Pencemaran laut oleh bahan kimia kian marak. Hal ini berdampak buruk pada flora maupun fauna yang menghuninya. Seperti yang tejadi baru -baru ini di perairan utara Jakarta, walaupun pihak Kantor Lingkungan Hidup Daerah (KLHD) Jakarta Utara belum bisa memastikan dari mana asal pencemaran yang telah membunuh ratusan di wilayah tersebut.

Dari sampel yang diambil di dua lokasi, di wilayah Kali Baru, Kecamatan Cilincing, dan daerah di dekat proyek BKT, Marunda, Kecamatan Cilincing, ditemukan setidaknya ada empat indikasi pencemaran yang tingkatnya sudah jauh diatas batas Baku Mutu. Diantaranya adalah Asam Amonia, Nitrat, Chemical Oxygen Demand (COD), dan Biological Oxygen Demand (BOD).

Untuk jumlah kandungan Amonia per liter air laut, di Kali Baru terdapat sebanyak 1,25 miligram, dan di Marunda sebanyak 0,50 miligram. Jumlah keduanya sudah melebihi batas normal yang hanya 0,3 miligram per liter.

Sementara untuk Nitrat, di Kali Baru ditemukan sebanyak 0,1 miligram per litar, dan di Marunda 0,05 miligram per liter. Jumlah ini jauh diatas ambang batas normal sebesar 0,008 miligram per liter.

Pencemaran juga ditemukan melalu penelitian berdasarkan kebutuhan oksigen biologis (BOD), dan kebutuhan oksigen kimia (COD). Jika BOD dan COD menurut satndar baku mutu seharusnya hanya 10 sampai 20 miligram per liter air laut, di Kali Baru dan Marunda masing masing sebanyak 45,40, dan 44,70 miligram per liter. Untuk COD, di Kali Baru dan Marunda masing-masing sebesar 128,83, dan 98,08 miligram perliter.

“Jadi memang sudah jelas kalau ikan-ikan yang mati belakangan di pesisir pantai Jakarta Utara adalah akibat terjadinya pencemaran,” ujar Razak Rasyidi, Kasi Fasilitas dan Pengaduan Masyarakat KLHD Jakarta Utara saat ditemui di KLHD, Kamis (28/5).

Begitupun, pihak KLHD menurut Razak belum bisa memastikan dari mana asal pencemaran yang diketahui sudah menyurutkan usaha perikanan di Jakarta Utara tersebut. Razak menuturkan bahwa sejauh ini, KLHD menduga ada tiga sumber yang mungkin jadi penyebab pencemaran. Pertama adalah limbah domestik yang dialirkan warga, limbah dari kapal laut yang berlabuh di Jakarta Utara, dan limbah industri.

Untuk limbah domestik, menurut Razak kecurigaan timbul karena biasanya kematian ikan-ikan akibat pencemaran hanya terjadi pada hari-hari libur seperti Sabtu dan Ahad. “Jadi bisa saja dari sampah warga yang berekreasi,” kata Razak.

Sementara untuk limbah industri, kecurigaan timbul karena selain ada beberapa perusahaan yang membuang limbahnya ke sungai, ditemukan juga buih-buih berwarna putih yang mengandung bahan-bahan kimia di perairan tempat biasanya ikan-ikan ditemukan mati.

Saat ini KLHD sedang merancang sebuah peta besar yang bisa menggambarkan arus lalu-lintas pembuangan limbah di Jakarta Utara. Diharapkan pihak KLHD, peta tersebut akan mampu memberikan penjelasan tentang siapa yang paling bertanggung jawab mencemari laut di Jakarta Utara.

Seperti diberitakan sebelumnya, pencemaran di laut Jakarta Utara ini sudah menyebabkan goyahnya perekonomian para nelayan di sana. Sebagian terpaksa tidak melaut karena untuk mendapatkan ikan kegiatan melaut saat ini harus dilakukan jauh sampai ke laut lepas yang membutuhkan banyak biaya. Beberapa juga terpaksa mengambil hutang pada rentenir-rentenir untuk melanjutkan usahanya karena pendapatan yang menurun drastis sejak laut mulai tercemar.

Seorang pengusaha ikan di kawasan Kali Baru berharap pemerintah memperhatikan masalah pencemaran ini karena menyangkut kehidupan seluruh nelayan di Jakarta Utara.

sumber :Republika.co.id

Pencarian artikel ini: