Nampaknya soal kapas transgenik ini masih berlarut-larut. Dari Seminar, diskusi, sampai ulasan di berbagai media. Nyatanya masih tetap saja timbul pro – kontra dan membuat bingung. Bagaimana kelanjutannya?. 

Mentan Bungaran baru saja mengeluarkan SK soal pelepasan secara terbatas kapas transgenik Bt 5690B. Surat keputusan bernomor 107/Kpts/KB.430/2/2001 ini diterbitkan 7 Februari 2001. 

Menurut Bungaran sendiri ada beberapa pertimbangan sehingga SK ini keluar. 

Pertama, Sesuai dengan SK tersebut produk tanaman rekayasa genetik dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Meskipun begitu tak menutup kemungkinan mempunyai dampak negatif terhadap keanekaragaman hayati, lingkungan dan kesehatan manusia. 

Ke dua, untuk memenuhi kebutuhan kapas dalam negeri. Hal ini dipandang cocok mengingat kapas varietas unggul ini tahan terhadap hama utama kapas (Helicoverpa armigera). 

Ke tiga, berdasarkan hasil uji coba keamanan hayati, kapas transgenik ini aman terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati. Hal ini juga didasarkan atas uji adaptasi di tujuh kabupaten Sulawesi Selatan. Yaitu : Takalar, Gowa, Bantaeng, Bulumba, Bone, Soppeng dan Wajo. Kapas transgenik ini tahan terhadap hama utama kapas dan produksinya tinggi serta mutu seratnya baik. 

Dan setelah keluarnya SK ini, dua minggu kemudian lima LSM, YLKI, Yayasan Lembaga Konsumen Sulawesi Selatan, Komphalindo, PAN Indonesia dan ICEL. – berkumpul di Jakarta dan menyatakan menolak SK tersebut. 

Dari YLKI mempermasalahkan akibat yang ditimbulkan oleh kapas transgenik bila sudah dibeli dan dikonsumsi oleh konsumen. Salah satu alasannya karena gen yang telah ditambahkan dalam kapas transgenik dapat menyebabkan resistensi terhadap antibiotik. Ini pun YLKI berdasarkan informasi dari berbnagai pihak kemudian dianalisa. 

Sementara Komphalindo dan ICEL meragukan informasi yang dikatakan pemerintah. Menurutnya kalau pemerintah mengatakan aman, dokumen mana yang mengatakan aman. Mereka menginginkan ada lembaga independen yang ikut meneliti dan mengawasi. 

Selain itu, wakil dari Komphalindo, Tejo Wahyu Jatmiko mengatakan sebenarnya musuh utama hama kapas di Sulawesi adalah Empoasca. Sedang menurutnya keunggulannya terhadap hama kapas Helicoverpa armigera, kurang tepat karena di lapangan kapas Bt hanya tahan terhadap hama ini, sementara hama lainnya tidak. 

Sementara Ketua Umum Yayasan Lembaga Konsumen Sulawesi Selatan , Zohra Andi Baso mempersoalkan tidak transparannya informasi yang diberikan kepada para petani kapas di wilayah uji coba. 

Ia juga menambahkan, Pemerintah hanya memberi informasi yang bagus-bagus saja, padahal kenyataan di lapangan, kapas Bt hanya berhasil baik di kabupaten Bantaeng. 

Sementara Mentan Bungaran Saragih, tetap bersikukuh dengan keputusannya. Berdiri dibelakangnya adalah lembaga-lembaga pemerintah, BPPT, LIPI dan para akademisi. 

Bungaran juga menambahkan, di dalam SK juga sudah tercantum prinsip kehati-hatian dan pelepasan secara terbatas. Kemudian SK juga hanya berlaku setahun dan akan dievaluasi berdasarkan data dan informasi yang baru. 

Untuk pengembangannya, sementara hanya berlaku di tujuh kabupaten. 

Nampaknya perselisihan ini masih berlanjut dan belum ada titik temu. Sempat tercetus ada niat membawa ke pengadilan dari Tejo Wahyu Jatmiko. Namun, baru sebatas niat. Jadi, kelanjutannya kita lihat saja

Artikel terkait :

  1. Bibit Kapas Transgenik Bisa Di Lepas Menurut pakar Bioteknologi IPB, Dr. Ir. Dwi Andreas Santosa, Bibit kapas transgenik sebenarnya bisa dilepas secara terbatas di kawasan Sulawesi,...
  2. Panen Kapas Hasil Transgenik Di Sulawesi Selatan Makanan adalah salah satu hasil dari revolusi bioteknologi. Dan dengan inovasi bioteknologi dapat meningkatkan hasil panen dua sampai tiga kali...
  3. Setelah Kapas Transgenik Kini Giliran Jagung Meski mendapat protes keras dari sejumlah LSM, PT Monagro Kimia tetap ja;an terus. Anak perusahaan PT Monsanto yang berpusat di...
  4. Pakar Transgenik Inggris : Tidak Perlu Dikhawatirkan Penelitian terbaru yang dilakukan para pakar bioteknologi di Inggris dan didukung pemerintah Inngris, baru-baru ini menyimpulkan – bahwa tanaman hasil...
  5. Memasuki abad globalisasi produk transgenik Siapkah Indonesia ? Bagi kalangan masyarakat mungkin masih terdengar asing istilah produk transgenik ini meski tanpa disadari kita setiap hari mengkonsumsinya. Sebagai contoh...