Apa itu Penyakit Zoonosis ?
Masih hangat dalam ingatan kita beberapa waktu lalu dengan munculnya kasus penyakit Anthrax yang menyerang ternak ruminansia di daerah Cibinong. Baru-baru ini kasus Anthrax kembali muncul di wilayah Tanah Sareal, Bogor. Hal ini membuat masyarakat was-was, terlebih setelah mereka tahu bahwa penyakit Anthrax selain dapat membunuh ternak yang terserang juga bisa menular ke manusia. Amankah susu sapi segar ataupun daging yang dikonsumsi selama ini?
Dalam dunia kedokteran istilah zoonosis digunakan untuk menyebut penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Selain Anthrax, penyakit zoonosis lainnya yang disebabkan oleh kuman sebut saja Q fever atau penyakit demam Querry. Seperti halnya Anthrax, penyakit Q fever selain menginfeksi manusia, juga menyerang ternak sapi, kambing, domba maupun ternak ruminansia lainnya. Penyakit zoonosis tersebut hingga kini masih merupakan misteri–terutama dalam hal cara diagnosis pada pasien. Penanganan kasus yang muncul biasanya hanya diatasi dengan pengobatan menggunakan antibiotic spektrum luas. Namun demikian–satu hal penting yang perlu diketahui, bahwa pengobatan suatu penyakit akan efektif apabila diagnosis dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Penyakit Q Fever disebabkan oleh kuman Coxiella burnetii, bersifat intraseluler serta menyerupai kuman gram negative (Baca et al., 1983). Q fever pertama kali dilaporkan di Australia pada tahun 1935 dan sejak itu hingga kini penyebaran penyakit ini telah melanda di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia (Derrick, 1937). Penularan Q fever ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi maupun melalui partikel debu yang terkontaminasi agen penyebab.
Gejala klinis Q fever pada manusia seringnya nampak ringan berupa demam menyerupai influenza dan sering pula diikuti dengan radang paru-paru (pneumonia). Apabila penyakit berjalan menahun (kronis), maka dapat mengakibatkan peradangan pada jantung (endocarditis)(Turk et al., 1976) yang bisa berakibat fatal bagi penderita. Demikian cukup membahayakan penyakit Q fever ini, sehingga dari segi kesehatan masyarakat veteriner perlu mendapat perhatian yang serius dari pihak-pihak terkait.
Kasus Wisatawan Jepang
Pada bulan September tahun 2001, 3 wisatawan Jepang berasal dari wilayah Hyogo, Tottori dan Aichi melakukan perjalanan inspeksi selama 11 hari ke lokasi peternakan sapi dan rumah pemotongan hewan (RPH) di Australia dan New Zealand. Sepulang dari kunjungan tersebut mereka merasakan demam, badan penat serta ngilu pada persendian. Meskipun tidak ditemukan gangguan pernafasan, pada pemeriksaan lanjutan mengindikasikan adanya gangguan fungsi hati dan trombocytonenia. Gejala-gejala klinis tersebut selaras dengan gambaran klinis Q fever. Selanjutnya pada pemeriksaan serologis dengan menggunakan immunofluorescence assay maupun enzyme linked-immunosorbent assay (ELISA) ditemukan adanya peningkatan titer antibodi IgM dan IgG hingga 4 kali lipat. Ketiga pasien tersebut akhirnya sembuh setelah diagnosis penyakit Q fever cepat dilakukan dan diikuti dengan pengobatan yang sesuai.
Pengembangan Teknik ELISA
Dengan kasus Q fever yang menyerang ketiga wisatawannya, pemerintah Jepang melalui Lembaga Nasional Penyakit Menular yang berkedudukan di Shinjuku-Tokyo kini sedang mengembangkan system pengawasan baru dalam pencegahan penyakit zoonosis. Riset dimulai dengan mengisolasi kuman Coxiella burnetii dan diteruskan dengan mengekstraksi protein lapis luar dari kuman tersebut. Protein ini selanjutnya digunakan sebagai bahan uji ELISA ataupun uji-uji lainya. Uji pendahuluan ELISA menggunakan ketiga serum pasien menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi masing-masing sebesar 93,8 dan 83,3 persen. Angka ini diperkirakan akan semakin besar bila sampel yang digunakan semakin banyak, yang berarti pula bahwa kemampuan ELISA dalam membantu diagnosis penyakit semakin akurat.
Selanjutnya uji ELISA tersebut akan digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap Coxiella burnetii pada serum-serum pasien rumah sakit di sebagian besar wilayah Jepang–yang secara klinis menunjukkan gejala tidak spesifik terhadap penyakit tertentu, dan diduga terinfeksi oleh kuman Coxiella burnetii. Melihat kronologis kasus Q fever yang menyerang ketiga wisatawan Jepang, nampaknya ada pelajaran berharga yang bisa diambil. Diagnosis penyakit cepat dilakukan sebelum jatuh korban yang dapat berakibat fatal, dan selanjutnya dilakukan pengawasan (surveillance) menyeluruh terhadap pasien rumah sakit yang diduga mengidap Q fever. Hal ini dilakukan tentunya dengan pertimbangan bahwa Q fever tergolong penyakit zoonosis yang cukup membahayakan bagi manusia. Uji laboratorium yang baik selayaknya memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, dan ELISA– nampaknya merupakan uji pilihan yang patut dipertimbangkan.
Selain efisien, ELISA juga efektif untuk pengujian dengan jumlah sample yang banyak. Akankah kelak pengawasan kasus Anthrax ataupun zoonosis lainnya di Indonesia diberlakukan seperti halnya kasus Q fever di Jepang? Semoga



