Ternyata mengembangkan sayap usaha di negara lain di bidang teknologi selular, banyak yang terjegal karena tingginya harga lisensi (ijin usaha operasional) dibanding infrastruktur kelengkapan usaha di bidang IT itu sendiri.
Hal ini dijelaskan oleh Yanuar Arif, Vice President of Information Technology PT PSN (Pasifik Satelit Nusantara) di sela-sela jam kerjanya di Jakarta. Menurutnya, banyak pengusaha-pengusaha di Eropa, sebagai misal di Perancis yang akhirnya malah mengundurkan diri ketika ia akan ikut suatu tender. Biasanya lisensi yang dipakai negara-negara maju ini, untuk 10-15 tahun, setelah itu harus diperpanjang kembali dengan biaya semula. Dan pemerintah meminta biaya untuk lisensi ini bisa mencapai sekitar 40 milyar atau lebih. Padahal, teknologi untuk operator selular sendiri sebenarnya tak mencapai sebesar itu. Atau dana yang mereka investasikan tak semahal lisensi yang diminta oleh pemerintah setempat. Sehingga, akhirnya yang diharapkan bisa murah yang ditawarkan untuk pembeli, akhirnya menjadi mahal karena harga lisensi yang demikian tinggi.
Sebaliknya di Indonesia, memang belum ada aturan untuk lisensi itu sendiri. Orang tak terlalu sulit untuk investasi di Indonesia. Maka, tak heran bila di negara-negara maju untuk memasang antena (radar) untuk operator, mereka bisa saling bekerjasama. Sebagai misal, bila ada satu perusahaan yang sudah membuat tower untuk antenanya, maka perusahaan operator selular lainnya yang menjual frekuensi bisa joint untuk menitipkan antenannya. Ini lebih menghemat, tentu dibandingkan dengan membangun tower baru untuk satu fungsi yang sama.Selain itu, karena tingginya harga lisensi ini menyebabkan banyak perusahaan yang mati kalau tidak , ya mereka harus merger.
Sebaliknya di Indonesia hal ini tidak terjadi. Malah, mereka sengaja membiarkan agar perusahaan itu mati. Indosat untuk tower Indosat, Telkomsel untuk Telkomsel, apalagi harga lahan tak semahal di luar negeri. Karena di Indonesia memang belum ada problem karena mahalnya harga lisensi di bidang operator selular ini.
Sebaliknya, di negara maju negara amat diuntungkan dengan tingginya lisensi di bidang teknologi selular ini. Tak heran, bila merger antar perusahaan di sana amat diperlukan, bila mereka ingin tetap hidup dan berkembang. Di Indonesia membangun tower mungkin bisa kurang dari 1 milyar, namun di negara maju karena harga tanahnya yang sangat mahal tak memungkinkan. Untuk membangun tower di sana biaya yang dibutuhkan bisa mencapai milyaran rupiah.
Hal ini tentunya bisa menjadi catatan bagi pemerintah, agar lebih memperhatikan regulasi di bidang operator selular ini agar negara pun juga diuntungkan



