Para petani yang tergabung dalan KBN (Koperasi Bina Nusantara) datang ke Menristek untuk meminta kajian atau agar BPPT mengkaji apakah ada teknologi yang bisa meningkatkan kualitas hasil. Seperti teknologi jaringan atau teknologi penyeratan. 

Menurut Anwar, Ketua BKN, teknologi kultur jaringandimaksudkan agar biakan pisang dari induknya bisa memiliki kualitas yang sama dengan sang induk. Sedang untuk alat penyerat mereka membutuhkan alat manual yang bisa digunakan oleh para petani dan diharapkan hasilnya bisa sesuai dengan kehendak pasar. 

Sayangnya, hingga saat ini, BPPT hingga kini belum pernah meneliti seberapa besar manfaat penerapan kultur jaringan pada peningkatan kualitas kualitas serat pisang. Termasuk penelitian perbandingan aspek ekonomis antara serat pisang hasil kultur jaringan dan hasil pembiakan generatif. 

Dr. Wahono, Kepala Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, seperti yang ditulis Republika menjelaskan, untuk serat pisang memang belum melakukan penelitian, namun untuk kelapa sawit sudah dilakukan. 

Wahono juga menambahkan untuk secara teori kultur jaringan bisa mempertahankan kualitas hasil Karena pembiakan jaringan pada hakekatnya memperbanyak induk, sehingga sama persis dengan induknya. Berbeda dengan pembiakan generatif, yang makin lama makin berkurang kualitasnya. 

Sementara untuk pembuatan alat penyerat pada pisang abaca, BPPT hingga kini belum pernah mendesainnya. Hal ini diakui oleh Direktur Teknologi Alat dan Mesin Industri BPPT, Triadi Kaswanto. Jadi, kedatangan para petani ini nyaris tak membuahkan hasil. 

Padahal, menurut Anwar , produk serat pisang abaca ini, pembeli lokal dan eksportir saja, April bulan lalu telah menandatangani kontrak pembelian sebanyak 20.000 ton. Menurutnya ini juga merupakan program nasional, karena Bappenas telah mengeluarkan banyak dana untuk mengembangkan proyek pisang abaca. Bagaimana BPPT?.

Pencarian artikel ini: