Takeshi segera menutup pembicaraan di keitaidenwa (telpon seluler) dengan atasannya dan bergegas menuju stasiun sambil melirik jam digital di keitaidenwanya. Ditengah jalan dia mampir sebentar di kombini untuk membeli sesuatu. Di depan kasir dia tidak mengeluarkan dompet tapi cukup mendekatkan keitaidenwanya pada sebuah alat kecil dan terdengar bunyi tit dalam sekejap transaksi pembayaran selesai. 

Dia kembali berjalan menuju stasiun, namun tiba-tiba teringat bahwa televisi di rumah belum dimatikan dan tidak yakin apakah pintu rumah sudah terkunci atau belum. Dia segera mengeluarkan keitaidenwa untuk mengakses sebuah situs perusahaan sekuriti. Dengan memasukkan id dan password, dia bisa melihat gambar video dari beberapa kamera sekuriti didalam rumahnya yang terhubung internet melalui perusahaan sekuriti tersebut. Dengannya dia bisa mengecek apakah pintu sudah tertutup dan dengan mudah melakukan operasi jarak jauh terhadap alat-alat elektronik dirumahnya. 

Sesampainya di stasiun Takeshi dia tidak membeli karcis tapi cukup melewati pintu masuk dengan menyentuhkan Suica (sistem pembayaran tanpa tiket dengan memakai IC card yang dikeluarkan oleh Japan Railway East Japan) yang terinstall dalam keitaidenwanya pada alat pembaca saja. Selama menunggu kereta datang, dia keluarkan keitaidenwanya untuk bermain game ringan dari Java¡¦appli. Kali ini game kesukaannya tetris versi terbaru yang didownload tadi malam. Sampai kemudian keretapun datang. Di dalam kereta dia buka kembali keitaidenwa untuk mengecek email. Cukup banyak email yang masuk hari ini, diantaranya sebuah email ber-attachment file Excel berisi transaksi dengan kliennya yang harus dia balas secepatnya. Segera dia jawab email tersebut karena keitaidenwanya bisa juga digunakan untuk membaca dan menulis file-file Office. Selesai mengecek email, dia kemudian memasang headphone ke telinganya sambil menonton acara televisi di layar LCD kecil tapi berresolusi cukup tinggi. Karena perjalanan cukup jauh sesekali dia selingi dengan mendengarkan musik atau menonton video rekaman yang tersimpan di memori stik. Ya keitaidenwanya memang dilengkapi dengan TV tuner, musik dan video player. 

Sesampainya di stasiun tujuan, karena haus dia berhenti di depan sebuah jidouhanbaiki (vending machine) minuman dan menghadapkan keitaidenwanya ke mesin itu sambil menekan beberapa tombol dan … gludhak!! … satu kaleng kopi hangat keluar. 

Maaf, diawal tadi lupa memperkenalkan bahwa Takeshi adalah seorang pegawai sebuah perusahaan asuransi. Hari ini dia mendapat tugas dari atasannya untuk melakukan investigasi sebuah kecelakaan yang terjadi di dekat stasiun ini. Tapi karena baru pertama kali dia tidak tahu persis tempat kejadiannya yang katanya 15 menit jalan kaki dari stasiun. Jangan khawatir, dia segera mengeset keitaidenwanya ke mode GPS (Global Positioning System) yang menuntunnya dengan cepat dan tepat ke tempat tujuan. 

Di tempat kejadian dia segera memfungsikan keitaidenwanya menjadi sebuah digital video camera untuk mengambil gambar-gambar dari mobil yang mengalami kecelakaan, sambil sesekali dia melaporkan kejadian ke operator kantor dengan memperlihatkan lokasi kejadian dengan televisi-telpon dari keitaidenwa. Data video streaming itu kemudian dikirim ke server kantor untuk dijadikan barang bukti guna pembayaran uang asuransi. Keitaidenwa yang dia pakai adalah jenis generasi ketiga yang berkemampuan broadband sehingga data video yang cukup besarpun bisa terkirim dengan cepat. 

