Dalam jurnal “Nature Neuroscience” dimuat pengamatan atas seorang pasien yang sepuluh tahun yang lalu menerima transplantasi sel otak yang diambil dari bayi korban aborsi. Pengamatan terakhir menunjukkan bahwa pemindahan sel otak pada salah satu otak pasien Parkinson memungkinkannya masih berfungsi dengan baik setelah transplantasi berjalan sepuluh tahun.
Penyakit Parkinson yang menyebabkan gerakan lamban, kaku dan gemetar bisa terjadi pada satu diantara seribu orang dewasa . Gejala ini disebabkan oleh hilangnya jenis sel tertentu yang terdapat pada bagian otak yaitu syaraf pengendali gerak. Para peneliti menggunakan teknik baru pemeriksaan otak (scanning ) untuk memperlihatkan bahwa pemindahan sel ini tidak hanya berhasil namun ternyata melepaskan juga senyawa kimia dopamine. Senyawa tersebut mengurangi atau meringankan gejala-gejala penyakit Parkinson.
Dr Paola Puccini salah satu anggota tim peneliti dari Sekolah Tinggi Kedokteran Imperial College mengatakan bahwa transplantasi tersebut bekerja terutama karena sel otak (neuron) yang ditransplantasikan tidak dipengaruhi oleh penyakit Parkinson hingga dapat terus berfungsi secara normal.
Sebaliknya sekelompok peneliti lain dari Amerika Serikat – yang hasil penelitiannya belum dipublikasikan – dengan mengamati proses transplantasi serupa pada sejumlah pasien yang lebih banyak mengisyaratkan bahwa tranplantasi tersebut tidak memberikan harapan yang besar. Dr Puccini berpendapat bahwa hal tersebut tidaklah mengherankan karena sangat rumitnya teknik yang dilakukan.
Selanjutnya Dr.Puccini berujar bahwa penelitian lanjutan yang terbaik adalah mencari sumber sel-sel otak untuk transplantasi dari sumber yang tidak kontroversial, atau dengan kata lain sel-sel otak yang akan ditransplantasikan tidak berasal dari bayi korban pengguguran



