Apabila suatu saat nanti terjadi perang yang sudah melibatkan senjata kimia, biologi, nuklir, sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan sekitarnya akibat kontaminasi radiasi dan kimia secara luas, maka saat itu dibutuhkan tim investigasi yang tahan terhadap pengaruh kontaminasi tersebut. Siapakah mereka? Mereka adalah robot-robot yang tergabung kedalam tim investigasi dipimpin oleh sebuah robot navigator.
Dengan bentuk seukuran mobil remote control, robot-robot ini dinamakan packbots (backpack-sized robots). Berbekal inteligensia yang tinggi, lincah, dan tahan kontaminasi, serta dilengkapi dengan beberapa sensor penting seperti kamera, lidar scanners untuk memetakan lingkungan sekitarnya, robot ini mampu mengerjakan tugasnya dengan baik di daerah berbahaya yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Untuk melengkapi tugas tim investigasi, dibuat robot yang mempunyai kemampuan khusus, seperti robot yang dilengkapi dengan peralatan las canggih untuk membongkar pintu atau penghalang lainnya.
Robot-robot ini dibuat dengan konsep kepemimpinan, yakni semua robot akan tunduk dan patuh terhadap pemimpinnya robot navigator. Robot navigator ini bertugas merintis jalur aman di daerah berbahaya, sehingga anggotanya dapat mengikuti di jalur aman tersebut dengan aman. Demikian pula untuk perjalanan pulangnya, robot-robot ini tidak akan tersesat karena sudah punya data jalur aman secara digital.
Apa ilmunya?
Narasi di atas bukanlah impian. Para peneliti yang tergabung dalam DARPA (the Defense Advanced Research Projects Agency) bekerjasama dengan the Robotics Institute of Carnegie Mellon University dan the University of Southern California Robotics Research Laboratory, telah berhasil membuat prototipe robot di atas yang dinamakan Urbie (urban robot). Modelnya menyerupai mobil mainan remote-control yang dilengkapi dengan ban seperti tank.
Berdimensi 60×50x17 centimeter dan berat 20 kg, Urbie mempunyai bentuk chassis yang handal, mampu berjalan di atas permukaan yang sangat tidak rata dengan kecepatan 2 m/s. Hal ini dimungkinkan karena ia memiliki tangan yang mampu berputar 360 derajat sehingga mampu menaiki dan menuruni tangga. Kecerdasan Urbie berkat peralatan elektronik dan sensor-sensor canggih yang terpasang di atas chassis-nya. Sensor-sensor canggih tersebut adalah kamera stereo, omnicam, sistem navigasi inersial (gyroscope dan accelerometer), kompas digital, GPS (Global Positioning System) receiver dengan ketelitian tinggi, dan tidak tertutup kemungkinan untuk dilengkapi dengan night-vision camera dan scanning laser rangefinder.
Dengan night-vision camera, robot memungkinkan bekerja di malam hari ataupun di dalam ruangan yang sangat gelap. Scanning laser rangefinder merupakan sensor terbaru yang dibuat oleh JPL (Jet Propulsion Laboratory) dengan desain yang cukup kecil dan ringan. Kemampuannya mampu mendeteksi dan memetakan lingkungan sekitarnya dengan mongoleksi data 3-D sehingga mampu menghindar dari rintangan-rintangan di depannya dan juga mampu memilih jenis permukaan tanah yang dilewatinya.
Omnicam adalah kamera yang mampu mengambil gambar dengan sudut 360 derajat dalam satu jepretan. Gambar ini bermanfaat untuk mendeteksi lingkungan secara maksimum di sekitar robot dengan menganalisa hasil pengolahan gambar dengan suatu algoritma pemrograman untuk menghasilkan informasi keadaan sekitarnya.
Kecerdasan robot ini terutama kemampuannya bernavigasi sendiri dengan bantuan GPS, sistem inersial, dan kompas digital. Informasi navigasi yang berupa kecepatan dan posisi robot ini dihasilkan dengan algoritma Kalman filter yang mampu menghasilkan ketelitian sampai 2-20 centimeter dalam kondisi ideal. Namun pembuat robot ini telah mengantisipasi kelemahan alat GPS yang tidak dapat mengukur posisi di dalam ruangan (indoor) atau dalam kondisi signal satelit terhalang oleh benda seperti gedung, rimbunan pepohonan, dll. Pada saat signal satelit GPS drop, navigasi dilakukan dengan menggunakan sistem inersial dan kompas digital. Dengan dilengkapi gyroscope dan accelerometer ketelitian tinggi masing-masing akan menghasilkan sudut orientasi (roll, pitch, yaw) dan percepatan robot secara kontinyu. Selanjutnya dengan mengintegrasikan kedua jenis data ini akan menghasilkan kecepatan dan posisi robot, dengan nilai inisialisasi dari data GPS terakhir sebelum drop.
Jalur yang telah dirintis oleh robot navigator merupakan jalur teraman berdasarkan data dari sensor kamera dan lidar scanner, selanjutnya data ini dikirim ke robot-robot anggota di belakangnya sebagai panduan arah. Dengan demikian anggota tim investigasi ini akan berjalan dengan aman dan dapat melakukan tugas selanjutnya dengan baik.
Mungkinkah tim investigasi ini dapat bertugas seperti halnya tim pencari fakta di Indonesia untuk masalah-masalah sosial? Siapakah yang lebih jujur tim investigasi yang dipimpin robot navigator ataukah tim pencari fakta yang dipimpin seorang manusia?