Selesai pekerjaan pengambilan gambar itu Takeshi bergegas pulang ke rumah karena hari sudah larut malam. Dia harus mencari jalur kereta yang tercepat, kalau tidak bisa kehabisan kereta. Di Jepang banyak internet-contents provider yang menyediakan fasilitas online searching untuk keitaidenwa seperti pencarian jadwal kereta, alamat, perkiraan cuaca, restoran dan sebagainya. Ada yang gratis dan ada pula yang bayar. Lagi-lagi dia mengeluarkan keitaidenwanya untuk mencari jadwal kereta tercepat menuju stasiun rumahnya. Tapi sebelum itu dia teringat ternyata harus membeli sesuatu untuk keperluan dalam rangka tugas keluar kota besok. Apa daya, hari sudah larut malam, tidak ada toko yang buka. Besokpun harus berangkat sebelum tokoËÕoko buka. Kebetulan di tengah jalan tadi dia mendapatkan kertas chirashi (kertas iklan) sebuah toko online. Dengan mengarahkan digital kamera keitaidenwa ke kode QR (Quick Response) yang tercetak di bagian bawah chirashi dan kemudian dengan sekali jepret secara otomatis situs toko tersebut bisa terakses tanpa harus mengetikkan URL. Barang pesananpun besok sebelum berangkat jam 10 pagi sudah akan sampai di rumahnya. Tentu saja pembayarannyapun secara online. 

Berutunglah Takeshi karena ternyata bisa sampai ke rumahnya walau dengan kereta terakhir. Sebelum tidur tak lupa memesan tiket pesawat melalui keitaidenwanya. Besok tidak perlu mengambil tiket, karena cukup dengan ketaidenwanya dia bisa check-in dan melewati pintu boarding. Keuntungan yang lain dengan memakai servis ticketless ini juga adalah dapat kortingan 3%. Lumayan. Hari sudah larut malam, sambil merebahkan diri ke tempat tidur Takeshi mengeset alarm keitaidenwanya. Oyasuminasai… 

Cerita pendek diatas bukanlah khayalan belaka, tapi benar sudah bisa didapati di negeri Sakura ini. Penulis hanya ingin menggambarkan bahwa betapa banyaknya pemanfaatan dari keitaidenwa yang sarat dengan teknologi baru maupun penggabungan dari teknologi-teknologi yang sudah ada. Dari cerita ini saja setidaknya kurang dari sehari Takeshi sudah memanfaatkan lebih dari 25 fungsi dari benda kecil berukuran tidak lebih dari panjang 10 cm, lebar 5 cm dan tebal 3 cm. Mulai dari sekedar alat komunikasi verbal, dunia entertainment, sekuriti, sampai alat bantu canggih untuk dunia bisnis. Tentu saja masih banyak fungsi-fungsi lain seperti pemanfaatan untuk bidang sosial dan lainnya yang tidak cukup untuk disebutkan disini. Yang kedepan akan berkembang terus. 

Semua itu lahir dari persaingan bisnis yang gigih dan sehat antar perusahaan-perusahaan keitaidenwa untuk menarik konsumer dan merebut pasar. Disamping tidak bisa dipungkiri lagi karena memang didukung oleh teknologi dasar dan riset yang sudah mapan. Di Jepang kita mengenal minimal tiga perusahaan besar keitaidenwa: AU, DoCoMo dan Vodafone (dulunya JPhone). Tiap tahun masing-masing selalu mengeluarkan beberapa model dengan kemampuan atau teknologi yang baru. Maka tidak heran kalau kita temukan di toko-toko agen harga keitadenwa 0 yen, karena begitu cepatnya keluar model-model yang baru, disamping juga strategi bisnis tentunya. Semangat samurai untuk selalu ingin tampil beda dengan terus menggali potensi dan peluang yang ada inilah yang bisa dijadikan contoh bagi kita. Agar tidak puas sekedar jadi pemakai saja!

Pencarian artikel ini: