Sejak tahun 1980-an, populasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon yang habitatnya seluas 38.543 ha, cenderung tetap, yaitu sekitar 50-60 ekor. Diduga terjadi inbreeding (kawin antar keluarga dekat) sehingga salah satu dampaknya adalah penurunan genetik.
Hal itu dikatakan oleh Kepala Balai TN (Taman Nasional) Ujung Kulon, Ir. Tri Wibowo di Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten , Selasa(3/4).
Tri menjelaskan, di India populasi badak bisa berkembang dari 20 ekor menjadi 400 ekor dalam kurun waktu sekitar 25 tahun. Dengan perkembangan sebesar ini, tentunya bisa lepas dari kepunahan. Namun, bila cenderung tetap dan bahkan menurun, maka lama kelamaan akan punah akibat perkawinan inbreding ini.
Ir. Tri mengungkapkan, pihaknya tengah mempelajari kemungkinan inbreeding ini dengan WWF. Bila benar demikian, maka kemungkinan akan ditempuh upaya perkawinan badak Jawa di Ujung Kulon ini dengan badak dari Vietnam sebagai upaya untuk meningkatkan mutu genetik badak Jawa.
Meski demikian, menurut Tri ada kemungkinan lambatnya perkembangan populasi badak Jawa ini akibat persaingan dengan satwa lain yang mempunyai jenis makanan yang sama, seperti Banteng. Menurut Tri, Banteng dan badak mempunyai makanan yang sama yaitu daun-daunan. Saat ini dapat dikatakan Banteng di Ujung Kulon berkembang pesat dengan populasinya yang mencapai 800 ekor, dan ini merupakan populasi banteng terbesar di Indonesia.
Tri menjelaskan ada beberapa kegiatan dalam pengelolaan Badak Jawa ini. Pertama, kegiatan kegiatan sensus badak Jawa di lakukan tiap tahun dengan metode penghitungan jejak pada transek atau jalur pengamatan permanen yang saat ini tercatat dengan baik titik koordinatnya. Di seluruh semenanjung Ujung Kulon terdapat 15 transek yang tembus dari utara ke selatan yang secara konsisten akan dipakai pada setiap sensus.
Tim sensus berjalan menyusuri transek masing-masing dan mengukur serta mencatat arah jejak yang ditemukan. Diharapkan dengan konsistensi metode yang digunakan dalam sensus tahunan ini, maka data kecenderungan populasi nuntuk waktu yang akan datang dapat diperoleh.
Ke dua, penggunaan kamera perangkap yang berguna untuk memantau perkembangan populasi badak secara visual. Dengan metode ini dapat dikenali individu badak jantan dan betina, dewasa dan muda.
Ke tiga, analisi genetik badak Jawa yang berguna untuk mengetahui informasi genetik badak Jawa, seperti jenis kelamin, hubungan kekerabatan satu individu dengan individu yang lain, heterozigositas, inbreeding depression, dan sistem perkawinan.
Jadi, semoga saja populasi badak yang termasuk hewan langka ini dapat dikembangkan.



