Bioteknologi Indonesia sudah memiliki tempat untuk penelitian mulai dari yang “terpadu” seperti Puspiptek Serpong (BPPT & LIPI), Cibinong Science Center (LIPI) sampai yang sporadis seperti LBM Eijkman, Pusat Studi Bioteknologi di ITB, IPB, UGM, dsb. Selain itu juga ada penelitian-penelitian untuk memecahkan masalah di lapangan yang dilakukan oleh Litbang Departemen Teknis seperti Departemen Pertanian, Departemen Kesehatan, dan sebagainya. Yang Indonesia belum punya adalah lokasi khusus yang didedikasikan untuk melakukan bisnis biotek dalam arti kegiatan penelitian dan pengembangan yang berorientasi untuk bisnis. Untuk itu, kehadiran Bio-island dengan visi untuk menjadi tempat bisnis biotek sangat diharapkan di Indonesia. Dengan kata lain, apabila Bio-island tidak memfokuskan pada sisi ini (bisnis) maka keberadaannya di Indonesia menjadi kurang menarik dengan kondisi yang mulai dari nol dan berada jauh dari pusat-pusat pengembangan biotek yang sudah ada (Pulau Jawa) (Witarto, Suara Pembaruan 31/10/2003). 

Setelah mempersiapkan fasilitas fisik, Bio-island perlu menghidupkan fasilitas itu dengan aktivitas awal yang akan menjadi magnet untuk investor atau pelaku bisnis biotek (perusahaan, peneliti, dsb) berminat melakukan pekerjaannya di pulau ini. Aktivitas awal ini haruslah kegiatan yang sangat menonjol orientasinya untuk bisnis biotek, tidak sekedar melakukan penelitian/pengembangan yang sudah lazim dilakukan dalam 20 tahun lebih perjalanan biotek Indonesia. Kekuatan Indonesia yang perlu dimanfaatkan adalah “sumber daya hayati (SDH) yang melimpah” dan “sumber daya manusia (SDM) peneliti biotek yang mumpuni”. Pengelola Bio-island harus bekerja keras untuk mengumpulkan sebanyak mungkin SDH yang berpotensi untuk aplikasi biotek (misal koleksi kultur/CC mikroba, dsb) dalam waktu kurang dari 5 tahun. Sebagaimana diketahui, karena tidak ada koordinasi yang kuat dari Pemerintah, sampai saat ini Indonesia belum memiliki CC terpusat kecuali beberapa CC lokal yang kemudian berusaha membentuk jejaring. Kemampuan SDM biotek Indonesia perlu juga diperhitungkan dan diberikan kesempatan. Menurut beberapa pengamatan, tidak sedikit individu-individu peneliti biotek Indonesia yang sudah memulai penelitian dan kemampuan yang sangat dekat dengan tahapan bisnis biotek. Pada tahun 2003, Fraunhofer Society dan DAAD Jerman berinisiatif memberikan “technopreneur awards” kepada peneliti biotek Indonesia. 

Kebijakan apa yang kira-kira dapat menarik orang/peneliti Indonesia dengan potensi bisnis biotek, mau memindahkan usaha yang merupakan curahan seluruh energinya itu ke sebuah pulau yang belum berkembang sama sekali (tidak ada fasilitas untuk keluarga, sekolah anak, kesehatan, rekreasi dsb)? Tidak ada lain, kecuali dukungan yang menyeluruh dari Pengelola Bio-island bahwa usaha bisnis bioteknya itu akan berkembang lebih lancar di pulau ini. Dukungan itu mulai dari fasilitas penelitian (laboratorium yang lengkap), dana penelitian (berbentuk pinjaman lunak atau grant), akses ke SDH dan akses ke pasar biotek dunia/nasional. Pengelola Bio-island perlu mengundang, melalui tawaran terbuka ke mass media, dsb kepada para peneliti biotek yang memiliki kemampuan itu. Proposal diseleksi lalu diklasifikasi berdasar kesiapan dan kelayakan untuk bisnis biotek. Berdasar laporan jurnal Nature Biotechnology edisi Bioentrepreneurship (1999), usaha bisnis biotek dapat dikategorikan dari yang masih tahap early technical dengan karakter masih menjelaskan satu prinsip (misalnya pencarian protein hormon dalam tahapan diferensiasi stem cell), lalu tahap second-stage technical yang sudah mulai menciptakan satu prototipe atau memecahkan satu tantangan teknis (misal satu teknik untuk melakukan site-directed mutagenesis yang lebih efektif/singkat, cepat, akurat), kemudian tahap execution yang sudah dapat memproduksi produk (misal sudah dalam bentuk kit), kemudian terakhir tahap market dimana tinggal produksi akhir dan pemasaran/advertisement. Dalam seleksi ini, pengelola Bio-island dapat juga mempertimbangkan kesiapan calon pengisi fasilitas yang diharapkan akan jadi small success story Bio-island itu dari kesiapan partner bisnisnya, seperti sudah adanya perusahaan yang bersedia menampung produk/servis biotek yang dikembangkan (baik di dalam atau luar negeri). 

Jenis bisnis biotek yang paling potensial di awal aktivitas Bio-island adalah model-model bisnis biotek yang dilakukan dalam skala kecil serta dimotori oleh 1-2 orang tenaga ahli sebagai pemimpinnya, daripada yang dilakukan dalam kelompok besar. Karena model bisnis ventura ini lebih gesit, cepat beradaptasi dengan perkembangan dalam persaingan bisnis biotek yang ketat dan bisa fokus pada satu target produk/servis. Pengelola Bio-island tidak perlu membatasi topik apa yang akan dilakukan sesuai dengan kebutuhan Indonesia karena pasar produk/servis biotek bersifat global dan bersaing berdasar mutu. Misalnya, walaupun untuk bidang kesehatan, penanggulangan penyakit infeksi sangat urgen di Indonesia, tapi tidak sedikit peluang untuk memanfaatkan SDH Indonesia untuk mencari reagen untuk diagnostik dan terapi penyakit degeneratif yang di luar negeri sangat diperhatikan saat ini. Sekali lagi, yang perlu menjadi perhatian Pengelola Bio-island hendaknya adalah orientasi bisnis dari aktivitas itu. 

Pada akhirnya, penulis sangat mengharapkan Bio-island tidak menjadi “tempat yang seperti biasa” dengan “aktivitas yang juga sudah biasa” dalam praktek biotek Indonesia selama ini. Dengan memperkokoh posisi sebagai tempat untuk bisnis biotek, barulah kehadiran Bio-island menjadi bermakna menjadi tonggak/milestone dalam perkembangan biotek Indonesia.

Pencarian artikel ini: