Ketika saham perusahan yang berbisnis di dunia Internet awal Juli mengalami koreksi negatif di NASDAQ, AS hingga menyebabkan kejatuhan nilai saham yang luar biasa di bursa saham dunia. Pertanyaan besar yang ditimbulkannya sebenarnya bersinggungan dengan masalah terlalu berlebihannya harapan para pemodal atas proyeksi pendapatan keuntungan pada masa mendatang saat usaha bisnis Internet memasuki tahap matang dan menghasilkan keuntungan.
Koreksi kritis tersebut memberi efek melambatnya laju usaha dot-com di seluruh dunia setelah melewati masa-masa yang penuh gairah dan harapan pada masa setengah tahun sebelumnya. Apakah arti keadaan ini bagi dunia usaha dot-com di Indonesia yang boleh dikata baru saja dalam tahap perkembangannya yang sangat dini atau masih dalam tahap embryo?
Menurut analis konsultan Internasional McKinsey & Company yang dipublikasikan di Jakarta akhir Juli y.l. ternyata masih terdapat harapan besar bagi usaha dot-com Indonesia untuk dapat tetap bertahan dan menghasilkan keuntungan di masa mendatang, asalkan memenuhi persyaratan yakni dengan melakukan serangkaian langkah inovatif untuk berani mengalihkan strategi bisnis dari yang digariskan sebelumnya.
Untuk diketahui total pendapatan yang dapat diraih pelaku e-business dunia Internet di Indonesia – yang kebanyakan mengkonsentrasikan usahanya dalam bisnis jenis Business to Consummer ( B2C ) – kenyataannya bahkan sampai pada proyeksi tahun 2003 y.a.d diperkirakan jumlahnya tidak akan melebihi AS $ 500 juta. Jumlah yang sangat tidak berarti dibandingkan dengan cukup satu saja salah satu raksasa pionir bisnis “on-line” di Internet : Amazon.com , yang total pendapatannya mencapai AS $ 1.5 milliar untuk tahun 1999.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah dengan mengalihkan fokus model transaksi dengan mengadopsi strategi “bricks-and-clicks”. Untuk kondisi saat sekarang ini Indonesia mengadopsi transaksi “on-line” sepenuhnya sangat terbatas keberhasilannya mengingat angka penetrasi kepemilikan kartu kredit yang masih sangat rendah, hanya 1% total penduduk. Angka yang tergolong sangat rendah untuk rata-rata kawasan Asia. Selain itu penggunaan kartu kredit secara “on-line” di Indonesia sering pula dibebani biaya tambahan untuk biaya pemrosesan yang tinggi, yakni antara 6 – 10 % dari nilai transaksi.
Data lain menunjukkan bahwa sekitar 80%-90% transaksi di Indonesia masih dilakukan secara tunai.
Dengan strategi “bricks-and-clicks” suatu situs dot.com yang popular dengan segudang pengunjung situs yang banyak adalah lebih baik untuk membina kerjasama dengan retailer atau penjual barang yang bisnisnya bersifat tradisional, yang bertransaksi secara tunai serta telah memiliki jaringan distribusi lengkap. Pemesanan barang adalah hal yang dikedepankan untuk dilakukan “on-line” lewat web. Langkah selanjutnya diikuti dengan langkah transaksi yang mesti menawarkan pembayaran langsung. Barulah kemudian pengiriman barang ditangani jaringan distribusi yang dibawahi pihak penjual.
Model strategi lain untuk bertransaksi yakni lewat m-commerce, atau dengan memanfaatkankan jaringan telepon mobile atau cellular . Jumlah pengguna telepon selular di Indonesia melonjak menjadi 2 kali lipat selewat tahun 2001 Angka yang jauh melebihi pertumbuhan telepon biasa / “fixed-line”. Jumlah total pengguna hp pada tahun 2005 diperkirakan akan melampaui 9 juta pengguna. Dan diyakini bahwa telepon selular atau hp ini lalu akan menjadi salah satu perangkat utama untuk akses ke dunia Internet di Indonesia pada tahun tersebut.
Memang perlu diingat bahwa jika bertransaksi sepenuhnya lewat m-commerce untuk barang yang mesti dijual secara fisik atau berpindah tangan masih tetap akan memiliki permasalahan pengantaran barang dan persyaratan jaminan garansi barang ataupun persyaratan lain yang mesti dipenuhi lainnya.
Langkah terakhir yang sangat mendasar yakni dengan melakukan usaha dot-com untuk jenis “Business-to-Business” ( B2B ). Secara umum usaha dot-com dalam lingkup B2B di seluruh dunia adalah sangat prospektif dibanding lingkup bisnis B2C. Tahun 2003 mendatang total transaksi dengan B2B akan mencakup lebih dari 90% transaksi e-commerce dunia.
Dengan besarnya nilai volume transaksi perdagangan Indonesia khususnya dengan negara-negara Eropa dan AS, sementara dari dunia usaha Eropa dan AS tumbuh tuntutan guna dapat bertransaksi dengan lawan transaksi secara “on-line”. Adanya tuntutan demikian akan menumbuhkan permintaan tumbuhnya pelayan dunia transaksi B2B akan tumbuh luar biasa pesat dalam beberapa tahun kedepan.
Lebih jauh lagi, dengan menerjuni dunia bisnis B2B akan menciptakan kesempatan bagi usaha dot-com Indonesia untuk juga merebut kesempatan menjual jasa layannya dalam lingkup regional, semisal Asean. Kesempatan ini ditunjang lagi dengan keunggulan Indonesia jika dapat memasarkan diri sebagai gudang tenaga programer komputer yang andal ditambah lagi dengan keunggulan komparatif dari segi murahnya “ongkos jasa produksi” , maka sebenarnya akan sangat terbuka kesempatan luar biasa bagi Indonesia dalam merebut kesempatan menjadi pusat keunggulan “center of excellence” dalam jasa “solutions provider” untuk kawasan regional Asean sekalipun. Mirip dengan keberhasilan India dalam mengembangkan industri soft-ware di Bangalore menjadi salah satu simpul pusat keunggulan global.
Penegasan analis McKinsey & Company adalah, bahwa skeptisme kalangan investor internasional atas perkembangan dunia usaha dot-com Indonesia selayaknya dapat ditepiskan. Masih dalam tahap dini atau embrio-nya dunia usaha dot-com di Indonesia sebenarnya merupakan keuntungan tersendiri, dalam arti investasi yang ternyata terlalu berlebihan serta tanpa analisa yang matang pada banyak kasus rontoknya usaha dot-com di AS ataupun Eropa, selayaknya dapat dicegah terjadi pada dunia usaha dot-com Indonesia yang umumnya masih relatif belum terlalu besar dalam mengucurkan dana investasi



