Radiasi akibat ledakan Reaktor Nuklir Chernobyl, Ukraina berdampak buruk terhadap kehidupan fauna disekitarnya. Keadaannya malah jauh lebih buruk dari yang diperkirakan selama ini, demikian hasil sebuah studi menunjukkan belum lama ini. Hasil penelitian ini bertentangan dengan kayakinan bahwa kehidupan hewan liar setempat telah normal.
Studi tersebut menunjukkan bahwa jumlah lebah, kupu-kupu, cicak, belalang dan hewan-hewan lainnya, jumlahnya lebih sedikit di kawasan-kawasan yang tercemar dibanding wilayah-wilayah lain. Keadaan itu akibat tingginya level radiasi yang masih menyelimuti akibat ledakan yang terjadi lebih dari 20 tahun silam itu.
Temuan tersebut menentang hasil riset sebelumnya yang mengasumsikan bahwa populasi hewan telah normal di seputar tempat ledakan Chernobyl di Ukraina, yang dulu sempat memaksa ribuan hewan mati atau mengungsi meninggalkan habitat mereka dan menjauhi kawasan tersebut.
Menurut prakirakan jumlah kematian langsung yang berkaitan dengan insiden tersebut sangat beragam. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan jumlahnya sekitar 9.000 ekor sementara kelompok lingkungan hidup, Greenpeace, meperkirakan jumlah kematian mencapai 93.000 ekor.
“Kami heran melihat belum adanya dilakukan serangkaian studi tentang masalah ini”, ujar Anders Moller, seorang periset di National Centre untuk Scientific Research di Perancis yang mengepalai penelitian tersebut. “Baru kamilah yang pertama kalinya melakukan penelitian yang menfokuskan pada populasi hewan yang masih tersisa di kawasan itu”, katanya lagi.
Kalangan peneliti mengatakan mereka telah membandingkan populasi hewan di bebagai kawasan yang mengandung radioaktif dengan tempat-tempat yang tidak begitu tercemar radioaktif dan hasilnya mereka temukan bahwa sejumlah kawasan nyaris sepenuhnya tidak ada lagi hewan hidup.
Ada berbagai kawasan dengan jumlah hewan melimpah mencapai rata-rata 100 ekor per meter persegi.
Kemudian ada sejumlah kawasan tak sampai satu ekor setiap jenis hewan rata-rata per meter per segi, hal yang sama juga terjadi bagi semua spesies hewan lainnya.
Kalangan peneliti juga menemukan, hewan-hewan yang tingal dekat reaktor nuklir Chernobyl, yang meliputi kawasan yang tempo hari sempat saat memasukinya harus memakai alat pelindung setelah terjadinya ledakan pada April 1986, memiliki lebih banyak hewan cacat, termasuk perubahan warna dan mengalami cacat, dibanding yang normal. Biasanya hewan-hewan yang cacat makannya lebih cepat. Ini tampaknya ada kaitannya karena hewan-hewan tersebut lebih susah lari menyelamatkan diri.
“Kami menemukan tingginya jumlah hewan yang cacat adalah akibat insiden tersebut”, ujarnya.
Temuan-temuan tersebut mementang pandangan bahwa peristiwa Chernobyl tidak berdampak buruk secara ekologi, kendati kenyataan bahwa kalangan pejabat Ukraina telah berhasil memulihkan kelasterian alam seperti serigala, bison dan beruang. Menurut Moller, hasil penelitian sebelumnya di kawasan itu mengabaikan fakta bahwa populasi hewan telah tumbuh tak terhalangi akibat ketidak hadiran manusia selama sekitan tahun setelah terjadinya ledakan tersebut.
“Kami ingin mengajukan sebuah pertanyaan: Adakah hewan semakin banyak atau semakin sedikit jumlahnya di kawasan-kawasan yang tercemar? Jelas, jumlahnya semakin sedikit”, ujar Moller yang telah bekerja di Chernobyl sejak tahun 1991 itu.
Sementara para peniliti lebih memusatkan perhatiannya pada radius 300 kilometer dari reaktor nuklir Chernobyl, jatuhan ledakan tersebut meliputi wilayah yang sangat luas di Eropa Timur yang juga meliputi wilayah Rusia dan Belarus.
sumber :analisadaily.com
Artikel terkait :
- Kapas Transgenik, Masih Belum Ada Titik Temu Nampaknya soal kapas transgenik ini masih berlarut-larut. Dari Seminar, diskusi, sampai ulasan di berbagai media. Nyatanya masih tetap saja timbul...
- Ledakan bisnis e-commerce di Indonesia 2003 Apabila pemulihan krisis ekonomi Indonesia berjalan dengan memuaskan maka pada tahun 2003 mendatang bisnis lewat Internet atau e-commerce akan meledak...
- Manfaat Air Dalam Kehidupan Seluruh makhluk hidup yang ada di bumi pasti menbutuhkan air. Air bisa dikatakan sebagai sumber kehidupan. Banyak manfaat yang diberikan...
- Reaktor Biogas Skala Kecil/Menengah Krisis energi yang dipicu naiknya harga minyak dunia (pernah mencapai US$ 70/barrel) tak pelak turut menghimpit kehidupan masyarakat berbagai lapisan...
- Benarkah Indonesia Dulunya Merupakan Wilayah Kerajaan Atlantis? (part 2) Awal tahun ‘70-an disekitar kepulauan Yasuel Samudera Atlantik, sekelompok peneliti telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter...



