Dikabarkan Organda berencana untuk mengimpor bus-bus dari Korea Selatan (Hyundai) untuk peremajaan bus di Jakarta. Namun sejumlah kalangan menentang. Untuk apa impor ?. Bukankah kita memiliki sejumlah industri mobil?. Seperti : industri perakitan (assembling) dan karoseri yang kuat dan harganya bersaing. 

Bila kita melihat keadaan bus-bus angkutan umum di Jakarta, keadaannya memang memprihatinkan. Bus-bus itu sudah layaknya pensiun, namun masih dipekerjakan. Meski tak laik jalan, namun menghias di jalan-jalan protokol utama Jakarta. Keadaan angkutan umum di Jakarta memang amat tak sesuai dengan Jakarta yang menyandang predikat ibukota. Namun, itulah adanya. 

Salah satu industri mobil di tanah air yang tertarik untuk ikut tender pengadaan bus bila jadi ditenderkan secara terbuka adalah anak perusahaan Texmaco, PT Wahana Auto Jakarta. 

CEO PT Wahana Perkasa, Ben Sinivasan, beberapa hari yang lalu di Jakarta mengatakan perusahaannya optimis untuk mampu bersaing dengan produk sejenis yang dirakit didalam negeri maupun impor. Ia menjelaskan perusahannya memiliki kemampuan produksi bus sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pemakaian angkutan umum di dalam negeri. 

Dijelaskan, dengan produksi yang terintegrasi dari hulu ke hilir, Texmaco mampu membuat bus dengan harga yang bersaing atau bahkan lebih murah. Pada saat yang bersamaan, kualitasnya bisa diandalkan karena baik mesin maupun transmisinya sudah mendapat lisensi dari pemain otomotif dunia, seperti Styer. Ia juga heran bila ada pihak yang masih menyangsikan bahwa produknya tidak berkualitas. 

Ditambahkan, perusahaannya menargetkan pada tahun 2005 – pemakaian komponen lokal pada produk otomotif Perkasa mencapai 90%. Saat ini baru mencapai 75%. Dengan komponen lokal, ia merasa yakin bisa bersaing dengan kendaraan sejenis. 

Saat ini saja perusahaannya telah memproduksi sekitar 12.000 unit per tahun. Namun hanya 4-5% yang bisa dimanfaatkan.Padahal, permintaan dari pengusaha dalam negeri cukup tinggi. Mencapai 50 unit per bulan. Salah satu kendalanya adalah belum memiliki modal kerja yang cukup untuk membiayai produksi sehingga harus mengandalkan biaya dari konsumen. 

Sayang , Organda malah berencana untuk mengimpor bus-bus buatan Hyundai untuk peremajaan bus di Jakarta. Dana itu rencananya akan diambilkan dari dana kompensasi BBM, yaitu sekitar 178 miliar. 

Namun , Menteri Perhubungan, Agum Gumelar malah menentang keinginan tersebut. Menurut Agum, pengadaan bus dari dana kompensasi BBM hanya bisa dilakukan melalui tender degan prioritas perusahaan dalam negeri. 

Gaikindo (Gabungan industri kendaraan Indonesia) melalui Ketua Umumnya juga menyatakan ketidaksetujuannya. Tenderkan saja, berapa bus yang dibutuhkan dan harganya. Jadi, industri dalam negeri juga bisa ikut. Dengan kata lain berilah kesempatan industri dalam negeri untuk berkarya. Kalau di negaranya sendiri saja tak dikasih kesempatan, apatah lagi di negara orang?.