Strategi Ketahanan Bisnis UKM 

Menurut Eriyatno, ketahanan bisnis dan UKM, termasuk usaha mikro, dicirikan oleh tingginya pemakaian modal sendiri (self finance) dan penerapan pengetahuan dan kebiasaan lokal (indigenous knowledge). Selain itu, juga disebabkan faktor kedekatan terhadap konsumen/pasar dan terhadap bahan baku (material) sehingga biaya transportasi dan transaksi menjadi kecil. 

Lalu, bagaimana jika pihak UKM ingin melakukan perluasan pasar dan diversifikasi produk ?. Rumusnya adalah, lanjut Eriyatno, UKM perlu input luar khususnya didalam aspek teknologi maupun output pembiayaan usaha. Nah, jika itu dilakukan, UKM itu bisa dikategorikan sebagai UKM berbasis teknologi (technology based small-and-medium enterprises). Dampaknya, yaitu berupa ketergantungan pada sumberdaya teknologi luar, seperti litbang maupun perguruan tinggi. Sementara itu, aspek pembiayaan usaha eksternal juga dapat menjadi kendala berikutnya, yaitu berupa ketergantungan pada pihak luar dan berdampak pada pengurangan ketahanan bisnis UKM. 

Indigenous Knowledge

Sumberdaya teknologi untuk UKM dapat dikategorikan sebagai pengetahuan lokal (indigenous knowledge) dan atau pengetahuan eksternal yang dengan melalui proses diseminasi serta pelatihan teknis kemudian menjadi produk bisnis UKM itu sendiri. 

Karena indigenous knowledge itulah, menurut Eri, pihak UKM bisa mendapatkannya melalui pengawasan, penelitian terapan mandiri, keterampilan yang diturunkan maupun budaya teknologi setempat. “Hal itu membuat hampir tidak ada biaya alih teknologi”, kata Eri,”namun, meski demikian ia mempunyai keterbatasan waktu dan tempat”. 

Sembari mencontohkan pengusaha jamu gendong dan warung tegal (warteg), Eri menunjukkan justru karena indigenous knowledge-lah, yang didukung kemantapan pasar lokal dan sumberdaya manusia yang produktif, UKM tradisional itu mampu bertahan dari gejolak atau deviasi ekonomi makro. 

Gagal Teknologi 

Meski indigenous knowledge memiliki keunggulan, pihak UKM tetap akan sulit berkembang atau dikembangkan, tegas Eri. Solusinya adalah dengan adanya input sumberdaya teknologi eksternal. Apalagi kita semua sadar, lanjut Eri, bahwa selera konsumen yang berubah, kebiasaan bisnis dan struktur pasar yang baru tidak bisa diadaptasi lagi tanpa introduksi teknologi baru. 

Hal krusial berupa gagal teknologi, pada saat UKM menyerap input teknologi luar, terjadi manakala tiadanya dukungan sistem pembiayaan teknologi UKM yang positif (karena seringkali diperlukan sejumlah biaya (cost) yang seringkali berada di atas sejumlah benefit (manfaat) jangka pendek yang mereka dapat). Disinilah peran pakar dan lembaga pengembang teknologi (PT, BPPT, LIPI, dan lain-lain) harus ditingkatkan untuk mengurangi resiko kegagalan sekaligus merendahkan ongkos diseminasi teknologi ke UKM. 

Solusi 

Untuk persoalan SDM, Eriyatno mengusulkan pengerahan bantuan dari para pakar dan kaum profesional di bidang teknologi. Bahkan ia mengungkap, saat ini, katanya, ada sekitar 500 doktor yang sebagian besar siap membantu pengembangan UKM. 

Tentang masalah sumberdaya informasi (SDI), Eri menyatakan UKM bisa memanfaatkan berbagai aplikasi teknologi informasi seperti web site dan e-mail sebagai sarana transaksi dan publikasi. Meski ada kendala yang dihadapi, yakni aktualisasi dan akurasi basis data UKM yang perlu disempurnakan. 

Sementara tentang SDF (sumberdaya finansial), Eri secara terbuka menyatakan belum ada jalan terbaik. Dalam satu dialog, Eri mendapatkan fakta bahwa 50% masalah bersumber dari perbankan, terutama pada : tingginya nilai agunan/penjaminan, tingginya bunga kredit dan proses berbelit-belit, lama dan ketidakramahan petugas. Solusinya, kata Eri, pihak pemerintah harus meningkatkan anggarannya bagi UKM unggulan di daerah agar dapat meningkatkan riset dan pengembangan serta diseminasi teknologi.

Pencarian artikel ini: