Teknologi penggunaan nuklir di bidang kedokteran di Indonesia telah diperkenalkan 20 tahun yang lalu. Meski informasi yang dihasilkan lebih akurat, namun sampai saat ini masih belum berkembang, khususnya di bidang kedokteran. 

Hal ini dapat kita lihat dalam Seminar Aplikasi Teknologi Nuklir yang diselenggarakan Batan (Badan Tenaga Atom Nasional) bekerjasama dengan IAEA (Badan Atom Internasional) di Jakarta, kamis kemarin (15/2). 

Seminar ini juga dihadiri oleh para pakar teknologi dari berbagai negara. Diantaranya : Sucho Machi (Jepang), Mr. Hans Holger Rogner dan Mr. Steffen Groth (IAEA), Ms. Agnette Peralta ( Filipina) dan Mr. Anura Krpad (India). Sementara para pakar dari Indonesia diantaranya : Kunto Wiharto, Azhar Djaloieis, Ariono, dan sebagainya. 

Menurut Kunto Wiharto, spesialis kedokteran nuklir yang juga menjabat Kepala Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir Batan menjelaskan, bahwa dibanding pemeriksaan laboratorium biasa, konsep diagnosis memakai teknik nuklir, jauh lebih akurat dan rinci. 

Menurut Kunto, teknik laboratorium biasa hanya dapat mendeteksi secara umum kondisi penyakit pasien.Sementara sensivitasnya untuk mendeteksi wilayah tubuh abnormal masih kurang. 

Kunto menjelaskan teknologi nuklir yang dikembangkan Indonesia saat ini adalah teknik in vivo dan in vitro. Metode ini juga bisa mengukur kadar hormon atau kadar obat bagi penderita narkotik. 

Teknik in vivo mendiagnosis pasien dengan memasukkan unsur radioaktifnya ke dalam tubuh pasien. Bisa dengan cara di suntik, di masukkan melalui lubang pernafasan atau di minum. Keuntungannya, metode ini akan memberikan informasi keseluruhan kondisi pasien. Contohnya, dapat diketahui tingkat keparahan kanker payudara. Apakah sudah cukup parah (mengenai organ tulang) ataukah belum. Meski aman , namun banyak pasien yang menolak tubuhnya di masukkan unsur radioaktif. 

Sedang in vitro, teknik diagnosis dengan mengambil contoh darah pasien lalu dicampur dengan isotop radioaktif dalam tabung reaksi. Kekurangannya, teknik ini tidak bisa digunakan untuk menggambarkan keseluruhan kondisi tubuh pasien. 

Jadi, menurut Kunto nampaknya teknologi nukir di Indonesia, masih tertinggal dan kurang berkembang. Dan ini tentunya perlu perhatian yang lebih serius

Pencarian artikel ini: