Transfer teknologi adalah kata kunci yang selalu terkait dengan sebuah proyek besar berteknologi tinggi yang dibiayai dengan pinjaman dari luar negeri. Dan proyek pemetaan digital 1:25.000 Jawa-Bali-NTB-NTT-Maluku Tenggara yang berlangsung sejak tahun 1993 dan memakan waktu sekitar 8 tahun, adalah salah satu contohnya.
Demikian salah satu sambutan Dr. Ing. Fahmi Amhar, koordinator tim supervisi proyek pemetaan digital yang terakhir (selama delapan tahun sempat berganti-ganti orang sebagai koordinator tim supervisinya).
Sejak tahun 1993, Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei Pemetaan nasional) yang berlokasi di Cibinong, Bogor ini memasuki era baru dalam pemetaan rupabumi dengan proyek pemetaan digitalnya atas bantuan dari pemerintah Norwegia. Hampir seluruh tahap produksi proyek ini menggunakan teknologi digital, sejak stereoplotting fotogrammetri, editing, pembuatan database, desain kartografi, sampai separasi warna pracetak offset.
Volume ini mencakup areal sekitar 215.000 km2 yang kemudian untuk pemetaan sistematik dibagi dalam 1736 nomor lembar peta, dimana 1662 nomor peta akan dicetak (offset) .
Selama proyek ini berjalan, data hasil pekerjaan dibagi menurut kematangannya. Ada empat jenis basis data, yaitu : basisdata mentah (DB0), basisdata topografi (DB1), basisdata geografi (DB2), dan basisdata kartografi (DB3).
Setelah proyek ini berjalan, menjadi jelas bahwa peta-peta dasar digital yang nantinya akan menjadi pilar utama pendukung Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) tidak bisa disimpan hanya dalam satu jenis data ataupun dalam satu fomat software tertentu.
Secara umum, data digital yang mendukung IDSN dapat dibagi dalam 12 macam, diantaranya : DBT – data tekstual yaitu berisi keterangan deskritif, misalnya dalam word dan hitungan teknis/financial (biasanya dalam excel).
DBO-R (data spasial mentah berupa raster, misalnya foto udara atau peta tua hasil scanning atau juga citra satelit atau citra radar yang belum di proses. DBO – data spasial interpretasi (dan vektorisasi) mentah, langsung dari piranti interpretasi , dalam fotogrametri misalnya masih mengacu pada area model 3D dalam sepasang foto udara yang ada. Format data yang dikeluarkan tergantung software apa yang bisa jalan di piranti interpretasi tersebut, dan sebagainya.
Karena itu pertanyaan, berapa jumlah lembar peta data digital?, sebenarnya kurang spesifik. Seharusnya disebutkan pula jenis data digital yang mana yang dimaksudkan.
Hal lain yang yang berkenaan dengan tranfer teknologi ini adalah betapa perubahan teknologi instrumentasi survei dan pemetaan serta piranti keras dan piranti lunak dalam informatika ternyata sangat pesat – bahkan terlalu pesat untuk proyek berjangka delapan tahun ini.
Alat-alat stereplotter fotogrametri analitis yang delapan tahun terasa sangat canggih , kini berangsur-angsur tergusur oleh stereoplotter fotogrametri softcopy yang jauh lebih efisien, mudah dirawat dan dipelajari.
Demikian juga dengan sistem komputer, dalam delapan tahun betapa terobosan pada dunia personal computer telah melampaui apa yang semula hanya mudah dicapai pada dunia mainframe/komputer mini.
Menurut Fahmi oleh karena itu yang menjadi signifikan bukanlah alat-alat yang telah menjadi investasi dari proyek pemetaan digital, atau apakah kita masih mampu menggunakan alat-alat itu; namun sejauhmana kemampuan kita untuk memodifikasi cara kerja secara keseluruhan meskipun dengan alat-alat baru yang lebih sesuai dengan perkembangan teknologi dan juga lebih efisien didalam kerangka ekonomi kita saat ini.
Hal lainnya yang menonjol dalam pemetaan digital ini adalah kemampuan untuk meningkatkan otomatisasi dalam segala proses produksi. Pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang-ulang harus ditekan sampai level minimum dengan digantikan sebuah software, macros, atau script yang khusus dikembangkan untuk itu.
Kita juga harus menyadari, bahwa kemampuan sebagian besar SDM kita pada saat ini masih baru sekedar mengambil alih otomatisasi yang sudah tersedia dan baru sedikit SDM yang mampu memodifikasi lebih lanjut atau menciptakan yang baru dari suatu proses otomatisasi.
Otomatisasi yang dimaksud di sini adalah baik pada tahap pembuatan peta seperti perhitungan deklinasi magnetis, pembuatan contoh cara membaca peta pada peta yang bersangkutan, penempatan legenda peta dan informasi tepi, smoothing contur, konversi data sampai dengan tahap supervisiproduk digital peta, seperti uji konsistensi elevasi, uji topologi jaringan jalan, hidrografi, dan sebagainya.
Demikian gambaran sekilas tentang trsnfer teknologi dalam pembuatan peta digital dengan skala 1:25.000 untuk Jawa- Bali-NTB-NTT-Maluku Tenggara yang hampir menelan dana sekitar 100 milyar rupiah atau lebih ini bermanfaat bagi pembangunan nasional dan masyarakat umumnya.



