Bencana tsunami Aceh yang disebabkan gempa tektonik di perairan sebelah barat Sumatera pada akhir Desember tahun 2004 yang lalu, masih segar terbayang dalam ingatan kita. Baru-baru ini pada pagi hari Sabtu, 27 Mei 2006, menyusul kemudian terjadi lagi gempa berskala 5,9 skala Richter yang mengguncang Yogyakarta yang terletak di perairan pantai selatan Jawa (Kompas, 28/5/2006). Dan sempat menimbulkan kekhawatiran terjadinya tsunami, meskipun hal tersebut tidak terbukti.

Bencana-bencana ini mengingatkan kita betapa pentingnya keberadaan hutan bakau (mangrove) sebagai pemecah gelombang pada wilayah pesisir pantai. Setidaknya kita melihat dan membaca bahwa pasca terjadinya bencana tsunami Aceh, Pemerintah barulah menyadari untuk mengambil tindakan rehabilitasi hutan bakau. Melalui koordinasi yang ditangani oleh Departemen Kehutanan, Pemerintah mengambil tindakan merehabilitasi hutan bakau di Aceh dengan menggunakan dana sisa GNRHL tahun sebelumnya (sumber : press release Dephut No. S.32/II/PIK-1/2005).

Perlu kita ketahui bahwa saat ini, Indonesia mempunyai hutan bakau terluas di dunia yaitu sebesar 42.550 km2 (sumber : reefbase, 2005), hanya saja sebarannya tidak merata. Terutama di daerah pantai barat pulau Sumatera dan pantai selatan Pulau Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara, hutan bakau telah banyak mengalami kerusakan dan bahkan menghilang. Tentu saja kita perlu merestorasi kembali hutan bakau ini.

Sebagai salah satu strategi restorasi hutan bakau dan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan, diperlukan adanya jenis-jenis pohon bakau cepat tumbuh (fast growing mangrove) atau mempercepat pertumbuhan pohon-pohon bakau, sambil menanti kembali pulihnya ekosistem hutan bakau secara utuh. Namun adakah jenis-jenis pohon bakau seperti ini dan bagaimana menemukannya ?

Jenis pohon bakau

Hutan bakau terdiri dari berbagai jenis pohon berkayu yang umum disebut dengan pohon bakau. Tidak kurang terdapat 70 spesies yang dikenal sebagai pohon bakau.

Menurut Tomlingson (1986), terdapat 45 spesies dominan di hutan bakau. Spesies-spesies ini terdiri dari yang 9 genus yaitu Avicennia (9 spesies), Laguncularia (11 spesies), Lumnitzera (2 spesies), Nypa (1 spesies), Bruguiera (6 spesies), Ceriops (2 spesies), Kandelia (1 spesies), Rhizopora (8 spesies), dan Sonneratia (5 spesies).

Selain itu juga terdapat beberapa genus lainnya yang relatif minor jumlahnya di dalam hutan bakau.

Gambar pohon bakau jenis Rhizopora sp. yang cukup dikenal di Indonesia, terutama tumbuh pada hutan bakau di Pulau Jawa

Lingkaran tahun

Salah satu teknik mengidentifikasi pohon bakau cepat tumbuh yaitu dengan melihat lingkaran tahun pada batang (annual ring) seperti yang dipublikasikan oleh Menezes dkk (2003) pada jurnal Wetland Ecology and Management. Sebagaimana diketahui bersama bahwa lingkaran tahun pada batang tanaman berkayu menunjukkan umur tanaman.

Menezes dkk membandingkan 39 buah pohon bakau dari spesies Rhizopora mangle yang terdapat di sebuah semenanjung di sebelah utara Brazil. Sebagaimana diketahui bahwa Brazil mempunyai luas hutan bakau sebesar 13.400 km2 dan menjadi negara yang memiliki luas hutan bakau terbesar kedua di dunia setelah Indonesia (sumber : reefbase, 2005).

Menezes dkk menemukan bahwa terdapat perbedaan rata-rata ketebalan lingkaran tahun antara satu tanaman dengan tanaman lainnya. Kemudian mereka menghubungkan dengan kecepatan pertumbuhan yang berbeda antar tanaman dalam satu spesies. Semakin tebal lingkaran tahun suatu tanaman bakau maka semakin cepat pertumbuhan tanaman bakau tersebut.

Akan tetapi terdapat kesulitan jika hanya bergantung kepada penglihatan atas lingkaran tahun dalam mengidentifikasi pohon bakau cepat tumbuh. Hal ini disebabkan adanya jenis pohon bakau yang sulit dilihat lingkaran tahunnya, seperti jenis Rhizopora mucronata yang dikemukakan oleh Verheyden dkk (2004) dari Belgia pada jurnal Annals of Botany.

Verheyden dkk mengusulkan penggunaan pewarnaan semacam polish, untuk memperjelas garis-garis lingkaran tahun, serta pengamatan mikroskopis terhadap gradien vessel pada batang.

Pencarian artikel ini: