Tak diragukan lagi, selain terkenal dengan mega biodiversity, tak diragukan lagi- Indonesia adalah negara kepulauan. Namun, kenyataannya saat ini produk kerang-kerangan kita sudah ‘diboikot” oleh negara-negara Uni Eropa karena kita tidak mempunyai program pemanfaatan pencemaran di lokasi kerang-kerangan tersebut diambil . 

Padahal, belum lama berselang, udang-udang kitapun ditolak karena diduga mengandung bahan antibiotika. Dan, sekarang menyusul kerang. Kondisi ini mencerminkan betapa tingginya kondisi pencemaran di wilayah pulau Jawa dan Indonesia bagian barat. 

Sebagai negara maritim, lautan Indonesia mengandung sumberdaya hayati laut dan pesisir yang kaya dan paling beragam diantara negara-negara tropika. Mangrove, terumbu karang, sumberdaya perikanan dan wisata bahari memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi perekonomian negeri ini. Tapi, jumlah pertumbuhan penduduk yang tinggi disertai makin meningkatnya pencemaran dan kerusakan habitat fisik yang serius, amat mengancam keberlanjutan produktivitasnya. 

Salah satu hal yang paling mendasar adalah upaya menanggulangi dampak negatif tersebut adalah bagaimana memelihara mutu air laut yang menjamin berlangsungnya kehidupan biota didalamnya. Dan, hal ini tentu saja perlu ditentukan kriteria mutu air laut yang melindungi kehidupan biota akuatik, kesehatan manusia serta penggunaan air laut untuk industri, pariwisata dan perikanan. Karena bila mutu air laut baik, maka kerusakan habitat dan populasi biota laut yang tereksploitasi berlebihan akan pulih secara alami asal ancaman-ancaman dapat dihentikan. 

Dan, sebelum melangkah lebih jauh, yang perlu diperhatikan adalah apa yang disebut mutu air laut dan bagaimana memformulasikannya. Hal ini nampaknya yang perlu dijawab dalam seminar hari ini. 

Hal lainnya yang menjadi sorotan seminar adalah : masalah pencemaran air laut, kriteria mutu air laut, dan ketiga baku mutu air laut. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana memformulasikannya. 

Kegiatan ini memang memerlukan dana yang cukup besar. Data uji Toksisitas saaj sangat langka, terutama untuk biota dari perairan tropika. Karenanya harus dikembangkan laboratorium-laboratorium uji toksisitas atau ekotoksikologi. 

Laboratorium PUSARPEDAL di Serpong , seharusnya menjadi laboaratorium rujukan nasional yang membina jaringan dan secara periodik melakukan interkalibrasi dengan laboratorium-laboratorium yang menjadi simpul-simpul dalam jaringan nasional. 

Upaya ini memang memerlukan dana yang cukup besar. Masalah SDM juga merupakan faktor kunci utnuk merealisasikannya. Apalagi, perdagangan global nantinya sangat terkait dengan masalah lingkungan. 

Dengan kata lain pemerintah saja dengan satu lembaga tidak cukup, namun perlu dilibatkan pemerintah daerah yang mengelola secara professional. Dan, ini juga satu hal yang perlu dibahas, mengingat batas-batas perairan laut / sungai kadang melintasi berbagai dearah. Seperti : sungai Me Khong, Sungai Tigris atau Rhaine yang melintas antar negara hingga akhirnya dikelola secara bersama antar negara. Demikian juga kita yang melewati antar pulau atau daerah.

Pencarian artikel ini: