Menurut suatu studi yang dilakukan oleh Peneliti Marc Breedlove dkk. dari Universitas California Berkeley yang dimuat di jurnal “Nature” edisi 30 Maret y.l. perbandingan panjang relatif antara jari telunjuk dengan jari manis dapat menunjukkan orientasi seksual seseorang apakah ia tergolong seorang homoseksual dan lesbian atau bukan. “Nature” termasuk jurnal ilmiah terpandang terbitan Inggris sedangkan Marc Breedlove adalah pakar untuk bidang keahlian syaraf (neuroscientist).
Pokok hasil penelitian Breedlove menyimpulkan bahwa pada kebanyakan wanita normal panjang jari telunjuk hampir sama panjangnya dengan jari manis. Sementara pada kaum lesbian umumnya jari telunjuknya lebih pendek dari jari manis. Pada hasil penelitian Breedlove kebanyakan pria normal yang bukan homoseksual panjang jari telunjuk adalah sedikit lebih pendek dibanding jari manis, yakni sekitar 5%.

Menurut telaah statistik kesimpulan riset yang didapat angkanya tergolong meyakinkan, walau Breedlove mengisyaratkan bahwa temuannya amat meyakinkan hasilnya terutama jika diaplikasikan untuk kaum wanita terhadap pengamatan pada telapak kanan dibanding atas tangan kiri. Dan angka statistik untuk kasus lesbian juga jauh lebih meyakinkan dibanding temuan pada pria homoseksual. Pada kasus pria homoseksual angka statistiknya agak samar untuk dapat meyakinkan adanya perbedaan antara pria normal dibanding yang homoseksual. Untuk temuan pada kaum pria pun terungkap dengan lebih agak nyata pada pengamatan atas jari-jari tangan sebelah kiri kaum pria yang jadi obyek penelitian.

Penelitian Breedlove telah meneliti 720 sukarelawan dan surveynya dilaksanakan di pusat keramaian sekitar Bay Area,California. Selain mengumpulkan data image berupa foto copy telapak tangan kanan dan kiri sukarelawan, team juga melakukan wawancara mengenai orientasi seksual dan rincian riwayat keluarga kepada para obyek studi Breedlove termasuk ahli yang mempercayai kaitan antara pembentukan orientasi seksual serta sifat maskulinitas pria dan feminitas wanita pada saat menjadi dewasa dengan tinggi rendahnya kandungan hormon – testoteron dan androgen – yang terbentuk pada pertumbuhan manusia sejak dalam masa kandungan. Berdasar temuan penelitiannya Breedlove mengintepretasikan bahwa kasus lesbian terjadi karena janin yang lebih lama terpapar pada kandungan androgen yang tinggi semasa dalam kandungan . Sedang wanita heteroseksual atau yang bukan lesbian tidak mengalami kondisi demikian. Studi Breedlove sebenarnya selaras dengan beberapa riset terdahulu yang menunjukkan bahwa kaum wanita yang terkena kasus congenital adrenal hyperplasia, yaitu gangguan genetika yang menyebabkan timbulnya kadar hormon androgen yang ekstra tinggi semasa pertumbuhan janin, pada saat dewasa kebanyakan cenderung lebih tertarik kepada kaum sejenisnya

Pencarian artikel ini: