Hal itu dikatakan pakar Bioteknologi dari Departemen Ilmu Biologi, Universitas Terbuka Inggris, dalam diskusi Bioteknologi di Jakarta, jumat (9/2) kemarin.
Dr. Mae, yang juga peneliti di Institute of Science ini Society menyatakan, dalam diskusi di kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup ini, pada prinsipnya apapun resiko dan kerusakan dari teknologi ini harus disampaikan secara ke masyarakat. Untuk menyimpulkan bahwa teknologi ini tidak berdampak pada lingkungan, tentu memerlukan uji lapangan yang tidak ringan.
Namun menurut Dr. Mae wan Wo, yang perlu ia nyatakan saat ini adalah betapa sedikitnya informasi ilmiah yang disampaikan ke publik. Ia juga mengatakan propaganda selama ini banyak dilakukan di berbagai negara hanya potensi manfaatnya saja. Padahal bukti-bukti yang ada masih sangat sederhana untuk mendukung klaim bahwa teknologi ini mengkhawatirkan ataukah aman.
Meski banyak yang menilai produk transgenik cukup menguntungkan, ada satu hal yang patut dipertimbangkan secara masak-masak, yaitu potensi bahaya yang muncul akibat pengembangannya.
Menurutnya, bukan tidak mungkin timbul sejumlah dampak yang tidak terduga dimana gen-gen asing yang teracak melalui proses transfer antar gen secara horisontal melahirkan berbagai strain virus dan bakteri baru yang dapat menyebabkan penyakit.
Mae menjelaskan dampak itu muncul antara lain karena para perekayasa tidak mampu lagi mengontrol dimana dan bagaimana gen-gen asing tersebut menyisip ke berbagai material genetik melalui makhluk hidup.
Material genetik atau DNA mampu survive di berbagai lingkungan setelah satu organisme mati. DNA juga mampu di serap oleh organisme lain, kemudian ikut melebur ke dalam material genetika organisme sehingga berpotensial melahirkan berbagai strain virus dan bakteri baru yang dapat menyebabkan penyakit.
Mae menjelaskan lebih jauh bahwa gen-gen baru yang sebagian diantaranya diambil dari virus dan bakteri, diintroduksikan ke dalam DNA tanaman atau ternak.
Gen-gen asing itu nantinya dikombinasikan menjadi satu rantai gen yang baru dan belum pernah ada sebelumnya, dengan tujuan menciptakan individu baru dengan sifat-sifat yang diinginkan.
Menurutnya Bioteknologi Rekayasa Genetika ini sendiri, bukan soal meningkatkan produksi pangan semata, tetapi lebih merupakan eksploitasi kehidupan dan sistem pendukung kehidupan demi mencari keuntungan semata. Demikian pendapat Dr. Mae Wan Ho.



