Anthrax tidak lazim ditularkan dari hewan yang satu kepada yang lain secara langsung. Wabah Anthrax pada umumnya ada hubungannya dengan tanah netral atau berkapur yang alkalis yang menjadi daerah inkubator kuman tersebut. Di daerah-daerah tersebut spora tumbuh menjadi bentuk vegetatif bila keadaan lingkungan serasi bagi pertumbuhannya, ialah tersedianya makanan, suhu dan kelembaban tanah, serta dapat mengatasi persaingan biologik. Bila keadaan lingkungan tetap menguntungkan, kuman akan berkembang biak dan membentuk spora lebih banyak. 

Basil Anthrax berkerumun didalam jaring-jaringan hewan penderita, yang dikeluarkan melalui sekresi dan ekskresi menjelang kematian. 

Bila Anthrax mati kemudian diseksi atau termakan burung-burung atau hewan pemakan bangkai, maka sporanya dengan cepat terbentuk dan mencemari tanah sekitarnya. Bila terjadi demikian, maka menjadi sulit untuk memusnahkannya. Hal tersebut menjadi lebih sulit lagi, bila spora yang terbentuk itu tesebar oleh angin, air pengolahan tanah, rumput makanan ternak dan sebagainya. Di daerah iklim panas lalat penghisap darah antara lain jenis Tabanus dapat bertindak sebagai pemindah penyakit. 

Masa tunas Anthrax berkisar antara 1-3 hari, kadang-kadang ada yang sampai 14 hari. Infeksi alami melalui (a)saluran pencernaan, (b)saluran pernafasan, dan (c)permukaan kulit yang terluka. 

Infeksi melalui saluran pencernaan lazim ditemui pada hewan-hewan dengan tertelannya spora, meskipun demikian cara infeksi yang lainpun dapat saja terjadi. 

Pada manusia, biasanya infeksi berasal dari hewan melalui permukaan kulit yang terluka, terutama pada orang-orang yang banyak berhubungan dengan hewan. 

Infeksi melalui pernafasan mungkin terjadi pada pekerja-pekerja penyortir bulu domba (wool-sorter disease), sedangkan infeksi melalui saluran pencernaan terjadi pada orang-orang yang makan daging asal hewan penderita Anthrax.

Pencarian artikel ini: