1. Kejadian di Indonesia
Penyakit bersifat universal. Biasanya terbatas di daerah-daerah Anthrax, dimana penyakit timbul secara enzootik pada saat-saat tertentu sepanjang tahun. Pada hakekatnya Anthrax adalah “Penyakit tanah” yang berati bahwa penyebabnya terdapat di dalam tanah, kemudian bersama makanan atau minuman masuk ke dalam tubuh hewan. Pada manusia infeksi dapat terjadi lewat kulit, mulut, atau pernafasan.
Anthrax banyak terdapat di daerah-daerah pertanian, di daerah-daerah tertentu yang basah dan lembab, berpaya-paya dan di daerah-daerah banjir. Di daerah-daerah tersebut Anthrax timbul secara enzootik hampir setiap tahun dengan derajat yang berbeda-beda.
Untuk Indonesia berita tentang suatu penyakit yang sangat menyerupai Anthrax pada kerbau di daerah Teluk Betung dalam “avasche Courant ” tahun 1884. Kemudian berita yang lebih jelas tentang berjangkitnya Anthrax di beberapa daerah di Indonesia diberitakan oleh Ŭolonia Verslag ¡¦antara tahun 1885 dan 1886. Kemudian antara tahun 1899 dan 1900 sampai 1914, tahun 1927 sampai 1928, tahun 1930 tercatat kejadian-kejadian Anthrax diberbagai tempat di Jawa dan luar Jawa.
Menurut SUMANEGARA 1958, kejadian Anthrax di Indonesia pada sapi, kerbau, kambing, domba dan babi antara tahun 1906 sampai 1957, terdapat di daerah-daerah :
a. Sumatra dan Kalimanta : Jambi, Palembang, Padang, Bengkulu, Buktitinggi, Sibolga dan Medan.
b. Jawa dan Madura : Jakarta, Purwakarta, Bogor, Priangan, Banten, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Surakarta, Bayumas, Madiun, dan Bojonegoro.
c. Nusa Tenggara : Di semua pulau seperti di Sumbawa, Sumba, Lombok, Flores, Timur Roti dan juga Bali.
d. Sulawesi : Sulawesi Selatan, Menado, Donggala dan Palu.
Menurut laporan tahun 1975 Anthrax hanya terdapat di 6 (enam) daerah yaitu : Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara, Sulewesi Selatan, dan Sulewesi Tenggara.
Derajat sakit (morbidity rate) tiap 100.000 populasi hewan dalam ancaman, tiap propinsi dalam tahun 1975 menunjukkan derajat yang paling tinggi di Jambi (530 tiap 100.000) dan terendah di Jawa Barat (0,1 tiap 100.000). Dari laporan itupun dapat diketahui bahwa 5 (lima) daerah mempunyai derajat sakit lebih rendah dari 15 tiap 100.000 populasi dalam ancaman dan hanya Jambi yang mempunyai angka ekstrim.
2. Hewan rentan.
Menurut penelitian, kerentanan hewan terhadap Anthrax dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut :
a. Hewan-hewan pemamah biak, terutama sapi, dan domba, kemudian kuda, rusa, kerbau dan pemamah biak liar lain, juga marmut dan mencit (mouse) sangat rentan.
b. Babi tidak begitu rentan.
c. Anjing, kucing, tikus (rat) dan sebagian besar bangsa burung, relatif tidak rentan tetapi dapat diinfeksi secara buatan.
d. Hewan-hewan berdarah dingin sama sekali rentan (not affected).



