Pada tanggal 10-11 Juni 2003 lalu, bertempat di PUSTAKA (Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian) atau Bibliotheca Bogoriensis, Jalan Ir. H. Juanda, Bogor, Jawa Barat, diselenggarakan Lokakarya Perpustakaan Digital sekaligus peluncuran buku 160th Anniversary of Bibliotheca Bogoriensis yang secara resmi dilakukan oleh Menteri Pertanian, Bungaran Saragih. 

Perpustakaan Pertanian Terkomplit 

Dalam sambutannya, Menteri Pertanian menyatakan Bibliotheca Bogoriensis atau PUSTAKA, merupakan perpustakaan terlengkap di bidang pertanian. Keberadaannya penting, katanya, sebab ia merupakan tempat menyimpan material, pengalaman dan ilmu pengetahuan yang penting sebagai pelajaran untuk mengembangkan ilmu dan teknologi di masa mendatang. Sembari menegaskan bahwa tidak hanya pengembangan ilmu dan teknologi semata, namun, lanjut Mentan, harus diaplikasikan untuk pengembangan pertanian kita. Dr. Tjeppy bahkan mengungkap, PUSTAKA memiliki satu koleksi yang hanya ada satu di dunia, sebagai contoh sebuah buku yang diterbitkan tahun 1842 dan berbahasa latin. 

Lokakarya Perpustakaan Digital 

Lokakarya ini diikuti oleh 92 peserta yang berasal dari lingkungan Departemen PErtanian, unit kerja dari Balitbang Pertanian di Jakarta dan Jawa Barat, serta beberapa utusan perguruan tinggi (UNPAD, UI, IPB, ITB, Mercubuana), Perpustakaan Nasional RI, Biotrop, CIFOR dan lainnya. 

Lokakarya yang bertemakan “Tantangan dan Peluang Pengembangan Perpustakaan Digital Menuju Kualitas Layanan Prima” diselenggarakan dengan maksud untuk memberikan pemahaman kepada pemberi jasa dan pengguna perpustakaan/informasi tentang perpustakaan digital, tantangan dan perkembangannya di Indonesia, serta diharapkan dapat terjalin kerjasama untuk meningkatkan pemanfaatan bersama sumberdaya informasi (resource sharing). 

Seperti dinyatakan oleh Dr. Tjeppy D. Soedjana, Kepala PUSTAKA, bahwa perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesat harus dimanfaatkan untuk kemajuan perpustakaan dan penyebaran teknologi pertanian ke seluruh Indonesia. Kenapa ?, sebab melalui teknologi informasi, dalam hal ini perpustakaan digital, benyak kemudahan yang ditawarkan, termasuk kecepatan akses informasi, jenis layanan hingga kualitas layanan. 

Hal tersebut dikuatkan oleh Maksum, Kepala Bidang Perpustakaan PUSTAKA ketika dijumpai di kantornya. Menurut Maksum, sejak dimanfaatkannya teknologi informasi oleh PUSTAKA, kini telah terjalin relasi dengan lembaga-lembaga riset di lebih dari 160 negara dan dengan kerjasama itu, pihak PUSTAKA memperoleh manfaat dengan diperolehnya jurnal-jurnal mutakhir via internet. Tentu hal ini lebih menguntungkan daripada jika kita berlangganan jurnal atau review dalam edisi cetak yang lebih banyak membutuhkan biaya. Lebih lanjut Maksum menjelaskan, hasil-hasil lokakarya ini seyogyanya dijadikan pedoman untuk pengelolaan perpustakaan digital di masing-masing institusi peserta lokakarya. 

Tiga Komponen Strategi 

Dalam lokakarya itu juga diungkapkan, dalam perkembangan saat ini terdapat tiga jenis perpustakaan, yaitu : paper library (perpustakaan dengan koleksi tercetak dan sarana penelusuran manual), automated library (koleksi tercetak dengan dukungan komputer dalam pengelolaan dan layanannya), dan digital library (akses secara elektronis dengan dukungan koleksi tercetak dan elektronis). 

Apa saja strategi yang harus disiapkan untuk perpustakaan digital ?. Salan satu pembicara yang hadir mengungkapkan ada tiga komponen dasar strategi : pertama, kreativitas untuk mengaplikasikan teknologi dan memahami pasar (bagaimana nilai tambah diciptakan); kedua, kapabilitas organisasi (apakah ada kemampuan untuk mengahsilkannya, termasuk dukungan sumberdaya); ketiga, pemahaman terhadap kompetisi (bagaimana mempertahankannya dalam kompetisi) yang perlu ditingkatkan dalam mendukung kualitas layanan prima. 

Berbicara mengenai kendala, hal yang pasti selain keterbatasan alat dan teknologi, juga masalah organisasi dan budaya. Dan tetap perlu untuk memperhatikan kepuasan pelanggan dengan kualitas, variasi dan kecepatan akses denagn biaya rendah. 

Lebih lanjut, juga diungkapkan beberapa elemen kunci perpustakaan digital yang meliputi : pengadaan electronic databases, identifikasi dan organisasi akses ke web material, konversi analog material ke digital format, web-based sevice (reservasi, reference), pengumpulan dan pengorganisasian digital record, pembangunan on-demand electronic delivery, dan customized literature services. 

Meskipun perpustakaan digital bebas diakses setiap orang, salah seorang pembicara mengingatkan tetap pentingnya memperhatikan hak cipta dan itu terkait dengan teknologi pendukung, sumberdaya manusia dan information literacy.

Pencarian artikel ini: