Pada akhir bulan Oktober 2005 yang lalu Thailand mengklaim bahwa tim peneliti mereka berhasil menemukan dan mempatenkan sekuens gen pada beras beraroma (Asian News Network, 30/10/2005). Paten ini didaftarkan pada awal tahun 2005 ini di Patent and Trademark Office Amerika Serikat. Selain itu, tim peneliti mereka yang tergabung dalam Thailand Rice Genome Project ini juga mengembangkan penanda molekuler untuk gen yang terkait dengan aroma dengan sebutan ‘Aromaker’.

Hal ini tentu saja cukup mengejutkan berhubung Thailand sebagai negara yang mempatenkannya, sering dianggap tertinggal dalam bidang bioteknologinya. Selain itu juga, sampai saat ini peneliti-peneliti dunia yang cukup intensif mempelajari gen yang terkait dengan beras beraroma, belum berani berspekulasi memastikan jenis gen yang berperanan dalam memberikan aroma pada beras, apalagi sampai mempatenkannya.

Beras beraroma atau pada berbagai tulisan ilmiah lebih umum disebut dengan ‘aromatic rice’, awalnya ditemukan pada beras jasmine dari Thailand dan beras basmati dari India. Beras jasmine, khususnya varietas Khao Dawk Mali 105, sebagaimana dilaporkan di dalam Japanese Agriculture Research Quarterly edisi 38 tahun 2004, oleh kelompok peneliti yang dipimpin peneliti dari Jepang, Dr. Tadashi Yoshihashi, memiliki kandungan senyawa 2AP (2-acetyl-1-pyrroline) yang tinggi. Senyawa ini banyak diketemukan pada berbagai produk pertanian dan berperan dalam memberikan aroma makanan yang enak.

Kandungan senyawa 2AP ini, diduga, dikendalikan oleh gen resesif yang disebut gen ‘fgr’ yang merupakan singkatan dari ‘fragrance’ yang bermakna sama dengan aroma. Gen ini ditemukan pada kromosom nomor 8 dari 12 kromosom yang dimiliki padi, sebagaimana dilaporkan di dalam Plant Biotechnology Journal edisi 3 tahun 2005 oleh kelompok peneliti dari Australia yang dipimpin oleh Prof. Dr. Robert J. Henry.

Thailand, sebagai salah satu negara yang turut berpartisipasi dalam kolaborasi internasional sekuensing genom pada tanaman padi (IRGSP), sejak 1999, bersama dengan Kanada bertanggung jawab mengungkap sekuens gen pada kromosom nomor 9. Dalam proyek tersebut pemerintah Thailand membentuk Thailand Rice Genome Project, yang merupakan kerja sama antara National Center for Genetic Engineering and Biotechnology – Thailand (BIOTEC) dengan Kasesart University – Thailand. Setidaknya 600 kb pengkode 40 gen, dari kromosom terpendek kedua di antara ke-12 kromosom tanaman padi, dikuasai oleh tim peneliti dari Thailand ini. Dan keseluruhan sekuens gen pada ke-12 kromosom ini termasuk kromosom nomor 9, telah bisa diakses secara terbuka dari berbagai sumber basis data genbank.

Bukan tidak mungkin di antara gen-gen yang dipelajari Thailand, ada yang turut berperanan menginduksi aktivitas (upregulate) dari gen pengendali aroma beras. Namun sekuens gen manakah yang dipatenkan oleh Thailand belum dijelaskan secara spesifik dan publikasi ilmiah mengenai hal ini dari kelompok peneliti Thailand belum diungkapkan secara jelas.

Terlepas dari sekuens gen manakah yang dipatenkan oleh Thailand, beras beraroma pernah mencatatkan sejarah kontroversi pembajakan biohayati (biopiracy). Pada tahun 2000, padi jenis baru yang termasuk kategori beras beraroma, hasil keturunan persilangan beras jasmine – Thailand dengan varietas lokal, dipatenkan oleh salah satu perusahaan global dari Amerika Serikat. Demikian juga beras basmati – India tak luput mengalami hal yang sama. Tentu saja hal ini menuai protes dari masyarakat Thailand dan India (Asia Times, 2/5/2000). Pengalaman ini tentunya memberikan dorongan tersendiri bagi Thailand untuk segera melindungi kekayaan biohayati beras beraromanya, dengan mempatenkan temuannya yang terkait dengan sekuens gen pengendali aroma pada beras.

Artikel terkait :

  1. Beras Bervitamin A, Tanaman Transgenik Baru yang Melirik Asia Itulah hasil penelitian yang diperoleh dari peneliti-peneliti di Inggris dengan sponsor perusahaan raksasa bioteknologi Syngenta. Beras tersebut diberi nama Golden Rice (Beras...
  2. Pengembangan Padi Hibrida untuk Meningkatkan Produksi Beras Sampai saat ini, nasi masih merupakan pangan utama bagi penduduk Indonesia.  Konsumsi beras penduduk Indonesia masih mencapai 559 gram (setara...
  3. Tragedi Tsunami: Belajar dari Thailand “Not all the Injustice accompanying the tsunami can be blamed on Mother Nature” (Editorial Bangkok Post, 23 Desember 2006) Thailand...
  4. Terungkap Kode Genome Padi Tim peneliti internasional berhasil menyelesaikan “sequencing” genome padi, demikian laporan Japan Times beberapa waktu lalu. Sebuah pencapaian yang dapat mengarah...
  5. Biaya Produksi Kentang Lebih Murah Daripada Menanam Padi Belum lagi harga BBM naik, masyarakat kita sudah dihebohkan dengan naiknya harga beras di sejumlah pasar tradisional yang membuat resah...