilukiskan setelah melihat penampilan tim PSSI dalam 3 kali pertandingan melawan tim-tim kuat asia beberapa bulan yang lalu. Walaupun PSSI gagal untuk melaju ke babak final AFC, kita tetap bisa melihat adanya nuansa bangkitnya sepak bola di negeri kita.

Dunia olahraga memang teramat unik. Karena dia bisa menyedot perhatian dan emosi sebuah negara bahkan dunia. Dari media massa dapat kita lihat bagaimana bergairahnya rakyat Indonesia dalam menunggu tampilnya tim Indonesia. Berbagai harapan dan dukungan pun bermunculan. Animo masyarakat tinggi sekali untuk menonton tim kesayangan kita melalui layar televisi maupun langsung datang ke lokasi. Kesan yang bisa kita tangkap adalah, kita bisa secara lapang dada dan bergembira menerima kekalahan demi kekalahan kita. Pasalnya, kita hanya kalah tipis dari negara-negara yang sudah biasa malang melintang mewakili Asia dalam piala dunia. Kekalahan yang sering menimbulkan kekecewaan dan tindakan merusak, tidak terlihat muncul pada kekalahan tim Indonesia di dua kekalahan terakhir AFC. Sportifitas penonton Indonesia yang tertib-pun patut diapresiasi. Itulah kesan yang dapat kita rasakan, sehingga kegagalan tim Indonesiea justru menghasilkan gairah dan rasa percaya diri besar akan bangkitnya sepak bola Indonesia.

Sebelumnya, Indonesia tidak hanya mengalami kemunduran pada dunia persepakbolaan Indonesia. Jatuh bangun bangsa Indonesia diawali sejak terpuruknya kondisi ekonomi pada tahun 1997 dimana krisis moneter telah menularkan krisis-krisis di sektor lainnya. Di samping itu bencana alam seperti gempa bumi tektonik, tsunami, mud volcano, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, serta musibah kecelakaan seperti kecelakaan pesawat terbang, kapal laut, kereta api, bus dan lain-lain telah menghiasai perjalanan hidup bangsa ini. Saat ini kondisi pemanasan global (global warming) telah menjadi isu internasional di mana bangsa kita juga telah dituduh sebagai salah satu bangsa yang berperan dalam meng-emisi-kan gas rumah kaca. Bahkan Indonesia dimasukkan salah satu lembagai internasional sebagai negara yang paling banyak melakukan perusakan lingkungan hidup. Di sisi lain kita juga telah mendapat tekanan dimana travel banned (larangan perjalanan) telah diberlakukan oleh negara-negara seperti Uni Eropa. Seluruh maskapai penerbangan Indonesia dilarang terbang ke Uni Eropa dan sekarang malah kabarnya Arab Saudi mulai memberlakukan hal yang sama di mana maskapai penerbangan Garuda dilarang masuk ke wilayah Arab Saudi.

Oleh karena itu patut kiranya bahwa bangsa ini mulai menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tidak seperti yang mereka sangka. Untuk membangun semangat yang ditunjukkan oleh tim PSSI memang perlu waktu, tapi kalau tidak dimulai kita akan terus terpuruk seperti apa yang terjadi saat ini. Oleh karena itu, kegairahan kita akan masa depan sepak bola Indonesia, sangat diharapkan juga bisa memberikan gairah yang sama bagi sektor-sekor yang lain, termasuk dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi negeri ini.

BOLA BANGKIT, IPTEK BANGKIT..!

Kalaulah bola dengan segala permasalahan yang membelit negeri kita ini bisa bangkit, harapannya adalah sektor yang lain juga mampu mencontoh kebangkitan kita dalam dunia bola ini. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kita untuk bangkit, kalau kita mau!

Bulan depan adalah bulan yang penting bagi teknologi Indonesia. Mengapa demikian ? Karena bulan ini ada Hari Teknologi Nasional (Harteknas) yang jatuh pada tanggal 10 Agustus. Selain itu, Indonesia juga akan menjadi tuan rumah dalam acara United Nations Framework Conventions on Climate Change (UNFCCC) ke-13 pada tanggal 3-14 Desember tahun ini.

Walaupun ada banyak permasahalan yang membelit negeri kita, tetapi hal ini bisa dipandang sebagai tantangan yang perlu kita hadapi dengan sebuah semangat besar yang memunculkan stress positif agar kita dapat bangkit. Mungkin kita di dalam segala lini juga bisa memberikan pertanggungjawaban kepada dunia akan kepedulian kita pada lingkungan hidup kita sebagai bangsa dunia. Seperti yang dipaparkan oleh bapak Kepala BPPT, Bapak Prof. Said Djauharsyah Jenie dalam mottonya “Hanya satu Bumi” pada HUT BPPT tahun ini. Maka, sudah saatnya kita juga bergairah untuk memberikan perhatian bagi lingkungan hidup di Indonesia.

Tidak semua tudingan yang terkait dengan isu lingkungan tersebut diatas perlu kita tanggapi. Beberapa hal, bisa saja disebabkan oleh timbulya kekhawatiran akan kebangkitan Indonesia dalam percaturan ekonomi dunia. Akan tetapi, untuk isu-isu yang secara nyata memang menjadi kelemahan kita, seperti mulai munculnya titik-titik api yang kembali mengganggu negara tetangga dalam bentuk asapnya.

Apabila kita mampu merespon tudingan dunia dengan sebuah bukti nyata seperti cepat tanggapnya tim remote sensing Indonesia ketika adanya titik api, cepat tanggapnya tim kebakaran hutan indonesia, maupun kuatnya kemamuan kita dalam membangun kebijakan yang tegas kepada pihak-pihak yang melakukan pembakaran hutan.

Bagaimana agar semua kejadian periodik tersebut tidak terulang kembali, maka dibutuhkan peran IPTEK untuk dapat mengatasi masalah tersebut. Berbagai hasil riset yang sudah dilaksanakan terutama dalam hal riset kebumian sudah saatnya untuk segera dijabarkan dalam bentuk Standard Operating Procedure (SOP) agar dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Sebagai contoh riset di bidang pemanasan global (global warming), dimana kita harus memelihara dan menjaga lingkungan dengan penuh kedisiplinan. Begitu juga dengan riset seismisitas di Indonesia di mana hasil riset menunjukan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia merupakan daerah yang rawan terhadap kejadian gempa bumi dan tsunmai. Oleh karena itu hasil riset ini segera mungkin untuk dijadikan sebagai acuan bagi diberlakukannya SOP agar dalam pengembangan daerah tersebut merujuk pada hasil riset.

Agaknya banyak hal yang dapat dipecahkan bersama-sama, sehingga tumbuh kemauan yang kuat untuk membuat sebuah kebiasaan hidup yang disiplin. Dengan demikian secara otomatis, kita sudah memiliki pola perilaku yang bertanggungjawab dalam menjaga lingkungan hidup negeri kita. Besarnya perhatian dari jajaran puncak sampai tingkat terbawah dari penyelenggara negara, agaknya sangat diharapkan sebagai pertanggungjawaban kita kepada masyarakat dunia dan generasi penerus. Bahwa kita juga perduli dengan lingkungan hidup kita. Saat ini adalah waktu yang tepat, sejalan dengan semangat pertemuan UNFCCC dan Hari Teknologi Nasional.

Marilah kita jadikan tahun ini sebagai tahun kebangkitan indonesia, dengan bergerak secara bersama-sama, bergandengan tangan menuju Indonesia yang Mandiri, Damai dan Sejahtera.

Pencarian artikel ini: