Bagi kalangan masyarakat mungkin masih terdengar asing istilah produk transgenik ini meski tanpa disadari kita setiap hari mengkonsumsinya. Sebagai contoh : tempe yang kita makan setiap hari kacang kedelenya impor dari Amerika yang bukan mustahil kedele tersebut hasil dari produk transgenik. 

Dari segi ekonomi produk hasil rekayasa genetika ini amat menjanjikan karena berpotensi untuk mengubah gen menjadi sumber daya yang dapat digunakan untuk mencetak bentuk kehidupan baru. Teknologi ini memang mahal, karena itu kendali saat ini tetap berada di tangan perusahaan multinasional yang mengarahkan penelitian dan pemasaran produk untuk meraup keuntungan. Oleh karena itu perkembangan Bioteknologi modern terletak pada seberapa jauh proses itu dipengaruhi pihak luar , dalam hal ini termasuk siapa pemodal serta bagaimana dan ke arah mana proses itu ditujukan. 

Tak heran disini bisa terjadi kolusi antara ilmu dengan kepentingan ekonomi segelintir perusahaan di dunia. Akhirnya terjadilah pro kontra antara ilmuwan, di satu pihak masih memikirkan tentang perlunya kehati-hatian karena belum dapat dijamin tingkat keamanannya sementara yang lain menganggap transgenik sebagai alat utama untuk menyelesaikan persoalan pangan dan kesehatan. 

Sementara saat ini produknya sudah hadir dan mempengaruhi berbagai bidang kehidupan manusia sementara analisis dan penanganan resiko belum dikembangkan dengan sempurna. Persoalannya teknologi ini amat berbeda dengan teknologi yang ada selama ini. Karena ia menggunakan makhluk hidup baru sebagai bahan baku dan memanipulasinya pada tingkat unit kehidupan terkecil yaitu gen dan DNA. Kemudian melepaskannya ke alam sebagai “makhluk hidup” atau produk berbasis hayati. Sekali dilepas ke alam layaknya makhluk hidup , transgenik akan berinteraksi dengan lingkungan, bereproduksi, bermigrasi, dll. Dari sini timbul pertanyaan tentang dampaknya pada ekosistem. 

Berbeda dengan pencemaran bahan kimia (yang dapat dicairkan) atau radioaktif (yang mempunyai paruh waktu), pelepasan rekayasa ke lingkungan tidak dapat dikendalikan atau ditarik kembali. Karena itu di sini peran Pemerintah amat penting terutama untuk melindungi masyarakat dari ketidaktahuannya tentang suatu produk yang di lempar ke pasaran. Apakah ini transgenik atau bukan. Namun kita juga tidak memungkiri penigkatan produksi pangan saat ini salah satunya ya karena produk transgenik itu. 

Sampai berakhirnya acara seminar ini belum ada kejelasan sikap dari Pemerintah apakah akan meratifikasi produk hasil pengembangan teknologi rekayasa genetika atau tidak. Karena dari kalangan Pemerintah sendiri ternyata masih perlu waktu meski peredarannya sebagian sudah ada di masyarakat. Dan perlu tidaknya meratifikasi sebaiknya bukan hasil dari segelintir pihak yang berkepentingan, namun seharusnya juga melibatkan wakil masyarakat sebagai konsumen pemakainya karena merekalah yang merasakan dampaknya secara langsung. Kita tunggu saja hasilnya.

Pencarian artikel ini: