Baru-baru ini, ektrak daun jambu biji menjadi pusat perhatian karena dapat diharapkan berguna sebagai obat antivirus Dengue. Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah membuktikan bahwa ektrak daun jambu biji ini mampu menghambat perkembangbiakan virus Dengue. Terlepas dari sejauh mana data yang diperoleh untuk pembuktian ini, tentunya kita berharap agar ektrak ini benar-benar bisa digunakan sebagai obat untuk penyembuhan pasien yang menderita demam berdarah dengue (DBD).

Dua Jalan 

Untuk penanggulangan penyakit menular, biasanya ada dua pendekatan yang digunakan. Pertama adalah pengembangan obat untuk menyembuhkan pasien yang telah terinfeksi. Yang kedua adalah pengembangan vaksin untuk mencegah seseorang dari infeksi suatu agen penyakit. Mencegah artinya bukan mencegah dari infeksi itu sendiri, tapi mencegah agen pembawa penyakit menimbulkan gejala penyakit. Pemberian vaksin akan menimbulkan antibodi yang akan menetralisir agen pembawa penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Akibatnya, agen tersebut tidak bisa aktif lagi sehingga secara otomatis gejala tidak akan muncul. Kedua pedekatan ini perlu dilakukan karena, sayang sekali, tidak ada salah satu diantaranya yang memberikan efek sempurna. 

Untuk kasus infeksi virus Dengue, juga sama halnya. Kedua pendekatan ini dilakukan, namun sampai saat ini belum ada satupun yang memberikan solusi yang nyata. Vaksin tengah dikembangkan oleh beberapa institusi, termasuk tim dari Unair, namun belum sampai kepada hasil yang bisa digunakan. Pengembangan vaksin oleh Mahidol University, Bangkok, sekarang masih dalam tahap clinical trial. Kita masih harus menunggu hasil dari clinical trial tersebut, dan hasil itulah yang akan menentukan vaksin tersebut bisa digunakan atau tidak. Artinya, masih diperlukan waktu yang agak lama menjelang tersedianya vaksin yang bisa dipakai untuk pencegahan infeksi virus Dengue. 

Begitu juga halnya dengan obat. Peneliti dari Brazil menemukan bahwa galactomannan menghambat perkembangbiakan virus Dengue dan flavivirus lainnya baik secara in vitro (menggunakan sel) maupun secara in vivo (menggunakan tikus) (Ono et al, 2003). Tim peneliti Jepang juga membuktikan bahwa polyoxotungstate juga menekan replikasi virus Dengue secara in vitro (Shigeta et al, 2003). Begitu juga tim dari Prancis, menemukan bahwa obat antivirus yang sering dipakai seperti Ribavirin, interferon-alpha (IFN-alpha), 6-azauridine and glycyrrhizin secara in vitro menghambat replikasi virus Dengue (Crance et al, 2003). Sayang sekali, belum ada publikasi hasil penelitian lebih lanjut sehingga kandidat obat antivirus Dengue ini bisa dikembangkan menjadi obat yang bisa diberikan kepada pasien. 

Genom Virus Dengue dan Fungsinya 

Dalam rangka penemuan obat suatu agen penyakit, katakanlah Dengue, diperlukan pemahaman mekanisme replikasi virus di dalam sel inang (host cell). Untuk replikasi virus di dalam sel, selain protein (enzim) dari virus itu sendiri, beberapa enzim dari sel inang juga ikut berperan. Dan usaha untuk mencari faktor yang berperan dari kedua pihak (virus dan sel) juga terus dilakukan. 

Akan tetapi, pada kenyataannya, tidak mudah untuk mengidentifikasi faktor dari sel yang spesifik untuk virus tertentu. Kebanyakan faktor yang ditemukan lebih bersifat umum untuk berbagai macam virus. Karena itu, lebih mudah menganalisa dan mengidentifikasi faktor dari virus itu sendiri, karena ukuran genom virus jauh lebih kecil dibandingkan dengan ukuran genom sel. 

Virus Dengue diklasifikasikan ke dalam genus Flavivirus bersama virus Japanese encephalitis, Yellow Fever, West Nile, dan lain-lain. Seperti Flavivirus lainnya, virus Dengue memiliki RNA (single-stranded positive RNA) sebagai genomnya dengan panjang sekitar 11 kb (kilobasa) (Gambar 1). 


Gambar 1. Struktur genom virus Dengue
Pada bagian kutub, baik kutub 5′ maupun 3′ ada RNA yang tidak mengkodekan protein (noncoding region, NC). Walaupun tidak mengkodekan protein, struktur kedua RNA ini berperan penting dalam proses replikasi virus. Sisa genom RNA mengkodekan protein-protein yang dapat dibagi atas 2 grup, yakni protein structural (structural protein) yang membentuk tubuh virus, dan protein non-struktural (nonstructural protein, NS) yang penting untuk proses replikasi virus. 

Protein struktural ini membentuk “kulit” virus dan terdiri dari Capsid (C), Membrane (M), dan Envelope (E). Untuk Membrane (M), pertama terbentuk dulu pre-Membrane (prM), yang kemudian diuraikan oleh furin (sejenis protease) menjadi protein Membrane yang matang. Karena menjadi “kulit” virus, secara otomatis protein ini berada pada permukaan virus (Gambar 2), sehingga berperan pada proses masuknya virus ke dalam sel (virus entry). Terutama Envelope (E), yang berinteraksi secara langsung dengan reseptor yang ada dipermukaan sel. 

Sebaliknya, protein nonstruktural terdiri dari NS1, NS2A, NS2B, NS3, NS4A, NS4B, dan NS5. Semua protein ini diduga berfungsi untuk proses replikasi virus di dalam sel, namun hanya beberapa saja yang telah diketahui fungsinya secara detil. Diantaranya adalah protein NS3, adalah enzim helikase yang memisahkan benang ganda RNA (double-stranded RNA) yang menjadi produk sementara (intermediate product) yang terbentuk pada saat replikasi, menjadi benang RNA tunggal (single-stranded RNA). Ini telah dibuktikan juga pada flavivirus lainnya termasuk virus Japanese encephalitis (Utama et al, 2000). Selain itu, protein NS3 juga berfungsi sebagai enzim protease yang menguraikan poliprotein yang dihasilkan dari proses translasi menjadi masing-masing protein yang terpisah secara individu. 

Protein NS2B, berfungsi sebagai kofaktor yang membantu kerja protein NS3 sebagai protease. Sedangkan protein NS5 berfungsi sebagai polimerase, yaitu enzim yang membentuk barisan (anak) RNA sesuai dengan urutan RNA (induk) dalam proses replikasi RNA. 

Fungsi detil dari protein lainnya belum diketahui sampai saat ini. Namun dari protein yang telah diteliti secara detil, terbukti bahwa semua protein ini merupakan enzim yang mutlak diperlukan dalam proses replikasi virus di dalam sel. 

Pendekatan Molekuler 

Dengan mengetahui fungsi masing-masing protein dari virus ini, pendekatan untuk pengembangan obat antivirus relatif mudah dilaksanakan. Artinya, dengan memilih protein yang akan dijadikan target untuk pengembangan obat, proses screening untuk menentukan kandidat obat akan relatif mudah dilaksanakan dengan analisa secara in vitro efek kandidat obat tersebut terhadap aktifitas protein yang dijadikan objek. 

Dalam hal ini, pemilihan target protein sangat berpengaruh terhadap keberhasilan. Karena biasanya pada tahap screening kandidat obat, jumlah senyawa yang diuji sangat banyak, sehingga akan efesien jika analisa fungsi protein (misalnya aktifitas enzim) mudah dilakukan. 

Target yang banyak digunakan adalah enzim protease. Obat AIDS/HIV yang digunakan saat ini seperti amprenavir (Agenerase), indinavir (Crixivan), lopinavir/ritonavir (Kaletra), ritonavir (Norvir), saquinavir (Fortovase), and nelfinavir (Viracept) adalah inhibitor protease. Begitu juga dengan virus Hepatitis C, tengah dilakukan pengembangan inhibitor enzim protease. Baru-baru ini tim peneliti dari Boehringer Ingelheim Pharmaceutical Inc menemunak senyawa inhibitor protease (BILN 2061) yang bisa dijadikan kandidat obat antivirus Hepatitis C (Lamarre et al, 2003). Senyawa ini telah memasuki preclinical test. Karena itu, protease juga merupakan target yang potensial untuk penemuan obat antivirus Dengue. Dalam rangka penemuan tersebut, sekarang beberapa studi tentang enzim protease virus Dengue tengah dilakukan. 

Target yang lain adalah enzim helikase. Enzim ini belum lama dikenal, sehingga pengembangan obat melalui enzim ini boleh dikatakan pendekatan yang baru. Walaupun demikian, tim peneliti dari Bayer AG, Pharma Research, Jerman telahl menemukan kandidat obat antivirus Herpes (Herpes Simplex Virus,HSV) dari inhibitor helikase (Kleymann et al, 2003). 

Enzim ini juga target potensial untuk pengembangan obat, tidak hanya terhadap virus Dengue, tetapi juga flavivirus lainnya. Karena protease dan helikase difungsikan oleh protein NS3, dalam rangka penemuan inhibitor protease dan helikase ini, studi tentang protein NS3 banyak dilakukan, termasuk protein NS3 dari virus Hepatitis C. Kami juga telah melakukan studi tentang protein ini dan menemukan inhibitor helikase virus Japanese encephalitis (Hatsu et al, 2002). Namun sangat disayangkan, kandidat yang kami dapatkan berupa protein yang dengan berat molekul yang besar dan tidak stabil, sehingga sulit dikembangkan menjadi obat. 

Enzim polymerase juga dijadikan target penemuan obat antivirus. Acyclovir, misalnya, adalah obat Herpes Simplex Virus yang merupakan inhibitor polimerase. Ribavirin, yang sering dipakai untuk pengobatan berbagai penyakit infeksi, juga menunjukan aktifitas sebagai inhibitor polimerase (Zhou et al, 2003). Karenanya, enzim ini juga bisa dijadikan target untuk penemuan obat antivirus Dengue. 

Tiga enzim yang disebutkan diatas adalah enzim yang biasanya digunakan sebagai target penemuan obat. Pendekatan ini banyak dilakukan, apalagi dengan perkembangan bioinformatika, kandidat obat bisa didesign untuk kemudian diuji aktifitasnya. Dalam hal ini dibutuhkan sistem yang mudah untuk uji aktifitas senyawa tersebut terhadap enzim tertentu. Jika sistem ini tersedia, pengujian apakah ekstrak daun jambu biji merupakan inhibitor protease, helikase, atau polimerase, akan bisa dilaksanakan.

Artikel terkait :

  1. Info Penyakit Demam Berdarah T: Apa yang dimaksud dengan penyakit demam berdarah ? J: Demam berdarah (Dengue Haemorrhagic Fever = DHF) ialah penyakit menular...
  2. RNA Helikase Obat Anti Virus Penyakit virus merupakan salah satu masalah besar bidang kesehatan. Hal ini disebabkan karena masih banyak penyakit infeksi virus yang belum...
  3. Inhibitor Protease Sebagai Kandidat Anti-SARS Kasus SARS masih belum menunjukan penurunan angka penularannya. Bahkan, kota Toronto di Kanada yang pada beberapa saat lalu telah dibebaskan...
  4. Penemuan Obat Baru Yang Mungkin Dapat Menghentikan Kerusakan Sambungan Sendi Pada Penderita Arthritis Penemuan obat baru, mungkin obat yang pertama kali dapat menghentikan kerusakan sambungan sendi pada penderita Rematik Arthritis. Studi yang dilakukan...
  5. Fatwa MUI Tentang Penggunaan Plasenta Manusia Untuk Obat dan Kosmetika Kali ini MUI menyorot salah satu penggunaan organ tubuh manusia, plasenta, untuk obat dan kosmetika yang kini dijumpai pada berbagai...