Clive McCay, seorang peneliti asal Universitas Cornell, Amerika Serikat melakukan eksperimen terhadap seekor tikus putih. Dari hasil percobaannya ternyata tikus yang dibatasi masukan kalori pada tubuhnya lebih bisa bertahan hidup dibanding yang tidak. Dari sini muncul berbagai hipotesis kemungkinan memperlambat ketuaan dengan jalan berpuasa. Karena masih di bulan Ramadhan, pembahasan seputar ini tentunya akan lebih berkesan.
Menurut Clive, yang melakukan eksperimen terhadap tikus putih ini – biasanya seekor tikus hanya mampu bertahan hidup sekitar 33 minggu. Namun, ketika dibatasi kalori yang masuk ke dalam tubuhnya, umur maksimal hewan ini mencapai 47 minggu. Dari sini akhirnya muncul beberapa hipotesis tentang kemungkinan memperlambat ketuaan melalui jalan berpuasa.
Tentu saja, langkah ini tentu saja bisa merupakan salah satu alternatif untuk menekan anggaran belanja yang dipakai untuk beragam suplemen makanan yang kini gencar dipromosikan.
Mengetahui sangat sedikitnya ilmuwan Barat yang menjadikan puasa sebagai obyek penelitian, salah seorang dokter asal FKUI bagian penyakit dalam, Siti Setiati – mengadakan penelitian serius tentang manfaatnya berpuasa terhadap tubuh – dalam beberapa tahun belakangan ini.
Inisitaifnya berawal dari penelitian berpuasa di manca negara yang dilakukan oleh Clive tadi.
Dalam penelitiannya, sekitar 63 pasien rawat jalan klinik yang berusia 55-76 tahun dijadikan responden oleh tim yang dipimpinnya. Radikal bebasnya masing-masing diukur (pra/pasca ramadhan), yakni komponen labil yang dihasilkan dari proses oksidasi yang bisa merusak sel dan menyebabkan berbagai penyakit, termasuk penuaan.
Dari hasil yang ada, tercatat adanya penurunan 15% selama puasa. Restriuksi kalori ini menjadikan radikal bebas anjlok sampai 90%.
Pasca ramadhan, kembali naik tetapi masih jauh lebih rendah ketimbang pra ramadhan. Tahun berikutnya, ia meneliti khasiat puasa dengan cara melibatkan 15 laki-laki sehat. Kadar radikal bebas kembali terbukti terpangkas sampai 90%. Selain itu kadar antioksidan terdongkrak sampai 12%.
Apa sih radikan bebas. Radikan bebas itu sebenarnya adalah efek yang selalu menyertai metabolisme. Membanjirnya hal ini bisa merusak sel tubuh yang gilirannya akan mempercepat proses penuaan. Ia pun sering menjadi biang beragam penyakit. Dengan adanya antioksidan, lajunya bisa dikendalikan. Sayangnya, yang bersifat alami tidak cukup, sehingga perlu didatangkan dari luar.
Nah, disinilah antara lain peranan sayur dan buah sebagai konsumsi makanan. Dan dunia farmasi mengantispasinya dengan mempersembahkan berbagai suplemen makanan. Ini sebenarnya baik, namun para ahli pun masih berselisih paham soal efektivitasnya. Selain menambah kocek pengeluaran, food suplemen ini juga bisa membawa dampak buruk bila dipakai secara over dosis.
Karena itulah, maka berpuasa dianggap sebagai alternatif untuk mengantisipasi hal tersebut. Namun, hal ini tak banyak mafaatnya bila setelah anda berbuka puasa anda memakan dengan makanan yang berlebih-lebihan



