Remote Sensing (Penginderaan Jauh) adalah satu tehnik untuk melakukan observasi terhadap permukaan bumi dengan pengambilan citra permukaan bumi dari satelit. Pengambilan citra ini dilakukan dengan sensor yang dapat melakukan pengukuran gelombang elektromagnet yang dipancarkan permukaan bumi. Disebut remote sensing karena pengukuran dilakukan sensor tanpa menyentuh objek yang diukur atau diobservasi.
Remote Sensing telah memberikan kemungkinan pemantauan berbagai fenomena permukaan bumi dengan cepat dan akurat . Berbagai bidang ilmu yang langsung atau tidak langsung berhubungan dengan bumi (geo, land) dapat mengambil manfaat dari remote sensing. Alasan yang mendorong pemanfaatan ini antara lain [Lemmens, 1987]:
・ Daerah yang luas pada permukaan bumi dapat diamati dari titik pandang yang baik (dari angkasa) dan dicitrakan dengan jelas;
・ Beberapa sensor yang dikembangkan memiliki sensitifitas untuk mengukur gelombang elektromagnet yang tidak dapat ditangkap oleh mata manusia; dengan demikian sifat-sifat yang “tak nampak” pada permukaan bumi pun dapat terekam;
・ Dalam satu citra objek-objek yang tergambar dapat dipantau dalam satu hubungan keruangan;
・ Pengambilan citra dapat dilakukan dalam waktu yang berbeda (multi-temporal), sehingga memungkinkan untuk melihat situasi suatu daerah dimasa lalu serta dapat melakukan penggambaran ulang (rekonstruksi) sifat-sifat tertentu objek-objek yang diamati.
Ternyata sejak awalnya remote sensing dikembangkan dengan tujuan-tujuan pemanfaatan di bidang sosial ekonomi. Landsat yang dikembangkan oleh Amerika Serikat merupakan sistem aplikasi remote sensing pionir dan pertama kali diluncurkan pada tahun 1972 (Landsat 1). Diantara faktor pendorong terpenting diluncurkannya Landsat adalah adanya kebutuhan akan informasi yang lebih mumpuni tentang distribusi geografis berbagai sumber daya bumi [Morain, 1998]. Disadari bahwa pertumbuhan eksponensial penduduk bumi akan membawa implikasi sosial ekonomi yang hebat. Sampai saat ini ada sekitar 6 milyar penduduk bumi, dengan pertumbuhan penduduk sekitar 1,5% per tahun (angka tahun 1998), berarti setiap detik lahir 3 manusia. Jumlah penduduk bumi yang semakin banyak ini pada gilirannya akan membutuhkan daya dukung sumber daya alam yang besar. Manajemen yang efisien pada pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable) serta pemanfaatan secara bijak sumber daya yang tak dapat diperbaharui (nonrenewable) dan peningkatan konservasi dan perlindungan lingkungan hidup, sangat bergantung pada informasi tepat waktu dan analisa yang tepat terhadap sumber daya alam (SDA). Maka jelaslah bahwa jumlah manusia dan pengaruh-pengaruh dari tindakan manusia terhadap alam baik dalam skala lokal maupun global telah menjadi alasan penting untuk mempelajari bumi dari angkasa.
Saat ini semakin nampak peningkatan intensitas pemanfaatan data remote sensing pada penelitian-penelitian ilmu sosial. Para penyedia data remote sensing seperti National Aeronautics and Space Agency (NASA) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), semakin meningkatkan penyediaan data untuk dimanfaatkan oleh para peneliti sosial. Demikian juga dana pada penelitian tentang dimensi manusia terhadap perubahan global (Human Dimension of Global Change) banyak dialokasikan untuk peneliti sosial dalam studi-studi tentang aktifitas manusia yang terkait erat dengan faktor spasial (keruangan), seperti transformasi penggunaan lahan. Didorong oleh hal di atas, para peneliti sosial semakin banyak memanfaatkan data remote sensing dan kerjasama antara peneliti sosial dan para ahli remote sensing mulai tumbuh [Rindfuss and Stern, 1998].
Hubungan Mutualistis
Perkawinan remote sensing dengan ilmu-ilmu sosial atau seringkali disebut dengan menghubungkan orang dengan pixels (linking people and pixels), bersifat mutualistis, karena masing-masing memberikan kontribusi positif kepada yang lain.
Beberapa potensi kontribusi positif remote sensing terhadap penelitian ilmu-ilmu sosial dan sebaliknya diungkapkan pada [Rindfuss and Stern, 1998]. Berikut ini sumbangan remote sensing terhadap ilmu-ilmu sosial:
Pengukuran Konteks pada Fenomena Sosial
Banyak ilmu-ilmu sosial menghubungkan tingkah laku individu atau keluarga dengan konteks dimana individu atau keluarga tersebut berada. “Konteks” dapat berujud pada macam-macam entitas, seperti unit politis atau unit admistratif (contohnya kelurahan, kecamatan, kabupaten dst.), jaringan sosial, sebuah sekolah, atau kelompok etnis. Berarti konteks dapat diartikan sebagai lingkungan. Konteks ini memiliki pengaruh positif atau negatif terhadap individu atau keluarga.
Konteks dapat diukur dengan berbagai cara, misalnya dengan cara sensus. Dengan pengumpulan data individu dan keluarga, maka data tersebut dapat diaggregasi ke berbagai unit (misalnya dari tingkatan kecamatan sampai tingkat negara). Dalam kaitan ini remote sensing memberikan kemungkinan untuk mengumpulkan data kontekstual terutama dalam menggambarkan konteks biofisik dimana orang hidup, bekerja dan bermain. Remote sensing misalnya merepresentasikan konteks geografis dalam bentuk peta. Peta dibuat dengan tujuan-tujuan spesifik (dikenal dengan istilah peta tematis), misalnya peta dasar (diantaranya menggambarkan jaringan jalan, jaringan hidrografis, batas wilayah wilayah administratif dan data ketinggian/topografi).
Data remote sensing dapat menjadi suplemen data sosial yang dihubungkan dengan bumi (georeferenced) yang memberikan sifat berbagai konteks, mulai dari jenis tutupan lahan, jenis tanah, sampai data cuaca. Penelitian sosial yang memanfaatkan data kontekstual misalnya pada penelitian di Nang Rong District, Thailand [Entwisle B. et al., 1998]. Penelitian mencoba mencari penyebab migrasi pemuda Nang Rong ke luar daerah. Distrik Nang Rong adalah daerah pertanian dengan padi sebagai produk utama. Sekitar 90% orang dewasa di daerah tersebut bermata pencaharian sebagai petani, karena itu akses pemanfaatan lahan merupakan hal yang esensial bagi para pemuda di daerah tersebut. Karena lahan hutan mulai mendapatkan pengakuan/perlindungan legal dan hal ini dapat menggurangi kemungkinan pemekaran lahan pertanian menjadi berkurang. Penelitian menunjukkan bahwa hal ini menjadi pemicu migrasinya para pemuda Nang Rong ke luar daerah.
Pengukuran Fenomena Sosial dan Pengaruh-pengaruhnya
Remote sensing dapat menyediakan ukuran atau parameter berbagai variabel yang terkait dengan aktifitas manusia, terutama mengenai konsekuensi-konsekuensi terhadap lingkungan hidup akibat proses-proses sosial, ekonomi, dan demografis. Sebagai contoh, observasi remote sensing terhadap tutupan lahan dapat memperlihatkan jejak-jejak pengaruh ekstensifikasi pertanian, urbanisasi, dan pembangunan jalan; observasi terhadap densitas vegetasi dapat dihubungkan dengan pengaruh dari fertilisasi lahan, irigasi, dan proses-proses pertanian lain; dan observasi terhadap pembangunan gedung-gedung baru dapat dikaitkan dengan pengaruh kebijakan tentang penggunaan lahan (tata ruang) atau kebijakan pajak bumi dan bangunan.
Pemodelan-pemodelan yang menghubungkan data remote sensing dan data sosial (ground-based) dapat meningkatkan pemahaman terhadap berbagai penyebab atau faktor pendorong terjadinya berbagai perubahan pemanfaatan lahan.
Memberikan Ukuran-Ukuran Tambahan pada Ilmu-Ilmu Sosial
Peneliti-peneliti sosial seringkali melakukan aggregasi unit analisis: kecamatan atau kebupaten, kabupaten atau propinsi. Substansi pengkajian bisa berbagai macam tetapi peneliti biasanya menggunakan berbagai indikator untuk melakukan aggregasi. Remote sensing dapat memberikan berbagai indikator tambahan untuk pengkajian-pengkajian ini, diantaranya data tutupan lahan, jenis tanah, lokasi jalan utama, jaringan hidrografis, dan indikator kesuburan tanah. Pengumpalan data-data tersebut langsung ke lapangan memang mungkin dilakukan, tetapi seringkali mahal biayanya dan dibutuhkan waktu yang lama. Remote sensing dapat menyediakan data aggregasi dengan cara cepat dan murah.
Urbanisasi dapat diukur dengan menghitung surat ijin bangunan, sampling dan observasi blok-blok kota, atau menganalisa proporsi tutupan lahan dengan tehnik remote sensing. Masing-masing sumber data memiliki ketidaksempurnaan dalam menggambarkan realitas, akan tetapi ini dapat ditutupi dengan menggabungkan data dari berbagai sumber. Dengan cara ini remote sensing -bahkan dengan keterbatasannya- memberikan kontribusi pada pengkajian sosial dengan meningkatkan kualitas beberapa parameter sosial dan memberikan kemungkinan uji-silang.
Menghubungkan Tingkatan-tingkatan Analisis
Disiplin-disiplin sosial dan subdisiplinnya memiliki konsentrasi pengkajian pada level-level tertentu dan seringkali tidak melakukan komunikasi pada level di luarnya. Contohnya, psikologi dan antropologi sosio-kultur cenderung bekerja dengan level individu dan grup-grup kecil; peneliti politik dan ahli geografi bekerja pada level yang lebih luas yang didefinisikan dengan unit administratif; sedangkan sosiolog bekerja secara spesifik pada level individu, grup-grup kecil sampai level negara dan internasional.
Data remote sensing secara esensial merupakan data dengan cakupan global, akan tetapi data ini disusun dari pixel-pixel. Oleh karena itu data-data pixel ini dapat dikombinasikan sehingga memungkinan dioleh untuk analisa pada berbagai skala atau level . Dengan demikian data remote sensing menawarkan potensi untuk mendorong para peneliti sosial untuk berpikir lintas-level pada analisa mereka dan membangun teori-teori yang menghubungkan level-level analisa ini.
Memberikan Data Rangkaian-waktu pada Fenomena yang Relevan secara Sosial
Data rangkaian-waktu (time series-data) dapat menjadi alat bantu penting bagi peneliti sosial untuk menemukan hubungan-hubungan penyebab dan pengaruh yang tidak dapat dilakukan dengan cara eksperimen. Remote sensing menyediakan data rangkaian-waktu dengan komparatibilitas yang baik (data multi-temporal) atas variabel-variabel yang menarik bagi pengkajian sosial untuk menemukan pengaruh-pengaruh kontekstual pada tingkah laku atau proses hubungan manusia dan lingkungannya. Hubungan manusia-lingkungan dapat dimodelkan dengan bantuan data remote sensing, misalnya memodelkan proses konversi lahan menuju pemanfaatan untuk kawasan tempat tinggal [Geoghegan, J. et al., 1998].
Demikianlah beberapa potensi kontribusi remote sensing terhadap ilmu-ilmu sosial. Secara tidak langsung pemanfaatan remote sensing bagi pengkajian-pengkajian sosial ini menjadi justifikasi atau advokasi atas investasi dana pada remote sensing berikut manajemen datanya. Satu hal yang seringkali menjadi kesulitan bagi peneliti bidang geo-informasi (informasi kebumian), termasuk remote sensing di dalamnya, ketika mengajukan proposal penelitian mereka.
Ilmu-ilmu sosial sendiri memberikan potensi kontribusi keilmuan yang positif pada remote sensing dengan perkawinan keduanya, diantaranya:
Validasi dan Interpretasi Observasi Remote Sensing
Para ahli remote sensing sangat menyadari pentingnya “ground truth”, yaitu untuk malakukan validasi atas data remote sensing dengan melakukan pengumpulan (survei) data lapangan. Contoh untuk proses validasi ini adalah untuk pengklasifikasian lahan. Proses klasifikasi tutupan lahan (land cover) walaupun dilakukan di lapangan, tetapi biasanya tidak digolongkan pada aktifitas ilmu sosial. Akan tetapi akan beberapa validasi yang jelas berhubungan dengan katagori ilmu sosial, contohnya klasifikasi pemanfaatan lahan (land use). Pemanfaatan lahan didefinisikan secara sosial dan mungkin berbeda dengan tutupan lahan. Misalnya, beberapa tutupan pepohonan secara sosial didefinisikan sebagai hutan, sebagian sebagai taman, sebagian sebagai lahan sub-urban, sebagian sebagai perkebunan (buah-buahan), dan sebagian lain sebagai hutan produksi. Seringkali dibutuhkan informasi tentang aktifitas manusia untuk melakukan pengklasifikasian ini.
Kerahasiaan Data dan Pemanfaatan Publik atas Data
Data remote sensing semakin hari semakin mudah didapat oleh publik dalam resolusi (tingkat kedetilan informasi, lihat footnote 1) yang semakin tinggi, sehingga meningkatkan kemampuan untuk mengamati berbagai pengaruh aktifitas sosial penting. Lebih dari itu sistem observasi beresolusi tinggi yang sebelumnya hanya dapat digunakan militer sekarang mulai dibuka aksesnya bagi publik. Ini memungkinkan banyak organisasi mengakses informasi lahan, padahal sebelum ini organisasi-organisasi ini tidak terkait dengan masalah lahan. Dengan semakin meningkatnya kemampuan pengolahan data, terutama dengan mengawinkan data remote sensing dengan data sosial-ekonomi, nilai data remote sensing semakin tinggi. Dari sini mungkin sekali timbul masalah-masalah baru yang memicu lahirnya konflik dalam masalah penggunaan data remote sensing.
Disinyalir sebagian dari pemilik lahan mulai khawatir bahwa data remote sensing akan membuka rahasia praktek-praktek pemanfaatan lahan mereka (mungkin saja pemanfaatan lahan ini melanggar aturan yang diberlakukan pemerintah). Dengan semakin tingginya resolusi data remote sensing ditambah integrasinya dengan data sosial, diprediksi akan menggugah publik tentang “bahaya invasi” atas privasi dan akan membuka permasalahan-permasalahan hukum.
Para ahli sosial telah terbiasa berhadapan dengan permasalahan aspek-legal, seperti kerahasiaan data, baik dalam pengumpulan maupun penyebaran data. Sebagian besar tehnik pengumpulan data sosial, mulai dari sistem interview orang per orang, observasi partisipant, sampai analisa formulir administratif, mensyaratkan agar pemberi data menyampaikan datanya secara terbuka dan jujur. Sebaliknya peneliti disyaratkan untuk betul-betul memanfaatkan data tersebut secara bertanggung jawab. Ketika data ini, atas desakan pemerintah misalnya, diminta untuk dijadikan publik-domain, maka ada dua pemecahan masalah untuk ini. Pertama, untuk apliksi data sensus, data diaggregasi ke level yang lebih tinggi (misalnya data kecamatan atau kabupaten), sehingga dengan data tersebut tidak terlacak lagi individu dan keluarga yang memberikan data. Kedua, seringkali digunakan pada data survei, semua penunjuk (identifier) responden dihilangkan, termasuk data geografis, kemudian barulah data individual para responden diberikan untuk publik.
Apa implikasinya bagi praktek-praktek yang terkait dengan remote sensing? Jika data remote sensing diaggregasi sampai unit atau level tertentu, maka data sosial dengan tingkat aggregasi sesuai dapat diintegrasikan (ini masih jadi tantangan saintifik). Solusi ini memang hanya berlaku bagi data dengan skala spasial (keruangan) dan sosial yang tidak mendetil. Masih dilakukan penelitian sosial yang intensif untuk memecahkan masalah ketika satu pengkajian memerlukan analisa data sampai tingkat individu atau keluarga. Jika penunjuk geografis responden dihilangkan justru remote sensing kehilangan nilai geo-referensinya!
Data remote sensing an sich, yaitu tanpa dihubungkan dengan data sosial, amat jarang menyentuh masalah kerahasiaan data. Akan tetapi dengan integrasinya pada data sosial, masalah kerahasiaan data dan akses data akan mencuat. Ilmu-ilmu sosial berpotensi untuk memberikan pandangan dan respon-respon institusional atas masalah ini kepada mereka yang berkecimpung dengan remote sensing .
Telah dibahas pengantar tentang hubungan mutulistis pada perkawinan remote sensing dan ilmu-ilmu sosial. Perkawinan ini akan memberikan kontribusi positif bagi kedua bidang ilmu secara timbal balik. Tulisan ini telah membicarakan beberapa potensi kontribusi positif tersebut.
Dibalik prediksi yang menjanjikan pada integrasi remote sensing dan ilmu-ilmu sosial, terdapat beberapa tantangan yang harus dilewati untuk menjamin proses integrasi ini agar berjalan baik. Tantangan ini mulai dari kebutuhan saling pengertian ilmuan kedua bidang, penyiapan sumber daya manusia yang siap menyelami kedua bidang ini dengan pendekatan ilmiah yang baru, sampai pada dukungan institusional yang dibutuhkan untuk menjamin berlangsungnya proses perkawinan yang sukses dan harmonis. Hal-hal ini akan menjadi bahasan kita pada kesempatan mendatang.
Pencarian artikel ini:
- manfaat remote sensing
- pengertian remote sensing
- aplikasi remote sensing
- biaya pengambilan remote sensing
- kegunaan remote sensing
- hal apa saja yang mendorong proses integrasi sosial berjalan dengan baik
- mengapa remote sensing penting?
- menghitung jumlah penduduk menggunakan remote sensing
- pemanfaatan remote sensing dalam tata kota
- penelitian dengan remote sensing



